
Aku seringkali berpikir mengapa pelangi selalu hadir di cakrawala menjelang senja. Boleh jadi, Sang Pelangi ingin menampakkan uraian warnanya yang indah itu dalam sekejap masa, kemudian malam mengambilnya. Boleh jadi masa yang singkat itu untuk memberikan hikmah kepada manusia tentang makna perpisahan.
Tak ada kebersamaan yang abadi.
Tak ada kebersamaan yang abadi, seperti kebersamaan awan yang di sapu oleh angin ketika senja tiba. Sapuan angin tersebutlah yang melahirkan gerimis yang menguraikan warna pelangi
di penghujung senja. Pelangi yang sekejap masa, sirna bersama pudarnya sinar surya. Awan yang berkumpul di tepi langit berpisah, hilang saat alam berganti malam.
Senja adalah penentu atas perubahan dalam perjalanan hidup seseorang.
Perubahan alam.
Pada saat itu, ketika satu senja Emakku ditemani Bibi pergi ke rumah Bapak Waka Kesiswaan SMA di Atas
Bukit. Maksud kunjungan Emak adalah membicarakan kasus yang telah terjadi kepadaku. Sebuah kejadian yang tak bisa dilupakan, ditenggelamkan dan terus dilupakan. Emak membicarakan duduk perkara, baik dan buruknya, dimana letak permasalahannya agar jelas sehingga tidak ada kesalahpahaman, dendam, dan
muncul kemaafan dari hati yang ikhlas. Bukan perkara benar dan salah melainkan kejelasan dan kemaafan.
***
Ada satu hari dalam hidup. Hari baik yang bernaungkan keberuntungan dalam urusanmu. Hari naas yang bernaungkan malapetaka sepanjang engkau berjalan hari itu. Aku lahir pada Hari
Selasa. Kata orang terdahulu, “ Seringkali hari dimana kita dilahirkan akan menjadi hari dimana kenaasan akan datang”, Aku lahir pada hari selasa. Hari Selasa
adalah hari naas bagiku, mitosnya. Hari dimana setiap kejahatan akan datang. Hari Selasa pada minggu ini adalah hari dimana kasus pemukulan yang terjadi padaku genap satu minggu. Ibu guru honorer yang mengajar mata pelajaran akuntansi akan masuk kembali ke kelas.
Apa yang akan ialakukan kepadaku ?
Kemaafan
Atau pembalasan yang lebih atas penjelasan emak kepada Bapak Waka Kesiswaan.
Sebentar lagi ia akan datang. Ia akan memasuki kelas.
Aku ingat satu kejadian yang sering terjadi masa kecil dulu. Tentang anak burungpipit yang jatuh dari pohonnya. Anak burung itu ditangkap oleh kucing liar.
Burung kecil itu digigit dan dibawa ke sarangnya. Burung itu dicakar, dibanting sampai tak berdaya, tapi tak dibunuh dibiarkan sakit dan menanggung sakitnya. Sebuah kepuasan hati bagi kucing yang menangkapnya.
Kepala Ibu Guru itu membentuk sudut ke arah dimana aku duduk. Sesampainya di depan kelas, ia duduk diam. Suasana hening dan dia memanggil namaku. Dan dia menyuruhku untuk maju ke
depan, berdiri di depan kelas. Dan seperti dongeng tentang kucing yang menangkap anak burung. Ia siap meluapkan kemarahannya padaku, dendam padaku
yang tak berdaya. Seorang anak kecil berusia 15 tahun, yang belum dewasa.
“Ayo
__ADS_1
minta maaf !” Diktenya padaku.
Apa salahku?. Aku dipukul dan dipaksa untuk
meminta maaf. Seandainya Menteri Pendidikan tahu apa yang dilakukan Ibu Guru itu kepadaku. Aduhai Bapak Menteri yang jauh berada di Jakarta, kini anakmu nun jauh di Lembah Kuantan sedang terzalimi. Tuhan yang maha adil terhadap nasib
manusia, haruskah aku meminta maaf untuk memuaskan sebuah ego, harga diri dengan mengorbankan diriku sendiri.
Baiklah aku mengalah untuk hidup yang sementara di dunia.
“Aku meminta maaf Bu.”
“Heh !!” Sambutnya pongah, kemudian mulailah ia memaki-maki, mencaci- makiku.
Menghina keluargaku.
“Siapa orangtuamu ?!”
“Kecuali Koramil, Saya baru gentar …” Dia merendahkan kedua orang tuaku.
“Anak pengadu !”
“Pakai saja rok, seperti perempuan saja !”
yang lain. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?. Pergi. Kalau aku pergi aku tidak tahu harus kemana?. Aku bukan siapa- siapa. Aku serba salah.
Selama dua kali empat puluh lima menit aku dimaki di depan kelas. Seluruh anak murid diam
menyaksikan. Lidah telah mengeluarkan ucapan- ucapan kasar menyentuh, menyentuh dengan kasar, menggores amygdale. Lorong terdalam amygdale-ku terluka. Aku tidak menangis, meski ruang dalam dadaku sudah basah.
Aku tidak sanggup menahan lagi. Aku tidak sanggup bertahan lagi. Aku tidak sanggup berada di SMA
di Atas Bukit lagi. Aku harus pergi.
***
Aku menyebut SMA dikota Teluk Kuantan dengan SMA kota. Jarak SMA kota dari rumah cukup jauh,
sekitar setengah jam lebih perjalanan. Ada dua pilihan untuk bersekolah disanayaitu kos yang berarti meninggalkan rumah atau pilihan lain tetap tinggal di
rumah namun pergi ke sekolah pagi- pagi sekali.
Apabila tetap tinggal di rumah aku harus berangkat ke SMA kota pagi- pagi sekali, perjalanan menuju ke sekolah hanya ditempuh dengan memakai oplet dengan trayek antara dua kota, kota kecamatan Lubuk Jambi-ibukota kabupaten kota Teluk Kuantan. Oplet tersebut membawa pedagang sayur
mayor benar- benar pagi. Para pedagang tersebut mulai mencari rizki di awal hari, benar- benar pagi. Kalau aku pindah, aku juga harus berangkat benar-
__ADS_1
benar pagi. Dan dengan menggunakan oplet yang berarti biaya pendidikan yang besar dikeluarkan untuk ongkos.
“Pindahlah …” Emak setuju aku pindah.
“Dua orang kakakmu masih kuliah di kota “ Ayah mengingatkan soal biaya.
“Emak akan bekerja” Janji Emak.
“…” Ayah diam.
“Emak akan membiayaimu, sekolah yang tinggi, meskipun besar biaya di SMA kota, asalkan hatimu senang, hati Emak juga senang” Begitu janji Emak, mataku berkaca-kaca terharu. Begitubesarnya pengorbaban bunda demi anaknya.
“Mak…” Aku cemas, namun tak mampu berkata apa- apa. Aku tak sanggup lagi berada di lingkungan yang
membuat perasaan hati tertekan, SMA di Atas Bukit.
“Usahlah kau cemas, Emak akan bekerja lebih.”
Sungguh benar kasih sayang bunda sepanjang jalan. Hubungan batin bunda dengan anak yang pernah
berada dalam rahimnya selama sembilan bulan memang luar biasa. Demi cinta Emak berupaya memindahkan aku bersekolah ke SMA kota. Ia akan bekerja lebih. Emak mulai menyadap getah karet, pada pagi yang dingin saat embun turun, ketika itu
getah karet pun cucur lebih banyak, Emak pergi ke kebun, demi biayaku. Luar biasanya pengorbanan bunda untuk anaknya. Aku akan selalu mengenang hal ini.
Sampai pada suatu hari, awal mula aku menjejakkan kaki di SMA kota. Di pintu gerbangnya aku melihat
serombongan merpati putih terbang diantara pohon palem. Gambaran alam yang mendamaikan hati. Bagaikan pertanda yang baik untuk memulai sesuatu. Makadengan berbekal hasil belajar yang baik di SMP. Aku diterima untuk menjadi murid baru di SMA kota. Kemudian ayah berkata bahwa akan ada banyak hal yang berubah dalam hidupku. Hidup yang baru. Dan aku pun berangkat ke sekolah benar- benar pagi, paling pagi diantara anak SMA di desaku, dan begitu juga dengan pulang, pulang ke rumah paling terakhir.
Aku memulai hidupbaruku, pada akhir agustus 2005. Tidak lama setelah itu, Bapak Presiden yang
jauh di Jakarta merevisi harga bahan bakar minyak yang selama ini disubsidi,bensin kembali naik dari 2400 per liter menjadi 4500 per liter. Akibat kenaikan
bensin ongkos oplet trayek antara dua naik dua kali lipat sehingga untuk biaya transportasi saja Emak harus mencarikan rupiah sebanyak 8000 setiap hari.
Demi cinta.
Cinta jauh lebih
berharga dari pada harta.
***
__ADS_1