ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Ishihara 1


__ADS_3

Perjalanan aku dan Ayah melewati berbagai negeri dari pagi, siang, dan malam. Bus yang kami tumpangi


terus melaju ke barat. Sampai hari esoknya lagi, pagi pun datang. Perjalanan ke Banda Aceh masih separuh perjalanan. Aku datang di Sumatra Utara. Riau telah telah aku tinggalkan.


Ini perjalanan terjauh bagiku dan bagi Ayah, bagi kami bersama. Sepanjang perjalanan kami melihat


kota- kota yang pernah kami dengar dalam berita dan dalam sejarah yang kami baca. Medan yang metropolitan. Lahan tebu yang membentang di Langkat. Rumah- rumah panggung khas melayu yang mengesankan zaman kerajaan dahulu di Tanah


Deli. Sampai senja pun datang lagi memasuki perbatasan. Meninggalkan Provinsi Sumatra Utara. Perbatasan Tanah Rencong.


Rawa rawa antara Besitang – Tamiang.


Senja semakin melambat karena perjalananku sudah semakin ke Barat. Dingin, AC dalam bus ini begitu


kuat ataukah malam sudah mulai datang. Aku memeluk ransel yang tidak seberapa gembungnya dan kini mulai terasa hangat. Aku menoleh ke kiri, di sebelahku ada Ayah, matanya antara tidur dan terjaga, nanar, diam semua penumpang meresapi


pikiran masing masing.


Aku duduk samping kaca. Kaca berembun pertanda suhu udara di luar lebih dingin daripada suhu di dalam Bus. Kuseka embun itu sehingga bayangan di luar tidak lagi kabur baur. Bayangan itu bagai berlari, sebuah efek koriolis yang menipu, padahal bus yang aku tumpangilah yang melaju bukan bayangan yang


diam itu.


Tak lama bulatan- bulatan hasil sekaanku pada kaca menutup kembali. Kuseka lagi dengan menggosok-gosokkan tanganku. Tetes hujan sebentuk oval dengan ujung atas meruncing membasahi kaca bagian luar. Aku tersenyum-senyum mengenang drama perjalanan hidupku.


Sebelah kanan jalan penuh rawa-rawa, hanya rawa. Setelah jauh mata memandang tampaklah laut, itu


Selat Malaka. Bayangan rawa dan laut menyatu ketika hujan yang ikut turun dalam senja, mengukir kecemasan dalam hatiku. Sebuah rasa, rasa risau yang menggalau, yang pertama kali kurasakan. Aku ingin bercerita sejujur hujan yang langsung


tercurah ke laut itu.


Pada sebelah kiri jalan, rawa mulai menghilang karena medan bumi mulai berbukit bukit dan mengalir sungai. Bus beberapa kali melintasi jembatan, jembatan yang melintasi sungai


yang melintasi rawa rawa. Bukit- bukit di sebelah kiri ditanami sawit sejauh mata memandang sedangkan disebelah kanan jalan masih rawa- rawa. Senja telah

__ADS_1


membuat rawa-rawa sewarna bara sementara laut bagaikan tembaga pudar bertabur merah darah. Sang mega merona dalam sore, koloid aerosol itu menguraikan efek tyndal disinari gelombang merah yang merupakan gelombang terpanjang dari akhir


spektrum cahaya matahari. Efek tindal itu jelas membayang di retina langit. Aku terpesona oleh warna- warna Alam yang diciptakan Tuhan untuk aku lihat. Pun sebentuk garis lengkung telah muncul di ujung langit. Itulah pelangi, lukisan indah


kehidupan yang kusaksikan walau sekejap senja di tempat sesunyi ini.


Siluet pepohonan kini mulai coklat dan terus berubah kehitaman seiring senja hilang dan malam pun datang. Samar bayang-bayang mulai memanjang kemudian sirna bersama pudarnya sinar surya. Cahaya senja berganti temaram buleun. Sebentar lagi perbatasan , Tanah Rencong .


Aku menarik napas dalam dalam. Aku tak lagi menoleh ke luar. Lalu kuhembuskan napasku terdengar sesak. Bersamaan rasa basah pada kedua mataku oleh linangan air. Dan ini bukan embun.


Bus melewati jembatan di tepi sungai yang melintasi rawa, dari rawa itu kulihat semburan api dalam


kegelapan masih dalam hujan. Hujan tidak mampu memadamkan api itu, api itu ciptaan Tuhan yang menyembur dari perut bumi secara spontan sebuah pertanda bahwa di bawah bumi ini tersimpan kekayaan gas yang belum dieksploitasi. Api


itu laksana semangatku, karena hanya semangat yang dapat membuatku bertahan agar tidak pedam oleh putaran roda zaman.


“Hidup ini keras. Kita harus keras terhadap hidup,”kata ayah tegas. Ayah juga melihat semburan api yang tidak dipadamkan hujan.


“Salam Kenal, Kami dari Riau tujuan Banda Aceh.” Ayah mengulurkan tangan. Kami menemukan teman


seperjalanan.


 “Saya dan Istri dari Payakumbuh. TNI. Tujuan


kita sama Pak.”


“Ini anak saya, dia akan kuliah di kedokteran. Universitas Negeri di Banda Aceh.” Ayah bercerita


Bangga.


“Salammualaikum.” Aku juga menjabat tangan lelaki itu dengan istrinya.


“Wah hebat lulus tes. Pintar,” puji Tentara itu.

__ADS_1


“Wah biasa saja Bang. Terima kasih.”


“Dek. Setelah mendaki tikungan ini dan lihatlah…,” perintah Tentara itu. Kami terdiam memperhatikan.


Aku melihat tugu yang kedua sampingnya terdapat panggung dengan bubungan bertingkat- tingkat di keempat sisinya.


“Ingat-ingat tempat ini…,”pesan tentara itu,“perbatasan…,” sambungnya.


Aku memperhatikan perbatasan. Perbatasan Provinsi Aceh dengan Sumatra Utara di lintas timur tidak


seperti perbatasan provinsi pada umumnya, kala itu. Jalanan lebih luas terdiri dari dua lajur yang mulus. Ditengahnya menyala lampu penerang jalan karena hari sudah gelap. Banyak tentara dan Baliho- baliho di sepanjang jalan. Ada Baliho besar Martti Ahtisaari peraih nobel perdamaian 2008, yang diapit dua lelaki


yang berjabat tangan. Jabat tangan bukan tanda perkenalan melainkan tanda perdamaian. Beliau yang berperan besar dalam terwujudnya perdamaian di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam, setelah berstatus daerah operasi militer sampai tsunami datang. Kemudian ada baliho bergambar seorang perempuan tua korban perang, anak anak korban bencana alam tsunami, kontak senjata antara tentara dan gerilyawan. Semua baliho tersebut bercerita tentang perjalanan panjang sejarah sebuah negeri.


Bagiku benar-benar seperti perbatasan antara negara, jauh berbeda dengan perbatasan Riau- Sumatra


Barat, Riau- Jambi, Riau- Sumatra Utara. Berbeda. Ada aura, ada pesona.


Tentara itu menunjuk hamparan sawit sejauh mata memandang. “Di sini Pak gugur seorang teman kami…,” kenangnya saat operasi militer dahulu, tentang satirnya perjalanan hidup tentara muda


itu.


“Hidup ini keras dek,” pesan Tentara itu.


“Hidup ini keras.”


Pesan Ayah padaku di senja itu.”Kita harus keras terhadap hidup,”  tambahnya.


***



__ADS_1


__ADS_2