
Darussalam dalam bahasa arab berarti kebun keselamatan. Darusslam adalah kawasan pendidikan di Banda Aceh, karena di sini terdapat dua kampus besar yaitu Intitut Agama Islam Negeri Ar- Raniri dan Universitas Negeri Syiah Kuala, selain itu juga beberapa SMA, MAN, dan Sekolah Dasar dan Menengah di beberapa sudutnya. Darussslam sebagai pusat pendidikan telah berlaku sejak era Kesultanan Aceh. Hal ini diketahui dari adanya nisan- nisan ulama di kawasan kampus, misalnya di sekitar rektorat Universitas Syiah Kuala terdapat makam ulama dari turki. Para ulama itu datang dari berbagai penjuru, bahkan dari negeri yang jauh, turki, arab, dan india. Mereka datang belajar dan juga mengajarkan
berbagai disiplin ilmu. Ilmu yang diamalkan dengan kebajikan akan membawa pada keselamatan. Oleh karena itu kawasan ini dinamakan Darussalam.
Aku memanggil Ustazah dengan Bu Ustad, sedangkan suaminya dengan Pak Ustad. Mereka pasangan muda yang baru saja menikah beberapa bulan lalu. Mereka mengantarkan kami menuju
Darusslaam. Darussalam terletak jauh dari kota, sekitar 30 menit. Tapi masih dalam naungan Kota Banda Aceh, khusus kawasan kampus. Di luar pagar kampus, jalan lingkar Darusslaam telah berada dalam kawasan administratif di luar kota Banda Aceh. Begitu kata Pak Ustad, sembari menyetir Pak Ustad asik bercerita tentang sejarah Darussalam kepada kami. Ia adalah dosen di IAIN di Darusslaam
juga dan alumni dari universitas di Mesir.
Setelah melewati simpang meusra, mobil berbelok ke kiri melintasi Kanal Lamnyong, melewati
jembatannya.
“Di bawah jembatan ini terhampar makam- makam korban tsunami yang tidak lagi dikenali,” cerita Pak
Ustad.
“Innalillahi…” Aku melihat hamparan rumput di sisi kanal di bawah. Kanal itu lurus mengarah ke
laut di utara. Konon kanal ini dibangun oleh penjajah Belanda dengan mengerahkan tenaga Rakyat Aceh. Mobil terus melewati jembatan, jauh di depan tampak sebuah gerbang. Pintu gerbang yang berlajur dua. Gerbang Darussalam.
Kawasan Darussalam adalah komplek pendidikan. Di sebelah utara merupakan kawasan IAIN Ar- Raniry,
dari garis pantai di utara sampai jalan utama Teuku Nyak Arief di selatan. Sedangkan di sebelah selatan jalan utama Teuku Nyak Arief merupakan kawasan
__ADS_1
Universitas Syiah Kuala. Atau di sebelah kiri jalan utama adalah IAIN Ar- Raniry dan di sebelah kanan jalan utama adalah Universitas Syiah Kuala.
Universitas Syiah Kuala memiliki gedung- gedung modern. Sebagian kecil masih gedung- gedung lama
berlantai satu. Kata Pak Ustad, setelah tsunami, bantuan internasional datang membangun kembali beberapa gedung yang hancur. Karena kawasan Darussalam berbatasan dengan tepi pantai di utara banyak gedung yang hancur oleh tsunami.
Pun ketika tsunami datang, ada beberapa jenazah tersangkut di pagar- pagar gedung selatan, Gedung Fakultas Kedokteran.
Mobil kami berbelok ke kanan memasuki jalan-jalan yang membelah kawasan universitas sebentuk kotak-
kotak dengan simpangan empat. Aku terus menperhatikan takjub, sebab di Universitas
Syiah Kuala masih terdapat gedung- gedung tua yang selamat dari tsumani. Sebagian dari gedung- gedung tua itu diruntuhkan dan kosong. Pada lahan- lahan
kosong itu terdapat reruntuhan bangunan.
sebuah bangunan dari tinggi tegaknya. Tapi seberapa jauh fondasinya tertancap di kedalaman bumi. Fondasi itulah yang menentukan seberapa tahan sebuah bangunan menghadapi hantaman dan guncangan. Fondasi yang tidak dilihat mata itu
ibarat iman yang diperlukan dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan kehidupan.” Nasihat Pak Ustad.
“Gedung yang sebagian rusak, lalu dihancurkan semua Pak?,” tanyaku dari belakang. Pak Ustad di depan mengemudi di samping Bu Ustad. Sedangkan Aku dan Ayah di belakang.
“Sisa- sisa bangunan lama dihancurkan, lalu di bangun bangunan baru lagi.”
“Bantuan Internasional…” Aku melihat berbagai tanda bangunan. Tanda itu sesuai dengan logo perusahaan internasional. Mobil terus berbelok ke selatan melintasi Gedung FMIPA dengan pohon besar dan tua di depannya. Lalu terus berbelok kiri ke
__ADS_1
Gedung Fakultas Teknik yang megah dan modern. Jalan berlajur dua, rapi dan mulus, di sisinya dibatasi selokan yang dalam, sedalam selokan di Kota Padang tempo hari. Setelah selokan itu terdapat trotoar dengan pohon peneduh, pokok Bunga Tanjung berjeher rapi. Inilah Jalan Lingkar Darussalam.
Mobil terus melaju meninggalkan Gedung Fakultas Teknik dengan sisa helokopter tua di depannya,
Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Kimia dan sampai pada sebuah gedung di sisi kanan, gedung paling ujung di gerbang selatan. Karena setiap gedung di depannya terdapat tembok yang bertuliskan
nama. Nama itu terdiri darui dua huruf dalam satu bahasa, huruf latin dan huruf arab tulisan melayu. Maka aku membaca rangkaian huruf arab yang saling
menyambung itu.
“Fakultas… Kedokteran…”Aku mengeja.
“Inilah Fakultas Kedokteran Dek. Disini nanti adek akan kuliah.” Jelas Pak Ustad. Aku melihat sebuah gedung baru yang megah. Di bagian belakang pun masih terdapat beberapa gedung yang dalam proses pembangunan.
Aku dan Ayah melihat gedung Fakultas Kedokteran tersebut dengan takjub. Pak Ustad menyetir melambat. Berbelok lagi ke kanan menuju gerbang selatan. Gerbang Selatan jauh lebih sepi dibandingkan Gerbang Darussalam di barat. Gerbang Selatan adalah akses menuju perkampungan. Setelah melewati Gerbang Selatan akan berada di luar administratif Kota Banda Aceh. Perkampungan di Kabupaten Aceh Besar dengan pusat administrasi di Kota Janto.
Kami melewati gerbang selatan memasuki sebuah kampong bernama Limpok. Bersama Pak Ustad, kami berkeliling mencari kos, Kos Aneuk Agam, agam artinya lelaki, dan inong artinyo perempuan. Tidak lama akhirnya aku mendapatkan kos dari bangunan yang baru di bangun, masih baru.
Ayah langsung menyewanya dengan masa satu tahun ke depan. Sehingga aku telah mendapatkan kos yang paling dekat dengan gerbang selatan, Gerbang Fakultas Kedokteran.
Setelah mendapatkan kos Pak Ustad juga mengantarkan kami berkeliling, berbelanja kebutuhan anak kos. Kebutuhan mahasiswa. Pak Ustad lebih paham dengan itu karena ia alumni dari universitas di Mesir. Dahulu ia lama menjadi anak kos, di luar negeri pula. Ia memberi tahu segala apa yang penting, mulai dari penanak nasi, kasur, kipas
angin, lermari, kursi, dispenser, sampai kursi plastik dan ember. Ayah membelikannya semua untukku. Ayah sedang bahagia. Ayah sedang banyak uang dari yang telah ia pinjam di Bank.
***
__ADS_1