
***Sembilan Belas.
Sembilan Belas adalah bilangan yang ajaib***.
Sembilan Belas adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya dapat dibagi dengan 1 dan dengan 19
itu sendiri. Dr. Peter Plichta berpendapat bahwa semua Formula Matematika dan angka- angka memiliki hubungan dengan dua kutub matematika dan alam semesta yaitu 19 dan 81. Bilangan 81 spesifik karena melengkapi bilangan 19, dimana
jumlah bilangan 19+81\=100 dan jumlah angka 1+9+8+1\= 19.
Tidak hanya itu analisis lebih lanjut ditemukan hubungan ajaib bilangan- bilangan tersebut
1:19\= 0,052631578947368421052631578947368421 …, angka tersebut berulang secara
periodik, berulang secara otomatis tepat pada digit ke-19 sesudah koma, dan dimulai lagi 052631578947368421 dan seterusnya. Hal menarik adalah jumlah angka 0+5+2+6+3+1+5+7+8+9+4+7+3+6+8+4+2+1\=81. Hal sebaliknya 1:81\=
0,012345679012345679 …, sekali lagi angka tersebut berulang secara perodik
secara urut namun dengan menghilangkan angka 8.
Aku suka angka 8, karena aku lahir dipenuhi oleh angka 8 pada tanggal 8 pada bulan 8 pada tahun
1989, 08-08-89 dan esok hari, hari jumat tanggal 8 bulan 8 tahun 2008, 08-08-08 yang disusun oleh triple angka 8 adalah ulang tahunku yang ke-19.
Sembilan belas tahun yang lalu aku dilahirkan. Dan aku bisa merasakan wajah bahagia ayahku ketika
__ADS_1
aku dilahirkan. Senandung azan menyimpan berjuta harapan ke telingaku mengalun syahdu. Wajahnyalah yang pertama kali kulihat sumringah yang bahagia. Kini aku tahu bahagianya wajah ayah ketika aku dilahirkan dulu. Ketika aku melihatnya sumringah melepas kepulangan tamu selepas acara kenduri syukuran aku lulus di Fakultas Kedokteran.
Malam ini rumahku yang biasa sepi begitu ramai. Ayah akhirnya sukses melaksanakan kenduri syukuran kelulusanku di Fakultas Kedokteran, menjadi dokter satu- satunya dan yang
pertama dalam generasi kami. Impian ayah terwujud. Ini bukan syukuran ulang tahunku, walaupun bisa diselaraskan demikian karena esok hari aku genap berusia 19 tahun, 8 Agustus 2008. Tetapi lebih kepada doa agar dalam perjalanan kami meraih cita- cita dilancarkan oleh Allah melewati segala aral melintang karena esok hari aku dan Ayah akan berangkat ke Banda Aceh, negeri yang jauh di ujung barat Negara.
Ayah berdiri di depan pintu, tak jauh dari aku. Masing- masing tamu meninggalkan rumahku. Mereka satu
persatu bersalaman dengan mengucapkan selamat kepada ayah. Aku melihat wajah Ayah sedemikian bahagianya. Laksana bunga matahari yang mekar setelah musim hujan berakhir. Ayah sumringah. Orang- orang itu, jiran, kerabat, handai tolan,
seluruh warga Kampung Gunung Menangis juga bersalaman dan mengucapkan selamat
kepadaku. Berbeda dengan Ayah, aku tidak sebahagia Ayah. Aku tahu segala sesuatu dapat saja terjadi. Aku ragu, bukan ragu pada do’a, tapi ragu pada jalannya takdir. Hari esok yang tak pasti. Retak tangan anak manusia tak ada yang tahu.
karena hal- hal yang dapat terjadi di Banda Aceh. Aku lebih mencemaskan Ayah. Aku tak sangggup melihat ayah kecewa. Seumur hidup baru dua kali aku melihat ayah sebahagia ini. Pertama ketika Ayah menyambut kelahiranku. Dan kedua ketika
aku lulus Fakultas Kedokteran, impian ayah.
***
Delapan angka keberuntungan, begitu kalimat yang pernah aku baca. Dan pada angka 08-08-08
pukul 08 lewat beberapa menit aku memeluk Emak, dan Ayah juga demikian, sebelum kami menaiki bus besar. Bus ukuran ini jauh lebih besar dari pada jurusan bus yang melewati Padang dan Teluk Kuantan. Bus ukuran besar ini hanya dinaiki oleh
mereka yang melakukan perjalanan jauh, antar provinsi, antar pulau, melewati Sumatra, ujung Jawa sampai Pulau Bali, melewati Kota Medan melewati Kota Surabaya. Ini baru sebagian kecil Indonesia.
__ADS_1
Indonesia yang aku ketahui sebelumnya hanya sebagian kecil dari Pulau Sumatra. Dan hanya pada
bagian tengahnya saja. Ternyata begitu luas negara yang dibangun oleh para Founding Father dahulu. Aku takjub. Dan negeri Aceh, Tanah Rencong, dan Serambi Mekah adalah negeri yang jauh. Aku merasa
kecil.
Emak berdiri di pintu pagar, gerbang halaman rumah kami. Ia melambai dengan mata berlinang. Kebetulan aku duduk disisi bus. Ayah disampingku. Kami membalas lambaian Emak.
“Terus do’akan kami…,”
kata ayah kecil yang jelas aku mendengarnya. Aku tahu di luar sana Emak hanya melihat gerak kata dari bibir Ayah.
“Emak …,” ucapku dalam lambaian. Aku tak tahu harus melanjutkan kataku dengan kata- kata apalagi. Rasa tak mampu diungkapkan dengan kata- kata. Sembilan belas tahun Emak menyayangiku
dan mengasihiku di rumah itu. Selama itu pula aku dididik dan dirawat, dijaga dari segala marabahaya. Kini aku akan pergi. Merantau, menuntut ilmu ke negeri yang jauh. Akan pulang hanya sesekali. Tinggallah Ayah dan Emak sepi di rumah
sepi kami nanti.
Aku paham Emak berlinangan airmata. Nun jauh di dalam hatiku mulai melembab basah. Saat bus
mulai berjalan. Pak sopir menginjak pedal gas melaju meninggalkan rumahku. Aku masih melihat Emak berdiri di tepian jalan. Aku terus melihatnya sampai bayangannya hilang ketika bus melewati tikungan. Aku meninggalkan kampung halamanku, Gunung Menangis. Ayah mengantarkan aku ke negeri yang jauh.
***
__ADS_1