
“Apa cita- citamu?”
Ada suatu kisah di tahun 1996, ketika aku pertama kali mengenal sistem pendidikan di Indonesia,
Dunia Sekolah. Aku masuk SD, karena di kampungku Taman Kanak- Kanak belum popular pada masa itu. Dari SD-lah secara formalitas pendidikanku dimulai.
Dengan langkah kecilku, aku masuk ke dalam ruangan besar dengan malu- malu. Ada banyak anak- anak yang sebaya denganku di ruangan itu. Kami semua didudukkan pada bangku dan meja yang ukurannya sedikit ketinggian bagiku. Meja dan kursi
itu tersusun rapi dalam ruangan menghadap ke arah papan hitam besar yang memenuhi separuh dinding. Anak- anak rebut yang berusaha di tenangkan oleh
seorang perempuan yang seusia dengan Nenek. Perempuan itu berdiri di depan.
Perempuan itu yang menjadi pemandu kami. Nama perempuan itu Ibu Guru. Ibu Guru memiliki sikap yang ramah dan penuh kasih sayang. Semua anak anak sayang pada
Ibu Guru. Aku juga.
Ibu Guruku kelas satu SD. Dia adalah guru pertamaku. Beliaulah yang memberikan pertanyaan pertama
padaku. Pertanyaan pertama bagi kami semua anak kelas satu SD.
“Anak- anak ibu yang pintar. Sekarang Ibu ingin tahu apa cita- cita Ananda?” Tanya ibu guru. Ibu
guru selalu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman yang penuh cinta. Bagiku secara ringkas kalimat itu berarti. “ Apa cita- citamu?”. Kami semua diminta
memberikan jawaban dimulai dari anak kecil yang duduk di barisan paling depan sebelah kiri.
Anak pertama mulai mengatakan cita- citanya. Pada mulanya ia takut. Tapi ibu guru pandai membujuk.
Beliau mengatakan bahwa orang yang mengatakan cita- citanya kepada orang lain
adalah sesuatu yang hebat.
“Huufff.” Telinga kiriku di tiup olerh anak yang disampingku.
“Cita- cita itu apa ?”
Tanya anak yang meniup telingaku. Ia bingung. Ia tidak tahu apa itu cita- cita.
“Dirimu setelah tua nanti.” Jawabku. Aku tahu itu meskipun aku tidak mempunyai ijazah TK. Aku tahu
__ADS_1
itu dari Emak bahwa cita- cita menjadi Power
Rangers itu tidak ada. Tidak ada bapak- bapak yang menjadi Power Rangers di Indonesia.
“Boleh menjawab yang sama dengan anak itu ?” Tanya anak kecil di samping kiriku lagi. Ia mengulangi pertanyaannnya barangkali karena cemas sebentar lagi gilirannya. Kemudian aku.
Aku duduk di sisi dinding sebelah kanan pada barisan kedua. Kini anak di sisi paling kiri telah
mengatakan cita- citanya. Aku memandang ke kiri melihat mereka menyebutkan cita- citanya.
“Menjadi Ibu Guru”
“Jadi Pilot Bu”
“Jadi Pilot Bu”
“Jadi Pilot juga Bu”
Jawab yang lainnya meniru. Sungguh mereka tidak kreatif.
“Jadi Polisi”
Aku paham Polisi dan Tentara adalah Pekerjaan yang disegani masa Orde Baru.
ABRI begitu orang- orang menyebutnya.
“Jadi Penyanyi seperti Nike Ardilla” Aku tahu nama itu di TV yang serig muncul di tiga stasiun TV di
rumah.
Hanya profesi- profesi itu yang kami tahu. Belum ada orang yang menjadi hacker pada masa itu. Internet
belum ada.
“Aku ingin jadi Presiden”
Jawab teman yang ada di sisi sebelah kiriku. Sekarang giliranku.
“Aku ingin menjadi…”
__ADS_1
Aku ingin menjadi apa?.
Aku terbaring di kamarku yang kecil dan nyaman. Kamar dengan kasur yang empuk
yang telah aku tiduri sejak dari SD dahulu. Mataku menerawang ke langit- langit kamar. Di atas lotemg itu seperti bargantung bintang- bintang. Dan pada bintang gemintang itu tergambar bayangan aku nanti. Setelah dewasa nanti dengan berbagai macam pakaian. Seragam yang mencerminkan profesi.
Aku ingin menjadi apa?
Aku bingung. Aku ingat anak- anak SD mengatasi kebingungannya, yaitu dengan
menulis pilihan- pilihan di atas potongan kertas. Kemudian melemparkannya ke atas secara bersamaan. Kemudian jatuh. Kertas- kertas itu terbolak- balik oleh angin sampai jatuh di lantai. Kertas yang jatuh dengan tulisan di atasnya
itulah yang dipilih. Dan kertas dengan tulisan yang tertelungkup itu bukan pilihan. Aku pun demikian, aku meniru anak-a ank SD. Aku menulis potongan-
potongan kertas dengan beragam profesi yang aku tahu. Aku menulis perawat, polisi, tentara, pilot, guru, dosen, pegawai Bank, PNS, dokter, pengusaha,
petani, nelayan, pedagang, penulis, pembaca berita, politikus, dan sebagainya, kecuali Power Rangers. Aku tahu bahwa Power Rangers itu tidak ada.
Kertas aku hamburkan tinggi- tinggi ke langit kamar. Kertas itu bolak- balik oleh angin. Turun oleh
gaya gravitasi bumi. Berpacu dengan waktu. Hatiku berdebar penasaran sampai semua kertas tergeletak di lantai kamar.
Aku melihat bayangan- bayangan kertas yang tertelungkup. Kemudian aku melihat satu kertas yang
terlentang. Aku membaca tulisan pada bagian bawah kertas itu. Isinya “ Dokter”.
Aku terbangun. Tidak ada kertas bertebaran di kamar kosku. Aku hanya bermimpi. Dan aku mengingat
mimpi yang baru saja akun alami. Satu kata yang aku ingat. Dokter.
Apa arti semua ini.
Haruskah dokter jalan yang aku pilih.
***
__ADS_1