
10 Agustus 2009.
Malam ini aku juga akan meninggalkan Banda Aceh, Tanah Parah Aulia, ulama terdahulu. Tanah warisan para endatu, orang orang terdahulu. Aku
meninggalkan semua kenanganku dengan hati yang lapang setelah berpamitan kepada teman- teman. Kami berpelukan. Aku ucapkan terimakasih kepada semua rekan- rekan terutama kosku, yang telah terasa sebagai saudara, Bang Sahim dan
rombongan yang telah membuatku bertahan di Banda Aceh. Kuliah dan menghadapi
kenyataan dengan dewasa, sehingga menjadi pribadi yang kuat.
Setelah yakin tidak ada yang tertinggal di Banda Aceh, aku pergi. Aku pergi meninggalkan Kampung Limpok, meninggalkan Jalan Lingkar
Darussalam. Lama aku pandang Fakultas Kedokteran, kemudian aku berbelok ke
FMIPA, berbelok ke taman yang sering kali aku berayun sendiri sambil menyaksikan kebahagian orang orang di taman itu, berbelok ke rumah makan “Angin Santai SEA FOOT” , tempatku sering membeli lauk untuk makan di gerbang utama.
Entah kreatifitas ataukah kekeliriuan mereka menulisnya SEA FOOT yang artinya
kaki laut, bukan sea food yang artinya makanan laut. Aku meninggalkan sebuah route yang biasa kujalani ketika biasa membeli lauk .
Selamat tinggal Darussalam.
Selamat tinggal Hari hariku yang akan menjadi kenanganku.
__ADS_1
Di terminal Bus saat malam yang bergerimis menjelang hujan, Aku bersama Rizqi dan Bang Sahim duduk sebaris. Merekalah yang mengantarkan aku
sampai ke terminal bus. Bang Sahim memberikan sebuah kado, “ Sebuah kenang- kenangan, juga untuk Ayah.” Katanya.
“Apa isinya?” Aku terharu menerima kotak kecil itu.
”Buka ketika sampai di rumah,” Petuah Bang Sahim.
Bagai bagai kotak Pandora yang tidak boleh dibuka. Bagai Labu ajaib pemberian Raksasa kepada Bawang Merah yang tidak boleh di buka sebelum sampai di rumah. Aku menyimpan kotak itu. Aku berpelukan dengan Bang Sahim. Lalu aku berpelukan dengan Alqi. Dan Aku masuk ke bus. Dinginnya AC dalam bus dan dinginnya hujan di luar, membaurkan bayangan mereka. Dalam tetes hujan aku melihat mereka terakhir tebelum bus benar- benar meninggalkan Lambaro, Terminal Bus.
***
Ramadhan 1 September 2009 yang kunanti.
pengumuman Kelulusan STAN. Aku begitu
gelisah menghabiskan waktu dari sejak bangun dinihari sampai pukul 11:00 siang
ini. Aku menghabiskan waktu menunggu yang mendebarkan di rumah tua nenek. Di
rumah ini lebih sunyi lebih tenang, dan mendamaikan hati. Kebetulan di rumah Nenek ada jam tua yang mulai mati. Jam itu unik tidak memakai baterai. Aku mulai berupaya menghidupkan jam yang mulai
mati itu. Aku membuka pintunya jam. Kemudian memasukkan kunci memutar kumparan
__ADS_1
jam tersebut ke lubangnya. Lalu memutar satu lubang ke kiri dan lubang lainnya ke kanan berkali kali sampai kunci pekam itu tak mau di putar lagi. Terakhir aku menyesuaikan jarum jam dan menitnya dan mengayunkan bandulnya, sehingga jam
itu normal kembali.
Ajaib tanpa baterai, jam itu hidup kembali. Tanpa baterai. Tanpa jarum detik ayunan pendulumnya secara periodik merupakan penunjuk detik. Dan akan berdentang sekali setelah setengah jam. Kemudian berdentang sesuai dengan banyaknya
bilangan dalam jam. Dentangnya menggema ke seluruh ruangan.
Aku menanti jam itu berdentang 11 kali. Dan Akhirnya jam pun berdentang 11 kali. Tapi tak ada panggilan yang masuk ke handphoneku. Sampai
Zuhur pun hadir tak jua ada kabar berita ke handphoneku.
Antara Azan dan Iqamah merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Maka aku berdoa.
Aku membayangkan STAN, sebuah sekolah kedinasan di daerah Bintaro, di Jakarta. “Jakarta”
sebuah kata yang begitu sakral di telingaku. Disana adalah pusat dari segala pusat negara.Yang kata Ayah ada beragam macam umat yang hidup di tanah itu.
Jakarta oh Jakarta, ibukota indonesiaku yang tercinta.
***
__ADS_1