
“Tapi STAN tak bisa masuk…”
Apa iya ?. Aku ingin memastikan. Sebelum kuliah di mulai aku harus menyempatkan diri ke warnet. Tak ada waktu menunggu. Aku tidak suka
menunggu. Aku berjalan cepat menuju warnet terdekat di gerbang utama. Aku
berlari menembus gerimis. Di bawah lengkungan pelangi harapan, matahari pagi
dan gerimis yang hangat aku membiarkan kemejaku basah. Aku ingin secepatnya ke warnet.
Aku terus menekan cursor.
Aku membuka lembaran demi lembaran halaman virtual. Pada halaman persyaratan memasuki STAN di situs Departemen Keuangan itu, aku mencoba menekan cursor ke arah bawah. Hatiku
berdegup kencang. Aku ingin lulus STAN, sekolah dan bekerja di departemen keuangan Negara ini. Aku ingin menjadi PNS dengan mengelola keuangan Negara dengan jujur. Hal itu bisa membuat Ayah dan Emak bangga. Aku bisa mengganti
kesedihan ayah. Dan ternyata…
Ternyata masih ada kesempatan untuk memasuki STAN. Rupanya dulu aku salah paham, prodi yang tidak bisa aku masuki hanya kepabeanancukai
karena menuntut kejelian mata untuk membedakan warna pita cukai. Sedang prodi
yang lain pemerintah masih memberikan kesempatan. Aku bisa….
Harapan….
__ADS_1
Awan hitam telah mengguyurkan hujan
Kini kembali celang langit kehidupanku
***
Pada tanggal 28 Juni
1914 Adipati Agung Franz Ferdinand dibunuh oleh oleh seorang nasionalis Yugoslavia Gavrilo Princip di Sarajevo. Peristiwa ini memicu awal perang dunia
pertama. Berbagai Negara bersatu di bawah berbagai kepentingan dalam perang, dari
barat sampai ke timur, sampai timur juah, jepang.
tergolong jagoan Asia dalam perang dunia sudah dipenuhi dengan beberapa pemuda
terbaik yang ahli dalam segala bidang ilmu sains, baik kimia, nuklir, fisika dan pakar persenjataan. Jepang memerintahkan untuk mengeksplorasi dan
memproduksi persenjataan Jepang.
Pada saat produksi dan riset persenjataan Jepang sudah dimulai, ada beberapa kendala yang dialami oleh mereka. Mereka belum bisa menyempurnakan pengembangan teknologi atom dan nuklir
dikarenakan beberapa tenaga ahli mereka merasa kesulitan membedakan warna pada
unsur – unsur kimia pembuat nuklir berbahan atom untuk persenjataan. Kendala ini kemudian disampaikan pada Tokyo University yang mana di dalamnya ada seorang Dokter pakar mata bernama Shinobu Ishihara.
__ADS_1
Pada tahun 1910 Dr. Shinobu masuk ke militer Jepang dimana beliau menjadi instruktur di
kedokteran militer Jepang. Di sana selain memeriksa dan mengobati para pasien, beliau juga diminta untuk mengetest calon anggota militer Jepang untuk ketidaknormalan pada mata. Pada awalnya, dr. Shinobu Ishihara menggunakan symbol Hiragana dalam lukisan cat air untuk memeriksa ketajaman mata para tentara terhadap warna.
Metode yang digunakan Shinobu Ishihara ini cukup efektif menyeleksi siapa saja anggota militer Jepang
yang normal dan mana yang susah membedakan warna. Bagi siapa yang kesusahan membedakan warna, maka mereka di tempatkan di bidang yang tidak berhubungan dengan unsur kimia. Sementara yang normal bisa kembali dipekerjakan sebagai engineer pembuat persenjataan kimia Jepang.
Akhirnya, setelah Dr. Shinobu Ishihara bisa menyelesaikan masalah militer Jepang itu, nama beliau semakin terkenal. Apalagi di kemudian hari dia menerbitkan buku khusus yang
diperuntukkan bagi semua instansi untuk tes buta warna. Beliau menerbitkan buku
The Ishihara Color Vision Charts pada tahun 1918. Hingga saat ini hampir se-abad
penemuan awalnya, buku ishihara masih menjadi primadona utama dan pertama
sebagai media pengetes seseorang, apakah dia normal atau buta warna.
Nama dr. Ishihara mulai dikenal dunia secara luas setelah beliau menerbitkan buku tes Ishihara . Bahkan seabad setelah Buku Ishihara terbit, sampai saat ini, buku tersebut masih
menjadi salah satu pilihan utama hampir di semua negara untuk membedakan pasien
yang dapat membedakan warna atau tidak. Termasuk Indonesia setiap tahun lebih dari 100.000 generasi emas yang memiliki potensi dan kemampuan harus melewati tes Ishihara untuk menggapai cita-cita membangun Negara, seperti yang dituliskan dalam konstitusi dahulu.
__ADS_1