ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Sembilan Belas 4


__ADS_3

Teluk Kuantan Klinik Dokter Spesialis Mata.


“Dua Belas” Jawabku.


Kemudian Dokter Spesialis Mata yang berada di depanku terus membalik lembaran


buku ishihara ke halaman selanjutnya.


“Dua …” Aku terdiam.


“Ayo angka berapa lagi ?,”  tanya Dokter itu kembali.


“Nol. “ Jawabku.


“Coba perhatikan lagi,”


ulang dokter tersebut. Ayah yang berada di sampingku, ingin membisikkan sesuatu


yang aku tidak melihatnya.


 “Sstt” Dokter itu memberikan isyarat agar Ayah


diam.


“Seperti kismis.” Aku berusaha untuk melihat gambaran angkanya.


“Coba ikuti warna merah muda ini memakai jari!” Perintah Dokter agar aku meletakkan ujung jari telunjuk pada titik merah muda dalam sekumpulan titik titik hijau.


Aku mengikuti jalannya gugus warna tersebut, sebentar dan Dokter tersebut menatapku. Kepalanya


menggeleng pertanda aku gagal. Aku terkejut.


“Buta warna parsial, hijau.”


“Keturunan,” lanjut dokter tersebut.


“Bagaimana mungkin, dia mampu melihat hijaunya daun, dinding, dan corak dibajuku !!” Ayah protes tidak terima.


“Iya kan Nak …” Ayah meminta


penjelasanku.


“Iya kan. Kamu bisa kan? “ Ayah berusaha menyakinkan agar vonis dokter tersebut salah.


“Bisa Dokter. Bisa. “ Jawabku.


Dokter itu tersenyum,”buta warna parsial bukan berarti tidak bisa melihat warna tapi  kecerahan warna berkurang, sehingga sulit


dalam membedakan beberapa warna.”

__ADS_1


“Berisiko dalam pembedahan,” jelasnya kembali.


Aku menatap Ayah dengan pandangan kosong. Menjadi tumpuan harapan Ayah sejak kecil membuatku tak punya pilihan lain selain mewujudkan impiannya. Namun semua itu kini luluh lantak.


Bagai mahligai pasir yang tersapu ombak. Bukan lantaran oleh kemalasan dan kebodohan melainkan hanya karena sekumpulan titik- titik warna dalam buku ajaib Ishihara.


“Bagaimana mungkin ini dokter !” Ayahku heran.


“Dia anakku…”Bisik Ayah


pada Dokter Spesialis Mata.


“Dia anakku, anak lelakiku satu- satunya.”


“Si bijih mata, ujung pengharapanku. Tak ada lagi yang aku punya selain Dia. “ Tambah Ayah berkali-kali.


“Dia anakmu Pak. Dia


adalah darahmu, namun semuanya terjadi bukan karenamu.” Jelas dokter didepanku


dengan suara yang dalam, sangat serius. Matanya menatapku yang menunduk  diam. Di ruang yang temaran ini, aku, lelaki yang begitu belia seperti menanti vonis persidangan oleh kasus yang tidak aku pahami.


“Siapa …?” mulut Ayah terbuka mengeluarkan kata itu, aku siap menerima apapun yang terjadi. Menguak


misteri setelah 18 tahun aku menjadi hidup di dunia ini. Hidup bersama Ayah.


“Deuteronophia, tertaut pada kromosom seks”


“…” Aku terdiam tak


mengerti.


“Cetakannya yang salah, ibunya, istrimu.” Dokter itu berpaling, wajahnya berpaling ke kanan menjauhi


wajah anakku.


“Mengapa?”


“Karena perkawinan adalah pertemuan kromosom secara acak, seperti satu pancing di dalam kolam


jutaan ikan.”


“Maksudnya ?”


“Partial Colour Blindness diturunkan dari sel telur istrimu, buta warna parsial hijau”


“Bukankah dia masih


mampu melihat hijaunya daun, Dokter …”

__ADS_1


“Dia akan kesulitan membedakan hijau muda dengan coklat, bagi seorang dokter berisiko dalam


bedah-membedah.” Jelas Dokter itu kembali.


“Tapi dia sudah lulus kedokteran, kedokteran negeri, satu-satunya calon dokter dalam trah kami.”


“Lihatlah dia begitu pintar ! Dialah pengharapanku.” Ayah menghiba, namun aku tahu bahwa Dokter


tersebut bukanlah penentu. Demi masa depanku,  Ayah tak  menyerah. Seorang ayah


tak boleh menyerah demi anaknya. Kemudian seberkas cahaya menerangi meja


konsultasi dan Dokter Spesialis Mata itu tersenyum, “Dahulu teman saya semasa kuliah ada juga yang mengalami kasus seperti ini. Sekarang kariernya hanya sebagai Dokter Umum.”


“Berangkatlah ke Banda Aceh, mudah-mudahan cita- cita kalian tercapai,” lanjutnya.


Pada akhirnya, aku dan Ayah


pulang, kami dua anak-beranak meninggalkan klinik dokter spesialis mata. Dengan


mengendarai sepeda motor tua, kami pulang dengan hati yang  kaku. Sepanjang perjalanan kami diam. Sediam senja saat mata langit tenggelam dalam rawa-rawa di pingiran kota Teluk Kuantan.


Waktu terasa begitu melambat dalam perjalanan kami pulang. Cahaya matahari mulai jingga saat ia


tenggelam di ujung rawa-rawa di pinggiran kota. Ayah memutar gas sepeda motor agar waktu berlalu lebih cepat. Gerimis mulai datang saat kami berada di


tikungan di jalan ujung rawa. Dan awan hujan mengubah warna langit jingga  menjadi biru tua. Matahari meninggalkan garis pelangi, sekejap sebelum ia tenggelam, benar-benar tenggelam. Pelangi yang sesaat itu juga segera hilang bersama hilangnya cahaya matahari, segera langit


menggelap. Begitu cepatnya Sang Maha Pencipta mengubah warna langit.


Pergantian senja dan terbit matahari adalah waktu dimana  Tuhan terasa begitu menjelma menjadi lebih dekat, bahkan dari nadi kita sendiri. Dan itu membuat kita merasa begitu kuat kala permasalahan hidup


melanda sebesar apapun. Perubahan warna langit saat senja dan pagi begitu ajaib. Allah begitu mampu mengubah kedua waktu itu, apalagi hanya merubah nasib anak manusia.


“Ayah…”Suaraku memecah kesunyian.


“Bagaimana kita ayah ?”


tanyaku.


“Nak kita akan berangkat ke Banda Aceh. Kita akan menjemput cita-cita sejauh apapun sampai ke


Ujung Negara,” jawab Ayah.


***



__ADS_1


__ADS_2