ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Kenangan Pertama


__ADS_3

Dari Si Bijih Mata untuk  Separuh Nyawa


Ayah


Pahlawan separuh nyawaku


Dalam kerut wajahmu


Kau tersenyum untukku


Kulihat pudar cahaya matamu


Bagaimana bisa kumengganti


Sedang Matahariku layu walau pagi


Seperti senja punah dari bumiku,


Ayah


Ayah


Kini rapuh tulangmu


Putih puncak tubuhmu


Ku yakin tak akan luntur merah darahmu


Ayah temukan persembuyian takdir untukku


Ceritakan kisah anakmu


***


“Dua Belas” Jawab anakku. Kemudian Dokter Spesialis Mata yang berada di depanku terus membalik lembaran Buku Ishihara ke halaman selanjutnya.


“Dua …” Anakku terdiam.


“Ayo angka berapa lagi ?”  Tanya Dokter itu kembali.


“Nol “ Jawab Anakku.


“Coba perhatikan lagi”


Ulang Dokter tersebut. Aku yang berada di samping anakku, ingin membisikkanangka 6 yang jelas aku melihatnya.


“Sstt” Dokter itu memberikan isyarat padaku agar diam. Tapi anakku tetap menggeleng ia tak mampu


melihatnya.


“Seperti kismis”


“Coba ikuti warna merah muda ini memakai jari” Perintah Dokter agar anakku meletakkan ujung jari

__ADS_1


telunjuknya pada titik merah muda dalam sekumpulan titik titik hijau.


Anakku mengikuti jalannya gugus warna tersebut, sebentar tapi ia berbelok pada warna hijau tua.


Aku terkejut. Dokter tersebut menatapku. Kepalanya menggeleng pertanda kami gagal.


“Buta warna parsial,hijau.”


“Keturunan” lanjut Dokter tersebut.


“Bagaimana mungkin, diamampu melihat hijaunya daun, dinding, dan corak dibajuku !!” Aku protes tidak


terima.


“Iya kan nak …?”


“Iya kan, Kamu bisa kan? “ Aku berusaha menyakinkan agar vonis dokter tersebut salah.


“Bisa Dokter. Bisa “Jawab Anakku.


Dokter itu tersenyum,”Buta warna parsial bukan berarti tidak bisa melihat warna tapi  kecerahan warna berkurang, sehingga sulit dalam membedakan beberapa warna.”


“Berisiko dalam pembedahan.”


Anakku, Si Bijih Mataku. Kini, Dia menatapku dengan pandangan kosong. Wajahnya yang mencerminkan


separuh wajahku kini tanpa ekspresi. Ia diam, menunggu gambaran emosi yang akan


aku luapkan. Satu ekspresi kehancuran yang tak mungkin aku tunjukkan, karena anakku selalu mengikuti emosi hatiku, mengikuti apa yang aku pinta, apa yang aku mau untuk dia. Bila aku bahagia maka anakku akan menjadi lebih bahagia, dan


tidak boleh melihatnya, cukuplah aku yang hancur karena harapanku sendiri. Aku tidak mau bila anakku mengikuti kesedihanku.


“Bagaimana mungkin ini Dokter !”


“Dia anakku…”Bisikku pada dokter spesialis mata.


“Dia anakku, anak lelakiku satu- satunya”


“Si bijih mata, ujung pengharapanku. Tak ada lagi yang aku punya selain dia “ Tambahku berkali-kali.


“Dia anakmu Pak, dia adalah darahmu, namun semuanya terjadi bukan karenamu.” Jelas Dokter didepanku dengan suara yang dalam, sangat serius. Matanya menatap anakku yang menunduk  diam. Di ruang yang temaran ini, anakku, lelaki yang begitu belia seperti menanti vonis persidangan oleh kasus yang tidak ia pahami.


“Siapa …?” mulutku terbuka mengeluarkan kata itu, aku siap menerima apapun yang terjadi. Menguak misteri setelah 18 tahun aku menjadi ayahnya, selama kurun waktu itu aku sudah menaruh pengharapan pada Bujangku itu.


“Deuteronophia, tertaut pada kromosom seks”


“…” Aku terdiam tak mengerti.


“Cetakannya yang salah, Ibunya, Istrimu” Dokter itu berpaling, wajahnya berpaling ke kanan menjauhi


wajah Anakku.


“Mengapa ?”

__ADS_1


“Karena perkawinan adalah pertemuan kromosom secara acak, seperti satu pancing di dalam kolam


jutaan ikan”


“Maksudnya ?”


“Partial Colour Blindness diturunkan dari sel telur istrimu, buta warna parsial hijau.”


“Bukankah dia masih mampu melihat hijaunya daun, Dokter …”


“Dia akan kesulitan membedakan hijau muda dengan coklat, bagi seorang dokter berisiko dalam


bedah-membedah.” Jelas Dokter itu kembali.


“Tapi dia sudah lulus kedokteran, kedokteran negeri, satu-satunya calon dokter dalam trah kami.”


“Lihatlah dia begitu pintar ! Dialah pengharapanku” Aku menghiba, namun aku tahu bahwa dokter


tersebut bukanlah penentu. Demi masa depan anakku,  aku tak boleh menyerah. Seorang ayah tak


boleh menyerah demi anaknya. Kemudian seberkas cahaya menerangi meja konsultasi


dan dokter spesialis mata itu tersenyum, “Dahulu teman saya semasa kuliah ada


juga yang mengalami kasus seperti ini. Sekarang kariernya hanya sebagai dokter umum.”


“Berangkatlah ke Banda


Aceh, mudah-mudahan cita- cita kalian tercapai.” Lanjutnya.


Pada akhirnya, aku dan anakku pulang, kami dua anak-beranak meninggalkan klinik dokter spesialis mata. Dengan mengendarai sepeda motor tua, aku pulang dengan hati yang  kaku. Tempat dimana harapan selama ini bertumpu kini terasa beku. Seperti kaca, indah dan kuat, namun kini rasanya


begitu rapuh, dapat pecah kapanpun yang dimau oleh waktu. Sepanjang perjalanan aku diam. Sediam senja saat mata langit tenggelam dalam rawa-rawa di pingiran kota Teluk Kuantan.


Waktu terasa begitu melambat dalam perjalanan kami pulang, entah apa yang akan aku katakan pada


istriku, ibu dari anakku. Cahaya matahari mulai jingga saat ia tenggelam di jjung rawa-rawa di pinggiran kota. Aku memutar gas sepeda motor agar waktu


berlalu lebih cepat, aku ingin semua keraguan ini berakhir, secepatnya. Aku berada di tikungan di jalan ujung rawa. Gerimis mulai datang. Awan hujan


mengubah warna langit jingga  menjadi


biru tua. Dan matahari meninggalkan garis pelangi, sekejap sebelum ia tenggelam, benar-benar tenggelam. Pelangi yang sesaat itu juga segera hilang bersama hilangnya cahaya matahari, segera langit menggelap. Begitu cepatnya


Sang Maha Pencipta mengubah warna langit.


Pergantian senja dan terbit matahari adalah waktu dimana  Tuhan terasa begitu menjelma menjadi lebih dekat, bahkan dari nadi kita sendiri. Dan itu membuat kita merasa begitu kuat kala permasalahan hidup melanda sebesar apapun. Perubahan warna langit saat senja dan pagi begitu ajaib. Allah begitu mampu mengubah kedua waktu itu, apalagi hanya merubah nasib anak manusia.


“Ayah…”Sebuah suara memecah kesunyian.


“Bagaimana kita Ayah ?” Tanya anakku.


“Nak kita akan berangkat ke Banda Aceh “

__ADS_1


“Kita akan menjemput cita-cita sejauh apapun sampai ke Ujung Negara.” Janjiku.



__ADS_2