ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Ishihara 5


__ADS_3

Senin, 11 Agustus 2008.


Pagi ini adalah hari pertama Aku dan Ayah bangun di kontrakan yang telah disewa selama 365 hari


kedepan. Tiga kamar masih baru, terletak dalam satu lajur. Aku menyewa kamar pertama pada awal lajur, kemudian ada kamar tengah yang masih kosong, dan kamar yang paling ujung di dekat kamar mandi telah dihuni oleh mahasiswa senior, yang saat ini sedang kosong karena libur semester panjang.


Di depan deretan kamar baru ada dua kamar yang jauh lebih besar, keduanya berada dalam satu deretan. Antara deretan kamar baru dengan kamar lama yang saling besisian hanya dipisahkan oleh koridor menuju kamar mandi. Kosan ini hanya memiliki satu kamar mandi, namun demikian ada dua buah sumur di belakang yang menyatu dengan kakus. Kalau kamar mandi di pakai,  sumur juga


dapat digunakan untuk mandi. Hal yang unik disini adalah sumur- sumur dibuat dengan batasan rendah, tentu berbahaya bagi anak kecil atau bagi seseorang yang ingin mandi di dalam kegelapan, bisa tercelup ke dalamnya. Tapi aku pikir air sumur tersebut tidaklah dalam. Di sini kawasan pantai dan lembah pegunungan, untuk mendapatkan sumber air tidak perlu menggali dalam, tercelup pun tidak akan tenggelam.


Kokok- kokok ayam bersahutan di pagi Darussalam, burung- burung berkicau di pepohonan, kambing


dan sapi bersuara khas suasana pedesaan. Kampung- kampung di luar Jalan Lingkar Darussalam adalah kampung yang senantiasa menjaga keasrian alam pedesaan. Lahan yang datar dengan ditumbuhi rerumputan dan pohon- pohon kelapa khas tepi


pantai, selain itu penuh pohon- pohon tinggi, jalan kecil di sepanjang rumah- rumah panggung dari kayu, kedai- kedai kopi yang senantiasa ramai berkumpul


para muda dan bapak- bapak yang pulang dari sawah. Pemandangan persawahan terhampar di sisi timur Limpok sampai ke ibukota kecamatan Lambaro Angan.


Padang untuk lahan persawahan dan kebun sayur- mayur disebut Blang. Dan dari kampung kecil inilah ada jalan pintas menuju bandara, Blang Bintang. Aku suka lingkungan seperti ini.


Dua kamar di depan yang berukuran besar di huni beramai- ramai oleh enam sampai tujuh orang dalam satu petaknya. Selain karena ukurannya lebih besar dan lebih murah kalau disewa bersama- sama. Kamarku lebih kecil dan baru. Kalau pun mau bersama paling banyak di isi dua orang. Kalau ada lawan yang mau tinggal bersamaku. Dengan senang


hati aku berbagi sewa. Bukankah berdua lebih baik dari pada sendiri.


Agustus adalah libur semester panjang. Dua kamar besar di depanku masih kosong. Begitu juga dengan


deretan kamar baru yang paling ujung, kosong. Penghuninya belum datang. Kampus juga masih sepi. Kecuali bagi para mahasiswa lama yang ingin lebih dahulu membayar uang semester dan para mahasiswa lama yang sudah enggan pulang kampung karena belum tamat juga, merekalah yang menghuni kawasan sekitar kampus. Tapi


nanti sore atau esok hari kampus akan ramai kembali. Karena jadwal pembayaran uang semester mahasiswa lama sudah dimulai, pembayaran secara manusal antri di Rektorat. Selain itu masih ada mahasiswa baru yang mencari kos yang akan

__ADS_1


meramaiakan sekitar kampus. Masih ada satu kamar kosong pada deretan kamar baru, kamar tengah.


Pagi ini Aku dan Ayah menguji perkakas baru kami. Pertama kalinya kami memasak memakai Ricecooker kecil khas mahasiswa. Penanak


nasi tersebut dilengkapi indikator yang berwarna merah untuk proses cooking dan indikator yang berwarna hijau untuk proses warming, nasi


telah masak.


“Tak !” Ricecooker berbunyi. Pedal penanak berubah kedudukan. Lampu indikator berubah warna menjadi hijau pertanda nasi telah masak.


“Bisa Nampak warna ini?” Tanya Ayah.


“Pasti Yah, hijau jelas sekali,” jawabku.


“Itulah pasti ada yang salah denga buku kismis itu. Lagi pula itu buatan manusia, apa namanya?”


“Salam…,” ada calon penghuni baru melewati ke kos kami.


“Salam …” Terdengar sapaan dari luar. Bapak kos membawa calon penghuni baru. Penampilannya seperti calon mahasiswa baru, datang dengan tas- tas besar dengan didampimgi oleh orang


tuanya.


Kami pun keluar. Aku perhatikan wajah calon penghuni baru tersebut bukan beraut Arab maupun Gujarat, juga bukan berkulit putih dengan hidung mancung dan alis tebal. Raut wajahnya sama sepertiku. Campuran genetik yang sedang- sedang. Ia bukan berasal dari Aceh. Ia berasal dari negeri yang jauh sama sepertiku Sumatra Bagian Tengah


pada umumnya.


“Liel. Dari Riau.” Aku mengulurkan salam.


“Boby dari Padang,”

__ADS_1


jawabnya,” dan ini pamanku. Dia yang mengantarkan ke Banda Aceh” jelas Boby.


“Salammualaikum Paman,”


ucapku pada lelaki yang mendampingi Boby.


“Salammualaikum,”


balasnya.


“Aku diantar Ayah. Kami dari Riau.”


“Pantaslah masih anak baru. Tamatan 2008?” Tanya Boby. Ia maklum Aku diantar Ayah.


“Iya kalau Boby?”


“2007. Saya telah kuliah di hukum sebelumnya he he,” jawabnya tertawa.


“Kalau begitu bang boby aku panggil. Lulus dimana bang?”


“Kedokteran”


“Kita sama,” jawabku.


***


 


__ADS_1


__ADS_2