
“Berdoalah… “ Nek Umi menasihatiku,” berdoalah. Pasrahkan diri pada Allah. Sebutlah sebanyak-
banyaknya nama Allah di dalam hati ketika tes buta warna nanti.”
“Percayalah pada kehendak Allah. Tes itu hanya buatan manusia, semoga saja ada yang salah dengan buku tes itu.” Nek Umi terus menasihatiku. Nek Umi kemudian mengajarkanku
banyak Do’a untuku.
Setelah mendapatkan jawaban dari keluarga Bu Ustad. Kami pergi. Oleh karena Bu Ustad juga akan
berangkat ke kantor, kebetulan perjalanannya satu jurusan dengan kepulangan kami.
Beliau terus mengantarkan kami tapi hanya sampai di kantornya di jalan sisi barat masjid Raya Banda Aceh, Baiturrhaman.
Inilah jalan yang aku lihat tiga tahun lalu di televisi. Saat seorang ibu terburu- buru memanjat ke
balkon sebuah ruko. Wajahnya sangat cemas disusul suara klaskon- klakson mobil di belakangnya. Lalu ada air yang meninggi dan orang- orang berlari. Semakin banyak kendaraan, timbullah macet, dan makin banyak mobil dan sepeda motor
menumpuk. Lalu semakin menumpuk, diikuti oleh air besar yang semakin besar dan bergelombang. Gelombang itu makin tinggi dan menghitam, menelusuri petakan- petakan jalan. Tsunami akhirnya datang.
Menyapu dan menghancurkan semua mimpi bersama teriakan- teriakan memohon pertolongan.
Bu Ustad menurunkan kami di Jalan itu. Ia berlalu tak lama kemudian. Jalan itu berada di sisi barat Masjid Raya Baiturrahman. Masjid paling besar dan paling bersejarah di seluruh tanah rencong. Aku dan Ayah
__ADS_1
menyeberang jalan bersama menuju Masjid Raya, ke arah timurnya. Wajah Ayah begitu cemas lagi gundah. Ayah memegang pergelangan tanganku, menuntunku. Pegangan itu bukan untuk menyelamatkan aku dari kendaraan yang berlalu lalang. Tapi pegangan itu adalah rasa sayang ayah untuk menyelamatkan masa depanku. Seorang ayah tak boleh menyerah demi anaknya.
Aku berjalan mengikuti langkah Ayah, menyandang ransel dan mengapit sebuah bantal yang kami beli di
sekitar Beurawe. Hanya sesaat kami menyeberang jalan tapi penyeberangan itu terasa lama oleh rasa yang haru. Rasa yang bermakna besarnya usaha ayah untuk menyelamatkan anaknya yang telah sembilan belas tahun ia besarkan. Wajah anaknya basah , menyerah , dan kalah di tengah hilir mudik labi- labi ke jalan menuju seberang.
Jalanan disekitar Mesjid Raya Baiturrahman sudah padat oleh kendaraan dibandingkan ruas-ruas
jalan di sekitar Kota Banda Aceh yang lengang karena Masjid Raya Baiturrahman berdiri di jantung Kota Banda Aceh. Masjid ini didirikan pada tahun 1612 M di masa kejayaan Sultan Iskandar Muda. Pada tahun 1873 Masjid Raya Baiturrahman dibakar
habis oleh Belanda yang mengakibatkan Rakyat Aceh marah besar ketika itu.
Sehingga pada tahun 1882 gubernur jendral belanda membangun kembali Mesjid Raya Baiturrahman namun hanya dengan satu kubah. Bangunan inilah yang terus dikembangkan dan direnovasi sampai saat ini menjadi bangunan megah di pusat
Bangunan di sekeliling Masjid Raya masih utuh. Bangunan- bangunan inilah yang membentengi Masjid Raya dari sapuan Tsunami. Tsunami yang melewati jalan di antara ruko- ruko melambat.
Arusnya melembut. Mungkin suatu mukjizat Tuhan, banyak yang mengatakan demikian. Berbeda dengan ruko- ruko yang tak jauh di sekitar Masjid Raya,
beberapa blok setelahnya. Beberapa toko tampak baru selesai di renovasi. Aku dan Ayah berkeliling mencari sebuah buku bernama Ishihara dari toko yang satu ke toko yang lain.
Ayah masih belum menyerah. Sekeras hati ia bertahan mencapai cita- cita yang kini bagai sebuah
telur di ujung tanduk kerbau pacuan, sementara garis finish tinggal selangkah lagi. Tapi dalam langkah terakhir itu ada badai raksasa yang datang dari awan
__ADS_1
tiba- tiba. Sedangkan aku sudah mulai ragu meneruskan langkah ini. Hanya ada dua pilihan, maju dengan aku harus menaklukkan tes buta warna atau mundur dengan pulang kampung ke Kampung Gunung Menangis membawa malu. Aku harus maju.
Motivasiku saat ini adalah menyelamatkan beasiswa perusahaan minyak. Aku sudah memenangkannya. Aku sudah lulus Fakultas Kedokteran.
Tidak ada toko buku besar di Banda Aceh, begitu juga dengan Mall, yang ada hanya beberapa swalayan dengan satu nama perusahaan. Toko-toko buku yang kami jumpai hanya berupa rumah
toko dengan gelaran dagang satu lantai atau dua lantai. Letak antara toko buku terpisah dan berjauhan. Ketika kami bertanya tentang buku ishihara di setiap
toko buku jawabannya tidak ada. Bahkan toko selain toko buku pun telah kami masuki jawabannya adalah gelengan kepala, tidak ada buku semacam itu. Akhirnya aku dan Ayah kembali ke Masjid Raya. Kami duduk dan memandang ke orang- orang sekitar. Kami duduk memandang orang- orang yang berlalu lalang. Kami duduk merenungi diri.
Menara Masjid Raya yang sebelumnya rusak telah kembali utuh karena rekontruksi bangunan- bangunan rusak pasca Tsunami dipercepat oleh sebuah badan setingkat kementrian atau lembaga Negara bernama BRR. Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh dan Nias Sumatera Utara di bentuk pada tanggal 16 April 2005. Badan tersebutlah yang bertanggung
jawab menelola transaksi keuangan yang bersumber baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan dana masyarakat untuk melakukan rehabilitasi dan rekontruksi.
Banyak bantuan dari luar negeri datang. NGO, Non-Governmental Organitation atau dalam makna Indonesia adalah lembaga swadaya masyarakat, LSM asing datang ke Banda Aceh, ada UNDP, USAID, LGSP, bahkan lembaga PBB pun datang. NGO tersebut membawa dana bantuan dan juga para pekerja- pekerja asing. Maka tidak heran ketika berkeliling kota dengan mudah kami temui orang- orang Jepang, Korea, Amerika, dan Jerman yang tengah berada di Pasar Aceh, Rumah Makan, bahkan labi- labi.
Aceh begitu beragam.Ada yang mengatakan aceh adalah sentuhan wajah Arab, China, Eropa, dan
Hindustan. Ada banyak wajah disekitar kami, wajah orang- orang NGO, dan wajah aktifis LSM dari berbagai daerah di Indonesia. Pun ketika Tsunami ada banyak tentara dari berbagai belahan dunia
memberi bantuan evakuasi dengan berbagai rupa. Dan sebelum Tsunami pun telah ada banyak tentara dengan berbagai etnis masuk sampai ke desa-desa pedalaman Aceh, Daerah Operasi Militer. Orang Aceh telah terbiasa dengan kehadiran orang dengan berbagai wajah.
Wajahku dan wajah Ayah berbeda emosi tapi sama- sama dalam kebingungan. Ayah mengeluarkan handphone. Ia orang yang canggung memakai teknologi. Tapi ayah menekan tombol-tombol
__ADS_1
hadphone dengan yakin dari angka- angka yang ia lihat di secarik kertas. Ayah melakukan panggilan internasional ke luar negeri, Malaysia.