ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Bumi Air Tanah Minyak 1


__ADS_3

Awal Maret 2008


Ruang yang memiliki dimensi tiga akan berubah menjadi dimensi empat bila berada dalam koordinat


waktu. Dan Analogi alam empat dimensi seperti lembaran- lembaran buku kehidupan, setiap lembaran dapat berhubungan dengan lembaran lain di depannya  melalui sebuah lubang. Lubang


yang dapat menghubungkan lembaran depan dengan lembaran  belakang buku kehidupan,  mirip teori lubang cacing yang dapat melintasi dimensi ruang dan waktu.


Aku pun demikian, aku seperti terhubung dari lembaran kelas satu SMA ketika berada di bawah pohon sekolah tengah bercerita tentang Beasiswa Perusahaan Minyak dulu. Aku seperti tehubung dengan lembaran di kelas tiga SMA yang tengah berada di aula sekolah menjadi juara umum ketiga.


Juara umum ketiga.


Juara umum ketiga, bukanlah sesuatu kebanggan yang berlebih, namun memiliki suatu keistimewaan


tersendiri bagiku. Juara umum ketiga artinya menjadi satu diantara tiga, langkah maju pertama pion untuk meraih beasiswa perusahaan minyak seperti yang


aku impikan dulu.


Pionku melangkah maju untuk menjadi perwakilan sekolah dalam beasiswa perusahaan minyak. Sampai pada suatu ketika, saat sekolah mengadakan tes terbuka bagi tiga orang juara untuk


menjadi satu, satu calon penerima beasiswa perusaan minyak yang aku cita- citakan dahulu.


Sekolah mengadakan tes terbuka dengan memberikan soal objektif dengan pengkoreksian langsung di depan kami. Aku mengerjakan soal itu dengan hati yang tenang, tanpa ada beban dan


ambisi. Tenang setenang arus Sungai Kuantan dikala musim kemarau. Dan waktu seperti pasir dalam jam yang bulirnya jatuh sampai habis. Seperti sebuah


kesempatan untuk menyelesaikan butir- butir tes yang juga akan berakhir. Kemudian pada akhirnya butir- butir waktu itu pun habis, kami harus menyerahkan lembar jawaban selesai atau tidak selesai.


Pihak sekolah memberikan kunci jawaban kepada kami. Guru melakukan koreksi terbuka di depan


kami. Pada akhirnya takdir akan menjadi nasib. Dan nasib akan menjadi nasib. Aku meraih skor tertinggi. Kotak pionku naik satu langkah, menuju beasiswa


perusahaan minyak. Aku merasakan dejavu, dejavu terindah.


***

__ADS_1


Seperti apapun kita hari ini, ada sebagian karakter kita yang merupakan jejak dari rumah kita dulu.


Luasnya membentuk cara kita memandang kelapangan.


Sempitnya membentuk cara kita menyiasati keterbatasan.


Riuhnya membentuk cara kita bertoleransi.


Sepinya membentuk cara kita mengatasi kesunyian. (Tarbawi, 258).


Rumah tempatku tumbuh adalah sebuah rumah sederhana di pinggir jalan yang melintasi Pulau Sumatra. Rumah yang kecil dalam ukurannya namun terasa luas bagiku, karena hanya dihuni


oleh kami bertiga, Ayah, Emak, dan Aku. Sepi memang, tapi aku sudah biasa dalam


kesepian. Jauh dari keributan, apapun yang ingin dibicarakan maka katakanlah. Rumah


bagi kami adalah tempat berbagi.


Rintik menumbuk atap rumah kami dengan ketukan yang teratur. Menambah irama sendu kala malam- malam di penghujung bulan februari yang dipenuhi hujan. Diruang tengah aku sendiri dalam khayalan masa depan. Aku berpikir tentang beasiswa perusahaan minyak, bekerja di perusahaan minyak. Sedangkan ayah dan emak sudah berada di kamar,


terlelap.


“Kedokteran…” Aku mendengar suara yang begitu kecil.


“Menjadi dokter.” Itu suara ayah.


“Bukankah begitu mahal?


” Lanjut suara ibu, samar ditengah suara hujan.


“Aku akan berusaha. Mengambil pinjaman dari Bank. Menggadaikan gaji”


“Bahkan sampai pensiun.”  Lanjut ayah.


Aku diam mematung di ruang tengah. Telingaku fokus pada pembicaraan ayah dan emak.

__ADS_1


“Apakah dia menginginkan menjadi dokter?”


“Dia harus menjadi dokter. Dokter adalah pekerjaan yang baik. Menolong banyak orang. Tidak seperti


pekerjaan kantoran yang penuh tekanan”


“Begitu banyak tekanan politik.” Tambah Ayah.


“Abang sudah mengajukan pensiun dini untuk tahun depan”


“Pensiun ?, Apakah tidak bisa lagi untuk bersabar ?” Tanya ibu.


“Kebenaran sulit untuk dipertahankan, politik juga menekan, kalau pensiun mudah- mudahan ada rizki


yang lebih baik.” Dari jawaban Ayah aku sudah mengerti apa yang terjadi. Menjelang aku lulus, kami mendapatkan musibah, sifat idealisme Ayah mendapat tekanan di dunia kerja. Ayah lebih memilih pensiun muda, berat memang. Aku tahu Ayah sangat sedih. Satu- satunya harapan tinggal aku. Karena itu aku berjanji akan membuat Ayah bangga.


“Tapi anak kita akan kuliah, perlu biaya yang lebih,” protes Emak.


“Setelah pensiun dini nanti, hati abang akan tenang. Lebih banyak waktu untuk mengurus kebun,” jawab


Ayah.


“Kalau memang demikian yang terbaik menurut hati abang. Kami akan selalu mendukung abang…” Emak setuju atas keputusan ayah.


“Mudah- mudahan ada rizki di tempat yang lain”


“Lihatlah anak kita begitu pintar, hati abang begitu besar saat ia dipanggil sebagai juara. Suatu hari orang- orang yang tidak senang pada kita akan melihat dia sukses.” Lanjut ayah lagi.


“Menjadi seorang dokter, menolong banyak orang, jauh dari tekanan politik.” Ayahku berangan- angan jauh.


“Menjadi seorang dokter …” Kalimat ini jelas di telingaku, bahkan jelas sekali sampai ke dasar hatiku.


“Amin…” Ucap Emak


 Di depan pintu kamar ayah, aku memejamkan mata. Baru aku sadari pipiku basah. Airmataku jatuh.

__ADS_1


***



__ADS_2