
Akhir Juni 2008.
Penyerahan Berkas SNMPTN.
Tahun 2008. Kata SPMB diubah oleh pemerintah menjadi sebuah nama yang unik SNMPTN. Aku tidak paham bentuk perbedaan sistem SNMPTN dengan SPMB. Tapi SNMPTN memiliki makna yang
unik bila di gubah oleh penulis yang kreatif, yaitu keSeMPaTaN, kesempatan.
Ketika aku turun dari oplet. Aku lihat Jamil telah menungguku di gerbang utama Universitas Negeri
Padang. Tempat pendaftaran dan penyerahan berkas SNMPTN. Hanya ada dua universitas di Provinsi Sumatra Barat tempat panitia utama SNMPTN. Akibatnya pendaftarannya menumpuk. Segala sesuatu dilakukan manual. Map- map yang berisi
berkas- berkas merepotkan. Belum lagi antrian yang berdesak- desakan. Namun di tengah keramaian aku masih bisa melihat Jamil. Identik dengan kepala botaknya.
“ Jamil !” Aku berteriak dengan melambaikan tangan.
“Liel ….Kemari !” Ia menoleh dan membalas lambaian tanganku. Aku bergegas menyusulnya di tengah
keramaian.
Ada yang datang berombongannya. Ada yang datang sendiri. Ada yang datang diantar keluarganya
dari kampung memakai mobil. Kampus begitu ramai.
“Ojek ! Ojek “ Tawar mahasiswa yang sebelumnya kami kira tukang ojek. Rupanya momen SNMPTN dijadikan ajang untuk mengasah bakat terpendam mahasiswa, usaha sampingan.
“Jalan Saja Uda !”
Jawab Jamil.
“Kami jalan kaki Uda”
Jawabku juga.
“Yok ! Jalan cepat”
“Yok” Aku berpacu jalan
dengan Jamil.
“Dimana pendaftarannya Mil?”
“Di belakang. Di GOR olahraga” Jawabnya. Aku mengikuti Jamil. Berjalan. Ada 300 meter dari gerbang utama kampus sampai gedung yang paling besar. Tapi itu bukan GOR, itu rektorat.
Lalu kami berjalan lagi jauh ke dalam sampai melewati dua buah jembatan sampai
ke gedung yang paling besar di kompleks tersebut. Tapi lagi- lagi itu bukan GOR, itu perpustakaan utama universitas. Kemudian kami mengikuti orang- orang
__ADS_1
yang berpenampilan seperti kami, calon mahasiswa baru. Mereka semua menuju gedung besar yang tampak dari kejauhan, berada di ujung lapangan sepak bola, itu GOR. Kami sebentar lag sampai.
Aku dan jamil memeriksa kelengkapan dokumen- dokumen kami di dekat meja- meja kecil di luar gedung. Meja- meja itu sebelumnya kami pikir adalah meja panitia, tapi ternyata bukan.
Meja tersebut adalah meja mahasiswa yang menawarkan jasa dalam mengisi berkas. Modalnya hanya menulis lalu mereka
meminta Rp 20.000,00 atas jasa kebaikannya. Untungnya aku tahu sebelumnya. Tapi
ada sesuatu yang belum aku isi. Kode pilihan program studiku masih kosong.
“Liel … ada lem ?” Tanya
Jamil.
“Tak ada Mil”
“Pakai lidah saja menempelkan fotomu.” Aku ingat aku pernah menempelkan prangko dengan memakai
lem dari air liur. Barangkali reaksi kimianya sama.
“Tidak bisa Liel”
“Lem ..Lem !!” Teriak pedagang asongan dadakan ke pada kami.
“Berapa lem Uda ?”
“Duo Ribu”
“Di luar biasanya Lima Ratus Perak “
“Beli saja di luar”
“Ya sudahlah. Ambo beli” Jawab Jamil menyerah. Ia
kesal namun memaklumi kenaikan harga terjadi karena pengaruh momen- momen tertentu.
“Ini Uda” Jamil menyerahkan lembar seribu dua buah.
“Terimo kasiah”
“Karena sedang perlu.”
Kata Jamil.
“Padahal Perlunya hanya
secuil” Kataku.
__ADS_1
Selesai menempelkan foto, Jamil memperhatikan kediamanku.
“Kenapa ?” Tanyanya.
“Masih bingung Mil”
“Pilihan Kuliah ?”
“Ya. Orang tuaku meminta meletakkan kedokteran untuk kedua pilihan kuliah. Aku takut tidak lulus.”
“Passing Grade-nya tinggi” Tambahku.
“Mmm Kalau orang tuamu meminta pastinya mereka penuh harap Liel. Orang tuamu pasti punya solusi untuk setiap keadaan yang tidak dinginkan nanti.” Nasihat Jamil.
“Baiklah” Jawabku. Aku mulai melingkari kode pilihan pertama, kedokteran di Padang.
“Ridho Allah berada di bawah Ridho Orang tua” Nasihat Jamil kembali.
“Amiin” Jawabku. Aku mulai melingkari pilihan terakhir, kedokteran di Banda Aceh.
Lengkap sudah kelengkapan dokumen kami. Setelah melewati antrean seperti ular piton raksasa
yang tak putus putus menuju lima meja panitia di dalam GOR. Bahkan antrean juga sampai melewati batas pintu. Mereka berderet di luar GOR yang panas terik.
Setelah itu, cukup lama aku dan Jamil berkeliling kampus melihat keramaian orang, rupa- rupa calon
mahasiswa baru, rupa- rupa gedung kampus, rupa- rupa kehidupan kampus, kehidupan mahasiswa dengan dosen, teori dan praktik, sampai senja datang. Kebetulan kampus Universitas Negeri Padang terletak di pesisir pantai. Tidak
jauh di belakang kampus melewati kompleks kos- kosan, dibelakang kampus terhampar Samudra Hindia. Dan maghrib akan segera datang.
Kakiku dan Jamil lelah berjalan hampir seharian. Tapi semangat membuat kami berlari menuju pantai yang
ada di depan mata kami. Hanya tinggal melewati gang diantara dua bagunan itu laut telah tampak kemerahan. Suara debur ombak telah terdengar. Aku berlari mengejar laut.
Aku berlari mengejar laut kemerahan
Aku berlari mengejar matahari senja
Aku berlari mengejar cita- citaku
Laut dan langit ada berjuta perasaan yang tidak bisa aku utarakan. Selama aku di Padang aku baru
sempat menyaksikan keindahan laut di kala senja. Laut yang menghubungkan belahan daratan dengan daratan lainnya. Betapa luasnya dunia. Di batas kota
senja aku melihatnya. Di batas kota senja aku tidak takut pergi kemanapun mengejar cita- citaku. Di batas kota senja aku akan menuju masa depanku yang entah aku akan merantau kemana lagi. Kemana lagi takdir kaki ini melangkah.
Dan di batas kota senja pula aku dan Jamil berpisah. Setelah penyerahan berkas SNMPTN itu aku tidak
__ADS_1
pernah melihatnya lagi.