
Jalan Lingkar Darussalam, Awal April 2009.
Kawasan Darussalam, Banda Aceh, sampai seluruh Indonesia di penuhi oleh Spanduk- spanduk partai dan calon legislatif berderet dimana- mana. Letaknya ada yang digantung di gerbang gang, gerbang jalan
kampung sampai tiang listrik dan batang
pohon. Bahkan ada stiker- stiker calon legislative yang berserakan di jalan, di serak sebegitu saja. Aceh telah memasuki babak baru kehidupannya. Ini pemilu
yang pertama setelah bencana Tsunami. Ini pemilu pertama setelah MoU Helsinski, setelah deraan konflik berkepanjangan, Aceh bangkit melupakan masa lalunya, menatap hari esok yang cerah.
Ada tiga partai lokal menyemarakkan
pemilu aceh. Hanya di Aceh, dan ini bukti kekhususan Provinsi Aceh. Secara De Facto Aceh telah telah merdeka. Aceh telah diberikan kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri, namun masih dalam
naungan NKRI. Otonomi khusus.
Aku mulai melangkah melupakan masa
lalu dan menjadikannya sebuah pelajaran untuk menatap masa depan yang lebih
baik. Sama seperti Aceh, aku juga mulai melangkah melupakan masa lalu dan menjadikan pelajaran untuk menatap masa depan yang lebih baik. Aku menjalani kuliah dengan sebaik- baiknya tanpa mengabaikan setiap kesempatan yang datang.
Di Ujung Indonesia jadwal kuliah pertama di pagi hari
dimulai lebih lambat 45 menit. Matahari selalu terlambat muncul. Kira- kira ketinggian matahari pada 7:30 WIB di Teluk Kuantan adalah sama dengan 8:15 WIB di Banda Aceh.
Keputusanku untuk tetap kuliah di Banda Aceh akhirnya dapat menyelamatkan
beasiswa perusahaan minyak tahun pertama. Beasiswa itu terasa sangat membantu
karena keadaan telah berubah. Di Akhir tahun 2016 krisis ekonomi untuk harga komoditas melanda Kampung Gunung Menangis, Lembah Kuantan, dan sebagian Indonesia. Harga karet dan sawit turun drastis. Wajah Kuantan yang makmur oleh
karet yang sekitar 17 ribu/kg turun drastis ke 2ribu/kg. Krisis ini membuat orang Kuantan kembali lagi menjadi pendulang emas seperti beberapa abad silam. Oleh karena itu Emak masih berjalan ke kebun di awal pagi untuk menorah getah karet demi kelangsungan kuliahku. Hal itu membuat aku terharu. Aku harus sukses.
Aku bergegas pergi kuliah. Seperti biasa langkahku terburu memasuki jalan lingkar Darussalam. Namun adakalanya di depan kos aku dan Rizqi
__ADS_1
berangkat bersama. Kami berangkat bersama disambut hangatnya sinar matahari pagi
di ujung Indonesia. Aku dan Rizqi berjalan lurus. Sampai terpisah di persimpangan fakultas. Rizqi berjalan ke kiri menuju Fakultas Kedokteran jalan
masa depannya. Sedangkan aku melanjutlan langkah lebih jauh ke Fakultas FMIPA, belajar hitung- menghitung di Program Studi Matematika.
Pagi ini aku melangkah tidak seperti biasanya. Biasanya aku berbelok menuju ke arah gedung kedokteran hewan kemudian ke arah FKIP sampai ke
FMIPA. Tapi pagi ini aku mengambil route lurus setelah melewati Fakultas Kedokteran. Aku mengambil route yang lurus karena
mendekati FT Kimia rinai mulai membasahi tubuh bumi, menderas menjadi gerimis
lebat. Aku berteduh di gedung yang baru rampung dibangun, di samping FT Sipil. Pandanganku tertuju ke barat di kecerahan langit terlihat lengkungan indah, itu pelangi. Tapi bukan hanya ada satu pelangi, tetapi dua pelangi di langit Darussalam.
Gerimis
turun lembut
berirama ritmis
namun turun lebih lama
dan sering menguji sabar kita
untuk menunggu reda
hanyalah sang waktu yang tahu
dan ku yakin
pelangi selalu muncul
sehabis gerimis
Dalam kesendirian aku mengetik puisi itu di handphone. Cukup panjang bila di tulis di
__ADS_1
SMS. Tapi aku tulis juga. Dan aku kirimkan untuk sebuah nomor yang pemiliknya
belum aku temui juga.
“Tett!!” Bunyi pesan masuk, pesan balasan dari nomor yang kulirim.
“Aku yakin ada. Ada
pelangi seusai gerimis dalam hidupmu.” Begitu bunyi pesan balasannya. Dalam kalimat itu menguraikan harapan setelah kukira matahariku melayu di pagi yang lalu.
“Teet…!” Ada SMS masuk lagi dari nama yang sama.
“Bukankah masih ada KeSNMPTN ke dua, tahun ini. Teman apakah berencana ikut SNMPTN lagi? ” Isi
SMS itu.
“Ia Teman. Tahun ini ikut lagi dengan perencanaan yang lebih matang. Semoga.” Aku mengirim SMS.
“Semoga berhasil. Yang lain tidak ikut ? STAN misalnya.” SMS balasan kembali.
“Ada persyaratan butabwarna. Tidak bisa” Aku ingat bahwa aku pernah melihat persyaratan tes STAN
di internet adalah termasuk tidak buta warna.
“Saya rasa bisa. Mungkin dulu kamu kurang teliti melihat atau terlalu terburu- buru membacanya”.
Aku tertegun membaca SMS yang baru terima. Buta warna parsial boleh masuk STAN. Apakah iya ?. Atau aku kurang teliti melihat persyaratan tes STAN dahulu.
Mungkin saja ada penjelasan- penjelasan tambahan untuk program studi tertentu. Atau aku dahulu sedang larut dalam emosi setelah membaca testimoni- testimoni kegagalan.
“Oh ya. Nanti saya lihat kembali. Terimaksih informasinya teman.”
***
__ADS_1