
Maret 2009.
Lihat resapi pahamkan jangan berhenti
Lalu tuangkan dalam bentuk tulisan
Teruslah berkarya karena menulis
Lebih baik dari pada mengingat
Hampir setahun aku merantau. Dan hampir setahun juga aku menggunakan personal komputer gratisan di sisi dinding di perpustakaan lantai dua. Hal yang pertama aku lakukan adalah melihat email yang masuk secara otomatis. Ada email yang masuk. Email dari Hasan, salah seorang teman di
komunitas buta warna.
“Salam persahabatan Liel. Hari ini di komunitas ada cerita yang membangkitkan motivasi bagi kita. Cerita tentang keberhasilan seseorang yang gigih menaklukan buku tes buatan Dr. Ishihara itu. Aku menautkan cerita hidupnya di email ini. Semoga kamu ikut bersemangat setelah membacanya.”
avatar said:
Tidak tahu bertanyalah, tidak bisa belajarlah, jika itu mustahil cobalah!!!! (Napoleon)
Semenjak SD saya terbilang berprestasi, yahhh juara 1 terus. Disegala bidang, saya selalu lebih unggul
dari teman-teman yang lain. Sejak SD pun saya sudah merasa mempunyai bakat yang serba bisa, mulai dari tes IQ, Pramuka, Beladiri, Atletik, sampai Melukis, bahkan Menabung, pokoknya
saya selalu tampil terdepan. Cita- Cita saya juga sering berganti-ganti karena saya merasa berbakat di berbagai bidang mulai dari menjadi Petani, Peternak,
__ADS_1
Arsitek, Ahli Elektro, ABRI, Pilot, juga PNS. Sampai terakhir di SMA saya dapat meraih rangking 3 NEM tertinggi. Dengan prestasi dalam NEM tersebut, untuk
melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri saya yakin bakal diterima dimana saja asal saya mau, begitu optimisnya.
Babak pertama dalam hidup saya kemudian dimulai, sambil menunggu Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri, saya mencoba tes masuk AKABRI dan tes pertama adalah kesehatan, termasuk tes buta warna
dengan buku buatan dr. Ishihara. Akhirnya dalam beberapa bagian saya tidak bisa membaca angkanya dan saya divonis positif BW, buta warna. Dan saat itu perang sudah dimulai.
Saya tidak bisa menerima begitu saja vonis itu. Saya mengulang tes ke beberapa Dokter Mata dan Rumah Sakit. Ternyata Vonisnya sama sebab alat yang
digunakan dalam tesnya juga sama, buku Ishihara. Saya merasakan apa yang teman-teman rasakan, depresi dan merasa tak berguna. Akhirnya saya bertekad akan mengalahkan Tes Ishihara tersebut. Dr. Ishihara Juga Manusia dan bisa salah. Selama ini saya melukis dengan warna-warna tidak ada masalah. Saya harus bisa.
Nah dengan tekad yang kuat saya membeli buku ishihara, walaupun agak mahal tapi tercukupi oleh tabungan saya. Buku Isihara itu terdiri versi lengkap 38 lembar, dan versi umum 24 lembar. Saya pelajari versi Buku Ishihara untuk tes kesehatan dengan seksama. Kemudian saya pelajari bagian halaman yang tidak bisa saya lihat angkanya. Ternyata buku itu memiliki kunci untuk beragam defisiensi warna. Misalnya, pada halaman uji buta warna merah, maka kumpulan titik- titik merah berada didalam sekumpulan titik- titik hijau. Untuk membuat ragu orang yang lemah terhadap warna merah maka sekumpulan titik merah itu di padukan dengan sekumpulan titik titik coklat kemerahan. Itu yang membuat penderita protonothia kesulitan melihat polanya. Oleh karena itu perhatikan bagian titik
warna yang paling banyak di luarnya. Dan fokuslah pada satu warna di dalamnya, merah atau hijau, lalu temukan angkanya. Sederhana kan ?
Saya siap menghadapi Tes Ishihara. Selanjutnya, saya berhasil menembus Fakultas Ekonomi dan Teknik Arsitektur dari Universitas ternama di
UMPTN , dan STPDN tanpa ada KKN, semua
berkat kebesaran Tuhan,dan doa Ibu saya.
Seleksi ketat telah saya lalui di STPDN termasuk lulus Isihara tes itu. Pada akhirnya saya putuskan untuk menjalani kuliah Di STPDN. Bak buk bak buk wahhh babak baru kehidupan ternyata baru dimulai, Sekolah Tukang Pukul Dalam Negeri, Sekolah Tempat Preman Daerah Ngumpul, Sekolah Tergantung Pada Dosen dan Nasib. Semuanya benar tapi saya tetap bangga dengan almamater saya yang telah memberi ujian hidup tak henti-hentinya yang hampir-hampir mendekati kematian, seperti yang pernah ditayangkan di TV. Tetapi Tuhan selalu ada bersama saya hingga saya menyelesaikan pendidikan. Di puncak Manglayang saya telah menjadi seorang praja sejati, seperti yang saya cita- citakan dahulu. Saya hormat sang merah putih.
Impian saya telah terwujud seperti mimpi, ternyata Negara masih memberikan saya
__ADS_1
kesempatan untuk mengabdi.
Dan saya membuktikan diri memenangkan pertarungan dengan Ishihara. Babak satu saya kalah oleh ishihara dan babak kedua saya kalahkan dia. KITA TUNGGU FINAL-nya Tuan.
Oleh sebab itu teman- teman boleh berkecil hati, frustasi dll divonis BW namun jangan terjerumus ke hal-hal negatif. Jadikan rasa itu sebagai bahan bakar untuk semangat juang yang lebih dahsyat, masih banyak kesempatan dan karir mulia di dunia ini. Bukankah Mark Elliot Zuckerberg sang milyarder penemu Facebook juga buta warna, parsial.
Email yang cukup panjang. seperti ada pemantik api
di dalam dadaku setelah membacanya. Perlahan- lahan semangatku tumbuh. Perasaanku bercampur aduk. Menyelami pengalaman beliau, orang yang terdahulu, yang telah banyak menjalalani asam garam kehidupan dan berhasil.
Cobaan boleh sama tapi cara kita menghadapinya akan berbeda- beda. Caraku menghadapi
masalah berbeda dengan dia.
Aku kembali mendengar suara- suara yang telah terekam di Amygdale-ku.
“Ini buku Ishihara. Jangan coba untuk menghapalnya karena buku ini ada ribuan versi.” Kalimat petugas RSUD saat aku pertama kali medical ceck up.
Mengapa dia mengatakan kalimat itu kepadaku. Padahal Buku Ishihara tes hanya ada dua
versi, versi 28 dan 36. Dan dalam beberapa versi itu ada lagi beberapa tipenya. Tidak sebanyak itu. Kombinasinya paling banyak hanya empat atau delapan macam.
Mengapa ia mengatakan itu kepadaku
Apakah ia takut aku menghapalnya. Dan menjadi seorang dokter ?
__ADS_1