ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Anak Ajaib Pemetik Bintang 2


__ADS_3

Labi-labi menurunkan Aku dan Ayah di gerbang selatan Darussalam, gerbang Fakultas Kedokteran yangmenuju ke perkampungan Limpok. Kemudian kami mesti berjalan menuju kos, dengan


langkah yang gontai, wajah yang penuh beban, tak perlu mahasiswa psikologi, mahasiswa pertanian pun tahu bahwa kami, dua anak beranak tengah menghadapi masalah yang besar.


Nama mahasiswa itu adalah Muhammad Sahim. Aku memanggilnya Bang Sahim. Dia adalah mahasiswa


pertanian tingkat akhir yang tinggal di kamar besar di depan kamarku.  Bang sahim adalah juga orang yang paling dituakan di kos ini. Dialah yang pertama kali ingin tahu apa yang telah terjadi pada kami, sesampainya Aku dan Ayah di kos. Setelah kami berkenalan dengan lembut hati ia bertanya permasalahan apa yang tengah kami hadapi. Kepadanya ayah bercerita.


“Demikianlah ceritanya, Nak. Begitu alasan kami sampai kemari”


“Perjalanan Bapak dan Adik begitu mengingatkan saya pada Almarhum ayah saya” Bang Sahim tersentuh.


“Maafkan kami …,”


dengan cepat Ayah meminta maaf.


“Tidak apa-apa Pak,”


Bang Sahim tersenyum pelan,” kebetulan saya aktif di BEM Fakultas. Saya akan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan Bapak dan Adik.”


“Terima kasih Nak.”


Mata Ayah berbinar menemukan secercah harapan.


“Saya berjanji secepatnya,” janji Bang Sahim,” kapan tes buta warna?”


“Minggu depan Bang.”

__ADS_1


“Secepatnya Dik.”


Kini Aku dan Ayah telah membagi beban hati kepada orang- orang di kos yang kami tinggali karena telah


berkenalan dan mulai akrab. Pun kos yang kami tinggali telah mula ramai.


Orang-orang telah berdatangan selepas libur semester, begitu juga dengan mahasiswa baru. Bang Boby telah menyewa kamar bersama Iwan, mahasiswa baru yang kebetulan datang ketika kami pergi. Sementara di kamar yang berukuran besar


telah datang satu per satu mahasiswa lama. Semua telah mengerti permasalahan apa yang tengah kami hadapi. Mahasiswa disini tahu bahwa aku adalah calon mahasiswa kedokteran yang dapat dieliminasi apabila gagal membaca angka- angka


dalam sebuah buku penuh warna bernama Ishihara.


***


Hari ini adalah Hari Jumat pertama aku berada di Banda Aceh, di kawasan Darussalam. Artinya tepat


Di tengah azan berkumandang Aku dan Ayah berjalan mencari asal suara, tempat dimana mesjid berada. Kami baru pertama kali disini, belum hapal peta jalanan kampus. Dan ketika kami berjalan, Aku dan Ayah masih bertengkar. Haluan kami masih bercabang. Ayah tetap bersikeras agar Aku melanjutkan kuliah di pendidikan dokter. Sedang


Aku, semangatku yang sedari awal menggebu kini raut entah kemana. Tinggal seujung tanduk yang tersisa. Aku ingin mundur tapi tidak tahu entah kemana.


Dihatiku hanya ada ke-pede-an yang berlebih, bahwa apapun yang aku pilih akan mengantarkan masa depan yang cerah. Aku pikir sukses sedemikian mudahnya.


Di sebelah kananku ada trotoar, Ayah berjalan disitu. Di sebelah kiriku ada kanal, dalamnya setinggi badan. Diantara keduanya ada batas trotoar setinggi jengkal. Aku berjalan di batas trotoar dengan kanal itu, meniti selayaknya kucing yang melangkah cepat.


Melangkah meniti lurusnya perjalanan nasib. Lupa pada takut. Sedang dikiriku ada kanal yang bisa menjadi tempat jatuhku setiap waktu. Lupa pada takut oleh perasaan campur aduk, cemas. Cemas oleh hari esok yang tidak pasti.


Jalanan  begitu sunyi pertanda khutbah jumat segera

__ADS_1


usai. Tapi kami berdua tidak kunjung menemukan jalan menuju mesjid. Sementara suara- suara azan menggema di beberapa penjuru. Gelombangnya dipantulkan dinding- dinding kampus. Kami tidak tahu, kami orang asing yang baru datang di


jalan lingkar Darussalam.


Aku berhenti di bawah pokok tanjung di persimpangan jalan. Ayah juga berhenti. Aku duduk di trotoar, Ayah juga. Kami berdua terdiam, lurus memandang jalan. Sedikit tepi jalan  yang tadi terang kini sudah menggelap oleh bayang- bayang pohon tanjung. Matahari sudah tergelincir ke barat, dia tidak


lagi berada di puncak cakrawala.


“Ayah punya sebuah cerita untukmu, alasan mengapa Ayah masih bertahan agar engkau terus kuliah di


fakultas itu, kedokteran …” Mata Ayah sejuk. Suaranya jelas dan lambat terdengar sangat jelas. Seperti bacaan prolog sebuah drama tentang masa lalu


kehidupan.


“Engkau adalah anak yang pintar, tidak seperti Ayah”.


“Engkau adalah anak yang pintar bahkan sejak Ayah pertama kali melihat matamu. Ada rasa yang penuh ingin tahu yang tampak dalam matamu. Ketika Engkau merangkak, tertatih dan mulai berjalan, tumbuh dan berkembang, kemudian belajar berbicara dan merangkai kata- kata, selalu lebih cepat. Sejak itu Ayah tahu engkau dianugrahi otak yang cerdas melebihi kakakmu. Dan mulai sejak itu Ayah meletakkan tumpuan harapan di pundakmu” Ayah duduk disampingku. Tangan Ayah melai bergerak meletakkan telapak tangannya di pundakku. Aku tahu itu bukan merupakan spontanitas melainkan sebuah wakilan perasaan. Perasaan Ayah yang menaruh impiannya yang besar di pundakku. Aku pun merasakan ada beban berat yang akan dipikul sejauh aku berjalan bila tidak mewujudkan impian Ayah.


“Saat-saat kecil dahulu, Ayah menggendongmu, mengangkatmu tinggi dengan kedua tanganku. Lalu kita tertawa bersama sembari aku menatap langit. Disana ada bintang- bintang harapan yang telah aku gantungkan. Engkaulah yang akan memetiknya ketika dewasa nanti untuk Ayah. Begitu Ayah pikir. Kemudian Engkau sekolah, belajar membaca dan berhitung selalu menjadi juara. Juara satu. Ayah


bahagia. Seandainya semua anak tahu betapa bahagianya hati orang tua ketika anaknya menjadi juara dalam pembagian rapor. Tentu semua anak berusaha menjadi juara satu. Dan engkau juara satu. Engkaulah Juaraku.”


“Hmmm lalu…” Aku menarik napas dalam. Namun sebenarnya aku berusaha menarik butiran-butiran bening yang akan keluar dari mataku. Aku tahan agar


tidak keluar. Aku tersentuh tapi tidak boleh menangis.


__ADS_1


__ADS_2