
Satu Agustus 2008,
pukul 00:01, separuh bumi berada dalam kegelapan malam, senyap, namun di bagian
yang senyap itu, malaikat- malaikat Tuhan sedia menemani hambanya yang masih terjaga
untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Hamba yang senantiasa berdoa untuk
kehidupan akhirat dan dunia yang lebih baik. Hamba yang setia menunggu jawaban
dalam doa- doa yang telah dilantunkannya.
“Kringg…”
“Kringg..”
“Kringg…” Telepon di ruang tengah berdering.
Ayah, Emak dan aku keluar menuju ruang tengah. Di layar telepon tertera tanda plus, itu panggilan
dari luar negeri, kakak dari Malaysia. Kami telah meminta bantuan kakak yang tengah merantau di Malaysia untuk melihat pengumuman SNMPTN-ku lebih awal. Internet tidak ada di kampungku. Jaringan internet dan smartphone apalagi, sesuatu yang masih langka di tahun 2008.
“Mak…” Suara di seberang sana terdengar jelas, karena ini salah satu keunggulan operator
seluler dengan model telepon rumah ini. Hati kami berdegup kencang. Pengumuman
__ADS_1
SNMPTN pertama kali secara online, kakak telah janji melihatkannya di internet dari Malaysia.
“Selamat anda lulus di Pendidikan Dokter
Universitas Syiah Kuala”
Aku tak percaya, kami bertiga berpandangan. Mataku berkaca- kaca. Tuhan aku sujud. Doaku terkabulkan
oleh yang Maha Penyanyang di atas sana. Ayah mengelus punggungku dengan kasih
sayang, Ia berkaca- kaca. Harapan untuk hari esok yang lebih baik bagi kehidupan kami diijabahkan Tuhan. Aku mencium kaki Emak, karena dibawah telapak kaki Emak tersembunyi satu
gambaran surga, pesan Nabiku. Surga itu di bawah telapak kaki Ibu. Terimakasih doamu Emak. Semoga aku mendapatkan kemudahan- kemudahan hidup nantinya, disetiap perjalanan hidup.
“Emak ….Ayah…..”
***
Hari pertama di bulan agustus adalah hari yang bahagia bagi sebagian mereka yang lulus SNMPTN.
Sekaligus juga hari yang mengecewakan bagi mereka yang tidak lulus SNMPTN, kegagalan yang tertunda. Melalui media sederhana, SMS kami saling berbagi informasi tentang kelulusan kami. Kami saling berbagi tentang informasi kelulusan kami di
seluruh Indonesia. Mencari teman, teman baru untuk perjuangan selanjutnya.
Kabar aku lulus Fakultas Kedokteran Universitas Negeri menyebar sedemikian cepatnya, keseluruh penjuru kampung kami, Kampung Gunung Menangis. Pagi ini, ketika aku melihat matahari dari jendela di belakang rumah. Aku melihat bahwa air mata yang mencucur dari tebing gunung itu pagi ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata kebahagiaan
__ADS_1
karena haru. Gunung itu ikut bahagia. Gunung
menangis untuk pertama kalinya tidak menangis. Ia bahagia setelah salah satu tumpah darahnya lulus fakultas kedokteran, calon dokter, calon orang sukses
yang akan banyak menolong orang lain. Yang akan mengharumkan nama kampung ini, Kampung Gunung Menangis.
“ Liel selamat ya.“ Adi menjabat tanganku.
”Jangan bersedih perjuangan kita masih panjang. Kawan.” Aku membalas jabatannya. Adi tidak lulus
SNMPTN di kedua pilihannya. Aku mengingat pengorbanan biaya dan tenaga saat
kami berjuang bersama dahulu.
“Tetap semangat. Tentukan langkah selanjutnya.” Ulangku. Mata Adi berlinangan. Aku memeluknya.
“Aku akan kuliah Liel. Aku tetap akan kuliah. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku” Kata Adi.
“Ya Temanku.” Aku senang saat Adi mulai semangat. Ia adalah keluarga petani. Tapi ibunya sangat
luar biasa memberinya semangat dalam menempuh pendidikan. “Hanya pendidikan yang dapat mengubah masa depan seseorang.” Begitu pesan
Ibu Adi.
“Aku akan mengikuti ujian masuk jalur lokal universitas negeri.” Kata Adi.
__ADS_1
“Meskipun Biayanya mahal” Lanjutnya.