
Akhir April 2008
Aku kembali ke rumah dengan seragam putih abu- abu yang masih bersih dan rapi. Tak ada catatan dan
hura- hura. Aku pulang ke rumah dengan wujud yang sama dengan saat aku berangkat ke sekolah. Tapi perasaanku tidak sama dengan saat berangkat sekolah tadi. Aku risau. Aku tidak pernah merasakan rasa yang serisau ini sebelumnya. Aku seperti berada di ruas tebu, seperti berada di sambungan besi. Aku seperti meninggalkan suatu masa yang tidak akan pernah kembali dan segera melompat ke masa yang lain. Sebuah lompatan perjuangan, step by step kehidupan. Hidup adalah perjuangan yang tidak henti- henti.
Momen kelulusan SMA yang dahulu aku nanti.
Hari yang selalu aku hitung sejak aku pindah sekolah dahulu. Aku tunggu seakan- akan segala sakit dan sulit akan hilang, berubah menjadi kebahagiaan. Tapi ternyata tidak, tidak begitu. Aku masih terus akan berjuang, karena hidup adalah perjuangan yag tidak
henti- henti.
Aku tidak berfoto dengan teman- teman, handphone kamera sesuatu yang langka masa itu. Aku juga
tidak ikut serta makan- makan bersama teman- teman. Segera setelah nomor kelulusan diumumkan, aku ingin pulang. Tak ada pelukan perpisahan atau sekedar bersalaman. Kalau nanti rindu, kami juga tidak memiliki jejaring sosial. Menjalin hubungan sosial di internet masih awam di tahun 2008. Nomor handphone apalagi, aku tidak punya handphone. Hanya nama dan alamat yang kami ingat, kalau saja kami pulang atau suatu waktu nanti kami dapat berjumpa di lain masa.
Selamat tinggal sahabat.
Selamat tinggal persaingan. Life is competition.
Berkompetisilah kawan di belahan bumi manapun perjuangan dilanjutkan.
Kami berpisah, benar- benar berpisah. Hanya bagi mereka yang berjanji untuk melanjutkan pendidikan bersama. Berjanji akan kembali lagi bersama untuk mengikuti bimbingan belajar di kota yang sama. Pekanbaru atau Padang. Bagi yang
telah lulus PBUD, Penerimaan Bibit Unggul Daerah akan segera mengikuti pendidikan matrikulasi di universitas negeri di Pulau Jawa.
Kemana hidup akan dilanjutkan ?
Kamu akan melanjutkan pendidikan ke mana?
Pertanyaan yang pasti akan menggema di hati setiap anak SMA di seluruh Negara Indonesia, bukan hanya
di tahun 2008 tapi setiap anak SMA yang lulus dari sekolah setiap tahun kelulusan.
Tak sabar hatiku sampai di rumah, hatiku risau. Aku rindu Ayah dan aku rindu Emak. Sesampainya di rumah aku masuk ke ruang tengah, ternyata Ayah dan Emak telah ada di sana. Mereka menungguku. Aku memberikan salam dengan haru.
“ Kemana akan bimbingan belajar?” Tanya Ayah.
“ Padang. Yah” kataku. Karena aku berpikir cukup banyak anak- anak Kuantan yang kuliah di Kota Padang. Selain Padang memiliki pantai dengan senja yang sedemikian indahnya.
“ Kalau begitu besok pagi berangkatlah kesana”
“Baik Yah,” Jawabku seperti tentara yang selalu siap akan tugas dari komandannya. Padahal aku masih
kaku. Dengan siapa akan tinggal di Padang, mencari kos, mencari tempat bimbingan belajar yang baik, sendirikah ?, demi cita- cita.
“Iya Yah. Iya Mak. Doakan anakmu”
“Amin…”
“Semoga nanti bisa lulus kedokteran”
“Kedokteran di universitas negeri.” Ulang ayah lagi.
Malam itu Aku berkemas untuk berangkat ke Padang. Jarak padang dan Teluk Kuantan ditempuh bus dalam 7 jam.
***
Namanya Suryadi. Aku memanggilnya cukup dengan Adi, bukan Surya, sejak SD aku memanggilnya demikian. Kebetulan aku dengan dia tinggal satu desa, rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Bila rumahku di tepi jalan raya, maka dia lebih jauh ke arah kebun. Dan kebetulan dia juga ingin kuliah di universitas negeri. Secara kebetulan kami disatukan oleh satu tujuan, mengikuti bimbingan belajar di Padang. Maka berangkatlah aku dengan dia ke Padang, pertama kali. Kami naik bus yang penuh sesak. Kami berdiri separuh perjalanan. Satu penumpang turun dan yang lainnya bertujuan ke Padang. Satu bangku kosong. Aku duduk. Kemudian aku berbagi dengan Adi. Aku dan Adi berbagi dalam kesempitan..
Kami tersenyum lepas lega. Hati terasa lapang.
“Huuh “ Aku menghembuskan napas tertawa kepada dia.
“Inilah perjuangan “ Katanya sambil mengapit tas ransel yang penuh dan satu tas jinjingan yang
berisi pakaian. Aku juga demikian, sama. Dan sekarang, oleh masing- masing tas yang kami bawa serasa beban perjalanan di muka bumi ini begitu beratnya.
Padang, aku telah tiba. Kelokan jalan di Sitinjau Lauik laksana ular yang melilit tebing- tebing
__ADS_1
jurang, telah aku lalui. Dari gunung ke pesisir pantai, Dari hawa gunung yang sejuk sampai pesisir pantai yang panas, aku tempuh demi cita- cita.
Andai saat itu ada google map ketika itu dan dari langit perjalananku di zoom, tentulah jarak aku berjalan kaki dari Pasar Raya Padang
ke Jalan Bandar Purus adalah 2 km. Sepanjang jalan itu kami berjalan berkeliling mencari kos. Ujian hidup bukan berjalan melainkan menenteng tas.
“ Liel putus…” Kata Adi memberitahukan bahwa tas yang aku tenteng di tangan kanan talinya telah putus.
Sementara tangan kiri menenteng kotak, di punggung pun tertenteng ransel.
“Iya tanganku sangat pegal ” Jawabku, lalu kami duduk beristirahat di bagian perumahan yang teduh.
Keringat mencucur di kening. Baju pun telah basah oleh hawa Padang yang panas sekitar jam 2 siang.
“Adi kakimu luka.” Aku lihat kaki Adi luka oleh sandal jepitnya yang terlalu keras atau entah terlalu
jauh berjalan mengelilingi komplek perumahan di sekitar tempat bimbingan belajar kami.
Sesekali kami berhenti di rumah yang dicurigai sebagai tempat kos, menanyakan harga, menimbang harga yang cocok, bila tidak cocok di hati maka kami berjalan kembali. Maklum saja, pemilik kos tahu bahwa anak yang menyewa dalam rangka bimbingan belajar hanya sementara. Oleh karena itu harga ditarik lebih dari biasanya. Oleh karena itu kos sulit untuk cocok dengan ukuran ekonomi Aku dengan Adi, dengan prediksi tabunganku untuk biaya bimbingan belajar. Tapi menjelang sore kami harus
mendapatkan kos. Tempat istirahat malam ini.
Ada jembatan di sekitar persimpangan. Di pusat Kota Padang orang- orang begitu kreatif memamfaatkan
lahannya. Selokan jalan di buat sangat besar, bahkan besarnya dapat menampung sebuah mobil kalau tercebur ke dalamnya. Selokan itu di jadikan tempat
berjualan oleh orang- orang. Ada satu kios kecil yang dibuat dengan menegakkan papan- papan diatas selokan, di situ kami beristirahat.
Pemilik kios tersebut adalah seorang ibu paruh baya.
“Dari kampuang?” Tanya ibu tersebut.
“Iyo Buk”
“Anak bimbel yang di Jalan Belakang Olo?”
“Ooh, sudah dapek kos?” Tanyanya kembali.
“Ibu punya tempat kos di belakang”
“Iyo ?”
“Iyo masih kosong.”
“Mau lihat ?”
“Buliah Buk.” Jawab Aku dan Adi serempak. Kami semangat mendengar kata kosong. Biasanya permintaan yang rendah akan menawarkan harga yang tidak begitu tinggi.
Dari Jalan Bandar Purus kami mengikuti Ibu itu berjalan menuju bangunan besar nan megah. Sempat aku berpikir bahwa gedung besar itu adalah kos yang dimaksudnya. Ternyata tidak, ada satu celah sempit diantara dua gedung. Pas untuk satu badan melaluinya. Dan ternyata di belakang bangunan besar itu ada perumahan- perumahan yang sempit,
juga gang- gang dengan rumah yang bertingkat sederhana. Dan kami sampai di
sebuah rumah biasa dan kecil.
“ Kosnya di sini” Tunjuk ibu itu. Ia menuju ke bagian samping rumah. Kami memasuki sebuah pintu.
Kami menelusuri lorong- lorong gelap. Aku bergidik memasukinya. Kamar- kamar di koridor itu gelap. Semua kamar kosong. Di ujung ada berkas cahaya dari atas, dari tangga. Ada tangga.
“Jangan- jangan angker liel. “ Bisik Adi.
“Ah, jangan berpikir kesitu dulu.”
Ternyata di luar dugaan. Pada bagian belakang rumah ini ada kamar atas. Ada dua buah kamar di
bagian atas. Kamar atas yang tersembunyi oleh gedung- gedung besar. Posisi yang
rahasia.
“Kamar di bawah tidak ada yang mengisi” Jelas Ibu itu.
__ADS_1
“Padahal dulu ramai”
“Kenapa bu?”
“Kalian lihat tadi dinding- dinding di bawah retak oleh gempa tahun lalu.”
“Belum ada uang untuk merenovasi. Apalagi orang- orang yang disebelah, seenaknya membuat bangunan tingi- tinggi” Keluh Ibu itu.
“Oh begitu bu.”
“Begitulah, kalian di atas saja.”
“Berapa Bu ?”
“Empat Ratus Ribu” Jawabnya dengan harga Rp 400.000,00 untuk tahun 2008.
“Mmm…” Aku menatap Adi. Harga kos untuk kamar sekelas ini adalah Rp 150.000,00. Bila diisi kami berdua maka total biaya adalah Rp 300.000, 00.
Sepertiga lebih mahal dari harga biasanya.
“Hari mau malam Liel” Kata Adi. Aku sadar hari mau malam.
“Ya ” Aku melihat kondisi kamar. Cukup luas bila diisi berdua, ukurannya 3x4 meter, tanpa karpet,
tanpa gorden, tanpa lampu.
“Bisa lebih murah Bu?” Aku menawar.
“Bisa berapa ?” Ibu itu bertanya sampai dimana tawaranku.
“Tiga Ratus Ribu.“ Jawabku.
“Tidak. Tiga Ratus Tujuh Puluh Ribu Saja Perbulan.” Jawabnya. Kemudian Ibu Kos itu melanjutkan, “
untuk bulan depan bila tidak penuh dapat dihitung perminggu.” Sebuah keunggulan yang ia berikan.
“Ooo”
“Liel ?“ Tanya Adi.
“Baiklah.” Kami setuju dengan harga Rp 370.000, 00/ Bulan ditambah dua minggu kedepan Rp 185.000, 00
dibayar nanti.
Akhirnya kami menyetujui kesepakatan ini. Kami mengambil sewa kamar yang paling dekat dengan
tangga. Alasannya kamar mandi hanya ada satu, di lantai bawah, di lantai bawah yang gelap dan penuh dengan kamar- kamar kosong.
Maka senja itu kami bergotong royong membersihkan kamar baru kami. Kamar yang telah setahun tidak ada penghuni. Ibu kos membekali kami dengan karpet. Pada cahaya matahari senja
kami menepuk karpet itu. Debu- debu berhamburan. Kami menyapu lantai dan juga mengelap kaca. Terakhir kami juga membeli lampu untuk penerangan belajar malam, apabila malam datang kami belajar- dan belajar rencananya.
Sekarang kamar kami sudah rapi. Karpet lama pemberian ibu kos kami alas dengan kain panjang yang dibawa dari kampung. Barang- barang bawaan telah tersusun rapi. Bantal tidak ada, kami menggantinya dengan tas yang berisi baju- baju. Jadilah tempat istirahat kami malam ini setelah menjalani hari yang paling lelah dalam hidup
kami. Dua anak kampung yang pertama kali ke kota.
Tapi sialnya malam itu, tidak sesuai rencana kami. Kos yang sudah lama tidak di sewa oleh orang
tersebut, memiliki banyak pengganggu. Mereka datang menganggu kami setelah malam datang. Siapakah mereka para pengganggu itu ?
Makhluk- makhluk dari alam lain ?
Bukan. Mereka mengisap darah kami. Sebangsa Drakulakah ?
Bukan. Makhluk itu adalah nyamuk. Maka berperanglah aku bersama Adi melawan pasukan nyamuk. Setiap ditepuk, nyamuk tersebut menyisakan titik- titik merah di telapak tangan kami.
Percikan itu kami oleskan ke dinding. Adi memilikin ide yang brilian. Dia menggoreskan darah di dinding menjadi sebentuk tulisan merah.
“NYAMUK KALIAN PERGI ATAU MATI “
__ADS_1