ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Sembilan Belas 2


__ADS_3

“Treett….” Handphoneku


bergetar. Ada pesan masuk.


“Assalamualaikum. Salam kenal Liel ini Echa. Kebetulan Saya juga lulus


Fakultas kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Saya dapat nomor dari teman sesama


pesantren di Padangsidimpuan.” Begitu pesan yang aku baca bersyukur aku mendapatkan teman yang mempunyai tujuan yang sama. Nanti kalau ada kesulitan di Banda Aceh kita bisa berbagi. Dan segera aku mebalasnya.


“Walaikumsalam. Salam kenal juga Echa. Dapat nomor dari Imam ya? Kapan berangkat ke Banda Aceh?”


“Iya dari Imam. Echa berangkat Hari Jumat tanggal delapan. Tanggal 11 pendaftaran ulang sudah dimulai” Echa menyampaikan Informasi pendaftaran


ulang. Ini sangat berguna untuk persiapan keberangkatanku nati. Sebelum


berangkat harus ada perencanaan yang jelas tentang transportasi, penginapan, dan segala proses lainnya di Banda Aceh.


“Aku berangkat tanggal 8 juga Echa. Terimakasih informasinya.” Aku menekan tombol send.


“Terimakasih kembali. Sampai jumpa di Banda Aceh.” Begitu pesan


terakhir yang aku terima berbarengan dengan namaku dipanggil oleh petugas


poliklinik umum RSUD. Aku memasuki ruangan meninggalkan ayah di bangku tunggu.


Petugas itu perempuan. Dia bukan dokter. Seorang Nurse mungkin. Aku diminta berdiri di atas sebuah timbangan yang lengkap dengan pengukur tinggi badan. Lalu dia mencatat berat badan dan tinggi badanku, mengisi kolom usia dan golongan darah pada kertas yang ia pegang. Setelah itu aku


disuruh lagi berbaring di ranjang periksa. Dia mengikat lenganku, meletakkan stetoskop di dadaku, mengukur tekanan darahku. Terakhir dia menanyakan riwayat kesehatan dan penyakit dalam. Aku jawab tidak ada. Karena selama ini aku tidak pernah menderita penyakit dalam. Segalanya baik- baik saja.


Setelah aku bersiap pergi petugas itu mencegahku.


“***Tunggu dulu,” katanya.


“Apa lagi?” tanyaku.


Ayah telah lama menunggu di luar***.


“Ada satu tes lagi.”


“Sebentar, ini !”


Petugas itu meletakkan sebuah buku di depanku. Kami duduk satu meja berhadapan.


“Ini angka berapa?”

__ADS_1


Tanyanya pada setumpuk titik- titik abu- abu yang di tengahnya titik- titik jingga. Setelah aku perhatikan ada angka di dalamnya.


“Dua belas.” Jawabku.


Jelas aku melihatnya.


“Kalau ini?” Petugas itu terus membalikkan lembaran buku itu. Hatiku berdebar- debar. Pada lembaran


berikutnya titik- titik itu telah terdiri dari beragam warna.


“Hmmm.” Aku tidak secepat tadi melihatnya.


“Perhatikan dengan cepat.”Petugas itu mendesak.


“Delapan.” Jawabku.


Angka delapan dibentuk dengan gabungan warna merah muda dan warna merah tua di


dalam sebuah kumpulan titik- titik hijau dan coklat. Kalau salah- salah aku bisa menyebut angka tiga.


“Ini?”


“Enam.” Jawabku. Aku sudah paham aturannya.


“Ini?”


“Ini?”


“Dua Hmmm,” aku tidak lagi melihat jelas angka disebelahnya.


“Nol. Dua Puluh.”


“Oh. Hmm.” Petugas itu lalu langsung melewatkan halaman setelahnya. Ia langsung menuju halaman akhir. Seperti halaman khusus.


“Coba ikuti garis ini. Dimulai dari sini!” perintahnya. Kali ini tidak menerka angka. Seperti permainan anak TK yang mencari jalan keluar dari sebuah labirin. Aku meletakkan jariku. Jariku mengikuti garis yang dibentuk dari titik- titik hujau terus-


terus sampai di ujungnya.


“Selesai.” Jawabku.


“Baiklah… Kamu buta warna.” Vonisnya.


“Hak,” aku tersentak.


Kemudiam terdiam hening.

__ADS_1


“Kamu buta warna parsial.”


Kamu buta warna parsial. Kalimat itu terdengar memecah ruangan itu, memenuhi ruangan kepalaku. Aku melihat ke arah pintu. Ayah telah berdiri


disana. Kemudian Ayah masuk. Ia cemas ada sesuatu yang tidak beres.


“Ada apa !?” kata Ayah cemas.


“Dia?” Ayah terjejut,”tidak mungkin. Seumur hidup anakku tahu semua warna,” ayahku menjelaskan,”pasti ada yang salah. Dia telah lulus kedokteran.”


“Kedokteran!?,” petugas itu juga terkejut,”pasti nanti dikeluarkan.” Vonis petugas itu. Aku terkejut.


Masa depanku, impian ayahku, beasiswa perusahaan minyak yang telah aku terima akan hilang bila aku dikeluarkan. Tolong


jangan katakan itu.


“Tidak akan,” kata Ayah.


“Baiklah.” Petugas itu


kembali membuka buku ajaib itu. Ia seperti memilih bagian khusus yang aku tidak


dapat membacanya. Ia curang.


“Baca ini?”


“Hmmm. Lima,” jawabku.


“Hmmm.” Petugas itu tersenyum kepada Ayah, senyum cemoohan.


“Ahhh….” Ayah memandangku dengan wajah yang pucat.


“Tiga…,” bisik Ayah. Aku hanya melihat satu kelokan di bagian bawah. Sedangkan kelokan di bagian


atas yang membentuk angka tiga, aku tidak melihatnya. Aku merangkai warna dari titik- titik itu membentuk patahan siku- siku terbalik yang membentuk angka lima.


“Tidak mungkin,” kata Ayah.


“Ada yang salah dengan buku ini,” lanjut Ayah lagi.


“Ini buku Ishihara. Jangan coba untuk menghapalnya karena buku ini ada ribuan versi.” Ancam petugas


itu.


Ada ribuan versi.

__ADS_1


Frase tersebut terekam di memoriku.



__ADS_2