
Teluk Kuantan Klinik Dokter Spesialis Mata.
“Dua Belas” Jawabku.
Kemudian Dokter Spesialis Mata yang berada di depanku terus membalik lembaran
buku ishihara ke halaman selanjutnya.
“Dua …” Aku terdiam.
“Ayo angka berapa lagi ?,” tanya Dokter itu kembali.
“Nol. “ Jawabku.
“Coba perhatikan lagi,”
ulang dokter tersebut. Ayah yang berada di sampingku, ingin membisikkan sesuatu
yang aku tidak melihatnya.
“Sstt” Dokter itu memberikan isyarat agar Ayah
diam.
“Seperti kismis.” Aku berusaha untuk melihat gambaran angkanya.
“Coba ikuti warna merah muda ini memakai jari!” Perintah Dokter agar aku meletakkan ujung jari telunjuk pada titik merah muda dalam sekumpulan titik titik hijau.
Aku mengikuti jalannya gugus warna tersebut, sebentar dan Dokter tersebut menatapku. Kepalanya
menggeleng pertanda aku gagal. Aku terkejut.
“Buta warna parsial, hijau.”
“Keturunan,” lanjut dokter tersebut.
“Bagaimana mungkin, dia mampu melihat hijaunya daun, dinding, dan corak dibajuku !!” Ayah protes tidak terima.
“Iya kan Nak …” Ayah meminta
penjelasanku.
“Iya kan. Kamu bisa kan? “ Ayah berusaha menyakinkan agar vonis dokter tersebut salah.
“Bisa Dokter. Bisa. “ Jawabku.
Dokter itu tersenyum,”buta warna parsial bukan berarti tidak bisa melihat warna tapi kecerahan warna berkurang, sehingga sulit
dalam membedakan beberapa warna.”
__ADS_1
“Berisiko dalam pembedahan,” jelasnya kembali.
Aku menatap Ayah dengan pandangan kosong. Menjadi tumpuan harapan Ayah sejak kecil membuatku tak punya pilihan lain selain mewujudkan impiannya. Namun semua itu kini luluh lantak.
Bagai mahligai pasir yang tersapu ombak. Bukan lantaran oleh kemalasan dan kebodohan melainkan hanya karena sekumpulan titik- titik warna dalam buku ajaib Ishihara.
“Bagaimana mungkin ini dokter !” Ayahku heran.
“Dia anakku…”Bisik Ayah
pada Dokter Spesialis Mata.
“Dia anakku, anak lelakiku satu- satunya.”
“Si bijih mata, ujung pengharapanku. Tak ada lagi yang aku punya selain Dia. “ Tambah Ayah berkali-kali.
“Dia anakmu Pak. Dia
adalah darahmu, namun semuanya terjadi bukan karenamu.” Jelas dokter didepanku
dengan suara yang dalam, sangat serius. Matanya menatapku yang menunduk diam. Di ruang yang temaran ini, aku, lelaki yang begitu belia seperti menanti vonis persidangan oleh kasus yang tidak aku pahami.
“Siapa …?” mulut Ayah terbuka mengeluarkan kata itu, aku siap menerima apapun yang terjadi. Menguak
misteri setelah 18 tahun aku menjadi hidup di dunia ini. Hidup bersama Ayah.
“Deuteronophia, tertaut pada kromosom seks”
“…” Aku terdiam tak
mengerti.
“Cetakannya yang salah, ibunya, istrimu.” Dokter itu berpaling, wajahnya berpaling ke kanan menjauhi
wajah anakku.
“Mengapa?”
“Karena perkawinan adalah pertemuan kromosom secara acak, seperti satu pancing di dalam kolam
jutaan ikan.”
“Maksudnya ?”
“Partial Colour Blindness diturunkan dari sel telur istrimu, buta warna parsial hijau”
“Bukankah dia masih
mampu melihat hijaunya daun, Dokter …”
__ADS_1
“Dia akan kesulitan membedakan hijau muda dengan coklat, bagi seorang dokter berisiko dalam
bedah-membedah.” Jelas Dokter itu kembali.
“Tapi dia sudah lulus kedokteran, kedokteran negeri, satu-satunya calon dokter dalam trah kami.”
“Lihatlah dia begitu pintar ! Dialah pengharapanku.” Ayah menghiba, namun aku tahu bahwa Dokter
tersebut bukanlah penentu. Demi masa depanku, Ayah tak menyerah. Seorang ayah
tak boleh menyerah demi anaknya. Kemudian seberkas cahaya menerangi meja
konsultasi dan Dokter Spesialis Mata itu tersenyum, “Dahulu teman saya semasa kuliah ada juga yang mengalami kasus seperti ini. Sekarang kariernya hanya sebagai Dokter Umum.”
“Berangkatlah ke Banda Aceh, mudah-mudahan cita- cita kalian tercapai,” lanjutnya.
Pada akhirnya, aku dan Ayah
pulang, kami dua anak-beranak meninggalkan klinik dokter spesialis mata. Dengan
mengendarai sepeda motor tua, kami pulang dengan hati yang kaku. Sepanjang perjalanan kami diam. Sediam senja saat mata langit tenggelam dalam rawa-rawa di pingiran kota Teluk Kuantan.
Waktu terasa begitu melambat dalam perjalanan kami pulang. Cahaya matahari mulai jingga saat ia
tenggelam di ujung rawa-rawa di pinggiran kota. Ayah memutar gas sepeda motor agar waktu berlalu lebih cepat. Gerimis mulai datang saat kami berada di
tikungan di jalan ujung rawa. Dan awan hujan mengubah warna langit jingga menjadi biru tua. Matahari meninggalkan garis pelangi, sekejap sebelum ia tenggelam, benar-benar tenggelam. Pelangi yang sesaat itu juga segera hilang bersama hilangnya cahaya matahari, segera langit
menggelap. Begitu cepatnya Sang Maha Pencipta mengubah warna langit.
Pergantian senja dan terbit matahari adalah waktu dimana Tuhan terasa begitu menjelma menjadi lebih dekat, bahkan dari nadi kita sendiri. Dan itu membuat kita merasa begitu kuat kala permasalahan hidup
melanda sebesar apapun. Perubahan warna langit saat senja dan pagi begitu ajaib. Allah begitu mampu mengubah kedua waktu itu, apalagi hanya merubah nasib anak manusia.
“Ayah…”Suaraku memecah kesunyian.
“Bagaimana kita ayah ?”
tanyaku.
“Nak kita akan berangkat ke Banda Aceh. Kita akan menjemput cita-cita sejauh apapun sampai ke
Ujung Negara,” jawab Ayah.
***
__ADS_1