ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Toga Penggapai Mimpi


__ADS_3

Agustus 2005.


            MOS, untung saja saya telah melewatinya. Begitu kata yang kemarin aku dengar dari tetangga, dia kakak tingkat satu tahun di atasku. Kini, aku sedang menginjakkan kaki pada waktu yang dia telah lewati.MOS, aku sedang menjalaninya.


MOS di sebuah SMA di tepi danau, di atas sebuah bukit. Indah bila dilihat dari kejauhan, permai, namun


tidak bisa dirasakan sekarang ini, terutama oleh siswa baru. Aku termasuk dalamkelompok siswa baru yang terbagi tiga. Aku berada dalam kelompok dengan jumlah yang paling besar. Kami para siswa laki-laki dibariskan di sudut lapangan.


“Nungging Dek !” Teriak seorang senior, yang tidak aku tahu dari siapa suara itu berasal. Aku hanya bisa menerka dari siapa komando itu datang


dengan membedakan frekuensi suaranya.


Aku pun ikut nungging, para anak lelaki yang lain


telah dahulu nungging terburu-buru.


Sebenarnya bukan posisi nungging. Tapi lebih dari pada itu. Posisi taubat begitu mereka menyebutnya. Posisi dengan meletakkan kepala bertumpu kepada bumi. Tangan disedekapkan di pinggang


bagian belakang. Kemudian bersiaplah menerima apapun.


“Bruk !..brukk!!”


Tendangan abang-abang senior itu bergiliran memberikan salam pada pantat siswa


baru yang laki- laki. Dan rasanya begitu sakit ditendang dalam posisi bertobat tanpa kalian tahu kalian salah apa. Menerima balasan dari dosa yang telah dilakukan senior mereka dahulu kepada mereka. Aku menceritakan peristiwa ini


sejujur hujan. Peristiwa ini akan  selalu


menjadi bagian dalam lembaran perjalanan hidupku. Kemudian di dalam hati, aku menghitung tendangan mereka, satu orang, dua orang, tiga orang,…, dan sakit


saat ujung sepatu mereka menyentuh ujung tulang ekor milikku.


Coxigeal,tulang ekor, apabila gaya membenturnya dengan kecepatan tertentu maka dapat


membuatnya cedera oleh efek impulsive.  Gaya yang sama, tapi dengan kecepatan tendangan yang berbeda akan memberikan rasa sakit yang berbeda, semakin cepat  tendangan, maka semakin besarlah efek impulsif, efek kerusakan yang ditimbulkan. Coccydynia,


cedera tulang ekor dapat terjadi oleh tendangan di pubis, begitu ilmu biomekanika yang aku baca di buku-buku kedokteran. Siswa baru bisa mengalami efek minimal cedera ringan, Coccydynia oleh sistem pendidikan yang salah. Suatu hari budaya MOS yang bertopeng bullying harus dirubah dengan pendidikan yang penuh kasih sayang.



Danau dekat SMA di atas bukit ... 2020. 16 tahun setelahnya.


MOS, Masa Orientasi Siswa di SMA di Atas Bukit dilaksanakan sampai sore hari, begitu OSIS


merencanakannya. Jauh dari pantauan guru, jauh dari pantauan masyarakat. Apapun dapat terjadi dari budaya dendam berantai itu. Apapun saat kami terbagi menjadi tiga kelompok. Bagian pertama adalah kelompok kecil, jumlahnya tidak lebih dari


sepuluh orang yang melingkari  dua orang


anggota OSIS. Mereka bercerita dibawah pohon rindang di sudut lapangan aman dan


nyaman. Menimbulkan kecemburuan yang disengaja, yang konon katanya adalah anak-anak pembesar disekolah ini. Selanjutnya kelompok kedua adalah kelompok anak dengan latar belakang rata-rata, kelompok dengan jumlah paling banyak. Aku


berada dalam kelompok kedua, kami berada di lapangan rumput di atas bukit untuk


mendapatkan layanan kekerasan dari sekolah negeri yang menciplak pelatihan militer dengan asal-asalan. Sedangkan kelompok terakhir adalah kelompok yang


paling ‘menikmati’ sambutan senior. Mereka di-MOS-kan di tepi danau, diantara semak-semak yang rimbun. Aku melihat bayang-bayang mereka, para lelaki di kelompok ketiga. Sedangkan rombongan anak perempuan aku tidak melihat mereka. Para perempuan murid baru  berada di tempat lain, bisa jadi di ruangan di dalam kelas. Aku tidak tahu.


Kami anak laki-laki pada kelompok kedua, masih membentuk barisan disepanjang garis sisi lapangan,


membentuk garis lurus, bejongkok untuk melaksanakan tugas selanjutnya, mencabut


bunga rumput. Rumput Gurun begitu


nama umum sejenis rumput yang biasa tumbuh di lapangan bola. Dari sisi lapangan


yang satu ke sisi lapangan yang lainnya, membentuk sapuan lurus, mencabut bunga rumput itu.


Bunga rumput memiliki tangkai yang tegak, biji-bijinya tersusun di bagian ujung bagai bunga. Biji


yang sebentuk bunga itu sering  menempel


di sepatu atau celana dan selalu terbawa oleh orang yang bersentuhan dengannya.


Seperti sebuah kenangan pahit yang akan terus terbawa kemana pun kamu berjalan.


Yudi juga berjongkok tak jauh dariku. Bunga-bunga rumput yang ada di genggamannya sudah seperti


rangkaian bunga, banyak.

__ADS_1


“Liel …” Katanya lirih.


Dia mengenaliku walaupun kami berasal dari SMP yang berbeda, karena ayah kami


satu kantor. Ayah kami juga berteman.


“Kamu beruntung …,


rumput di lajurmu lebih jarang”


“He he , tapi aku tetap


tidak lebih dahulu, kita sama”


“Kenapa SMA disini?,


bukankah kamu pendaftar dengan nilai tertinggi”


“Oh ya …” Aku senyum bangga.


“Ayah yang menyuruhku


menjemput masa depan disini.” jawabku, “lebih dekat. Kemudian lebih hemat,”


Lanjutku lagi.


“Biaya ?” Tanya Yudi


lagi. Hemat bisa berarti efisien waktu atau biaya.


“Ya begitulah .“ Ayah


menyuruhku melanjutkan masa depan disini. Sebenarnya aku ingin SMA di


Pekanbaru, merantau. Tapi menurut ayah, aku masih terlalu labil untuk menuntut


ilmu dan pengalaman dalam perantauan. Terlalu berbahaya, lebih baik disini.


Atau mungkin ada alasan yang lain yang membuat ayah berpikiran demikian. Bisa jadi biaya, bisa jadi ayah masih ingin aku berada di rumah, menemaninya di rumah kecil kami, sebelum nanti aku kuliah, merantau ke kota.


“ Hei !!” Hardik


“Heh .. heh” Aku


terengah-engah, mencabut bunga rumput di depan. Aku dan Yudi telah tertinggal


dari barisan para pencabut rumput.


“Cepat, setelah upacara


penutupan kami ingin bermain bola ! “ Teriak senior menyuruh kami lebih cepat.


Rupanya inilah alasan senior menyuruh kami mencabut rumput.


***


Tugas mencabut rumput


telah selesai, kami anak laki-laki dari kelompok kedua berkumpul dan merapat,


menyusul kedatangan kelompok lainnya. Kemudian samar-samar tampak rombongan


anak laki-laki yang wajahnya putih oleh bedak tepung, memakai rompi dari karung


goni, memakai topi toga dari kertas karton berwarna hitam. Mereka bergabung


dengan kami, anak laki-laki dari kelompok kedua.


Atribut yang aku kenakan sama dengan anak laki-laki dalam rombongan yang datang. Wajahku juga


telah putih oleh bedak tepung, memakai kaos putih polos, memakai rompi dari karung goni, dan di leher kami tersangkut papan nama dan asal kelompok, misalnya Kendil, Copang, Sawang dan sebagainya, nama-nama aneh sebagaipanggilan semasa MOS. Tentu saja kalau ada sesuatu yang kurang dari atribut


yang tidak lazim itu  maka akan siap


mendapatkan perpeloncoan lagi. Begitulah, sesuatu yang membedakan aku dari


kelompok kedua dengan kelompok lainnya adalah warna topi toga dari kertas karton. Aku dari kelompok kedua sama-sama memakai topi toga berwarna biru. Warna langit dan laut.


Ketika semua kelompok

__ADS_1


laki-laki telah menyatu dalam satu ruangan, tiba-tiba muncul kelompok perempuan. Mereka berlari dengan wajah kegaduhan, berlari ke tengah lapangan


saat hitungan dimulai. Sampai terjadi kegaduhan keributan dari para senior OSIS.


Senior OSIS berkelahi, salah satu dari senior menangis, ia mengamuk. Tentu saja kami sebagai murid baru yang dipelonco menjadi bingung. Aku juga bingung dan cemas. Ini bukan


sandiwara ulang tahun. Ini hanya sebuah MOS, seperti sebuah sandiwara yang telah menjadi rahasia umum. Sandiwara kacangan.


Sandiwara kacangan itu akhirnya diakhiri dengan tepuk tangan. Aku juga tepuk tangan dengan malas.


Kemudian para senior memberikan ucapan permintaan maaf atas sandiwara kekerasan


yang telah mereka lakukan. Dendam berantai mereka telah terbalaskan.


“Kamu mau memaafkan mereka Kendil ?” Tanyaku pada anak lelaki di sebelahku. Dari label namanya, dia dipanggil Kendil.


“Tentu saja, tapi aku akan membalas lebih kejam pada anak baru tahun depan.”


“Dengan menjadi anggota OSIS tentunya, bagian dari mereka.”


“Kamu ?” Tanya Kendil berbalik.


“Aku memaafkan mereka, karena perintah Tuhan demikian, kita wajib memaafkan orang yang telah meminta maaf.”


“Kamu tidak mau membalas, dengan jadi anggota OSIS ?”


“Tidak,…”


“Mengapa ?”


“Karena meminta maafbegitu mudah, maka seharusnya memberikan maaf jauh lebih mudah, aku tidak ingin anak baru selanjutnya merasakan apa yang kita rasakan.” Jawabku. Tuhan memerintahkan


pada hamba untuk memberikan kemaafan adalah sebuah kewajiban. Begitulah, meminta maaf begitu mudah, maka seharusnya memberikan maaf jauh lebih mudah. Tapi yang sulit adalah melepaskan kenangan dari ingatan, seperti melepaskan


rumput-rumput gurun yang menempel di celanamu, sejauh mana kamu berjalan.


MOS telah usai, hari mulai meggelap, topi toga dari kertas karton murid baru dilempar tinggi-tinggi


sebagai sebuah seremoni. Topi toga itu dilempar jauh tinggi ke langit, kemudian jatuh ke tumpukan topi-topi toga karton yang terbakar. Aku juga melempar topi toga kertas karton berwarna biru. Jauh tinggi, seakan toga itu menggapai cita-citaku yang setinggi langit, namun pada akhirnya toga itu terhenti sejenak di titik tertinggi saat kecepatannya menjadi nol, dan jatuh kembali ke bumi. Toga


itu jatuh oleh takdir gaya gravitasi. Topi toga penggapai mimpiku, jatuh ke tumpukan karton yang terbakar. Gejolak api mulai membakar togaku. Aku lihat dari kejauahan. Api itu membayang dalam mataku, menjadi semangat menggapai


cita-cita, tiga tahun setelah senja hari ini.


***


Aku melihat bayangku di permukaan cermin. Pada bayangan itu, aku memakai dasi untuk pertama kali, sudah seperti eksekutif muda, pegawai kantoran. Aku juga memakai celana panjang untuk


kali perdana, karena celana seragam SMP masih celana pendek. Celana panjang


berarti mempunyai tanggung jawab yang lebih. Anak SMA sudah mampu berpikir abstrak dan logis menggunakan pola berpikir kemungkinan, sudah berkarakter, sudah memiliki literasi dalam kehidupan. Seorang anak SMA sudah layak untuk


diajak dalam rapat, paling tidak sedah diajarkan untuk terlibat dalam urusan berbangsa dan bernegara. Aku akan menjadi apa.


Aku sudah berpijak dalam landasan kedewasaan. Dan pada landasan itu aku akan membuat lompatan


menggapai cita-cita, yaitu gambaran diriku sendiri tiga tahun setelah ini. Aku akan menjadi apa.


SMA di Atas Bukit adalah landasan yang aku gunakan untuk menggapai cita-cita. Batu loncatan,


sebuah titian waktu yang akan menghantarkan aku pada masa di ujung waktu.


Diriku beberapa tahun setelah sekarang. Dan untuk itu, aku akan belajar sungguh-sungguh, untuk memberikan yang terbaik, untuk Ayah, untuk Emak.


Aku tersenyum pada cermin bersama simpul terakhir pada dasi seragam putih-abu-abu. Ternyata,


membuat simpul dasi tidak serumit yang aku pikir waktu SMP, di SMP kami tidakpernah memakai dasi. Bagimanapun dasi bagiku adalah lambang sebuah


keprofesionalitasan.


Aku berangkat dengan tas baru, sepatu baru, untuk mengenal lingkungan baru, mendapatkan teman-temanbaru. Aku berpamitan dengan mencium tangan Emak, dan berangkat bersama Ayah.


Perjalanan ke sekolah tidak jauh, sekolah dekat dari rumah. Saat aku sampai di sekolah, dan turun dari sepeda motor. Ayah berpesan padaku.


“Nak, baik-baik di sekolah”


“Pasti yah.” Kemudian ayahku pergi. Aku harus membalas jasa ayah, karena semua atribut baru ke


sekolah pada pagi perdana ini tidak didapatkan ayah dengan mudah. Aku tahu ayah yang membelikannya dengan menyisihkan sebagian dari gajinya

__ADS_1


__ADS_2