
Edensor adalah nama
pedesaan di Inggris dengan pemandangan yang begitu indah, dihiasi lahan
pertanian dan bukit- bukit rumput seperti bukit kaum teletubbies. Keindahan
Edensor itu diabadikan Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, Edensor. Begitu
juga dengan Kuantan, komplek perkantoran Pemda Kuantan berada di atas
perbukitan yang indah. Gedung- gedung tampak bergantungan dengan gagah di atas
bukit. Bukit- bukit itu juga dihiasi taman yang indah dan jalan yang berkelok.
Dari atas bukit itu terhampar pemandangan Lembah Kuantan, kota dengan segala
hiruk pikuknya. Sehingga tidaklah heran jika Komplek Perkantoran Kuantan begitu
mengesankan di hati penduduknya.
Aku kini tengah berada
di Komplek Perkantoran Kuantan, mengerjakan tes beasiswa perusahaan minyak,
seleksi terakhir untuk menjadi satu diantara lima. Seleksi terakhir untuk
menjadi penerima beasiswa perusahaan minyak.
Lembar jawabanku telah
terisi penuh. Ada satu bagian yang kosong. Ada satu jawaban yang belum terisi.
Pola jawaban pilihan ganda tersebut membentuk sebuah garis miring apabila
dihubungkan dengan jawaban soal sebelumnya dan jawaban soal setelahnya.
Haruskah aku mengisi opsi B? sehingga pola garus jawaban tersebut terhubung
utuh.
Akh !, Aku tidak suka
dengan sebuah kemungkinan, mengambil keputusan tanpa landasan teori. Ini soal
peluang. Hal yang berhubungan dengan keberuntungan dan kepastian. Ini hal yang
berhubungan dengan nalar dan logika. Logika dapat diprediksi tanpa mengetahui
hukum sebelumnya. Aku akan memecahkan soal ini.
Dani
memiliki 18 kelereng di dalam kantong, 7 warna kuning, 5 warna biru dan 6 warna
merah. Berapakah jumlah minimum yang harus diambil Dani untuk memastikan bahwa
dia mendapatkan setidaknya 1 kelereng untuk setiap warna ?
a. 13
b. 12
c. 7
d. 15
e. 14
Aku memejamkan mata.
Alam khayalku merenungi soal ini. Kata kunci yang harus diingat adalah jumlah minimum, jumlah yang paling
sedikit, dan pasti satu kelereng
untuk setiap warna.
Andai Dani paling
beruntung dia mengambil kelereng kuning pada pengambilan pertama, kelereng biru
pada pengambilan kedua, dan kelereng merah pada pengambilan ketiga. Jadi Dani
telah mendapatkan masing- masing satu kelereng untuk setiap warna dalam tiga
kali pengambilan. Tetapi hal ini adalah sebuah keberuntungan bukan kepastian.
Andai Dani paling sial.
Kondisi pertama, Dani mendapatkan 12 kelereng dengan warna kuning dan biru,
tentu pada pengambilan ketiga belas Dani pasti mendapatkan kelereng berwarna
merah. Kondisi kedua, Dani mendapatkan 13 kelereng dengan warna kuning dan
merah, tentu pada pengambilan keempat belas Dani pasti mendapatkan kelereng
berwarna biru. Kondisi ketiga, Dani mendapatkan 11 kelereng dengan warna biru
__ADS_1
dan merah, tentu pada pengambilan kedua belas Dani pasti mendapatkan kelereng
berwarna kuning. Berdasarkan tiga kondisi yang pasti tersebut, Dani melakukan
pengambilan kelereng yang paling sedikit adalah kondisi ketiga yaitu dua belas
pengambilan.
Aku menjawab B, karena
jawabannya B. Pada kehidupan nyata mengandalkan nalar dan logika memiliki
jaminan kepastian tentang kebenaran dibandingkan mengandalkan naluri dan
insting berdasarkan keberuntungan.
Aku telah menyelesaikan
tes beasiswa perusahaan minyak. Aku dan semua peserta tes dari semua sekolah
menunggu pengumuman hasil tes yang akan langsung diumumkan tidak lama lagi.
Pengumuman langsung, sementara panitia tengah memeriksa jawaban di depan,
seleksi terbuka.
Pada akhirnya apa yang
akan aku tahu akan aku ketahui juga. Ada tiga peserta dengan jawaban yang
sempurna, semuanya benar. Salah satunya aku. Logika mengantarkan aku menjadi
penerima beasiswa perusahaan minyak. Aku merasakan Dejavu terindah.
Berdoalah
kepada-Ku, Niscaya akan Aku perkenankan
bagimu (Al-Quran)
Akhirnya aku
berhasil mendapatkan beasiswa perusahaan minyak seperti yang aku impikan dulu.
Namun beasiswa tersebut akan aku terima apabila telah berkuliah di universitas
negeri dimanapun.
Aku harus kuliah di
universitas negeri. Aku harus lulus tes masuk perguruan tinggi negeri. Kemudian
mengundang kami, para penerima beasiswa dari seluruh provinsi untuk melihat
kemegahan kompleks perusahaan minyak tersebut. Nanti kami akan melihat bagaimana
ilmu pengetahuan diturunkan oleh Tuhan kepada manusia untuk mengolah alam agar
tercapai sebesar- besar kemakmuran. Bagimana perusahaan minyak tersebut
mengeksplorasi sumber- sumber energi, minyak bumi dan gas di bumi lancang
kuning. Bagaimana ajaibnya dibawah rawa- rawa gambut yang luas membentang
tersimpan minyak dan gas yang berharga. Bagaimana di bawah hamparan perkebunan sawit yang luas membentang
tersimpan cadangan energi untuk kehidupan. Bagaimana api yang terus membara,
menyala dari sumur- sumur minyak. Bumi air tanah minyak, bumi dan air yang
diciptakan Tuhan di tanah yang kaya minyak apakah benar telah memberikan
kemakmuran bagi manusia di atasnya.
Sesampainya di rumah
tak sabar rasanya aku ingin mengatakan kepada ayah dan emak, anakmu lulus beasiswa perusahaan minyak.
Tapi, rumah begitu sepi, walaupun biasanya sepi. Aku memanggil- manggil emak,
tak ada jawaban. Aku pergi ke kamar emak. Aku membuka pintu. Dan aku lihat emak
sedang shalat.
Aku menunggu emak
selesai shalat. Pada akhir salamnya, Emak menoleh kepadaku. Aku mendekatinya
dengan menyambut salamnya. Aku mencium tangannya.
“Emak aku lulus
beasiswa perusahaan minyak “
“Alhamdulillah”
“Aku harus kuliah”
__ADS_1
“Aku dapat kuliah…” Aku
dapat kuliah walaupun ayah pensiun, lanjutku dalam hati.
“Di Kedokteran” Sambung
ayah yang tiba- tiba masuk.
“Mungkin ini jalannya
untukmu dapat kuliah di kedokteran anakku..” Lanjut ayah, kami anak- beranak
telah berkumpul dalam keadaan haru.
“Mungkin saja ayah …”
Jawabku.
***
Akhir Maret 2008.
Riau dianugrahi lahan
gambut seluas 4.827. 972 ha, atau sebanyak 51,06% dari luas wilayah daratan
Riau. Gambut yang telah mati dan membusuk akan merubah menjadi batubara dalam
300 juta tahun. Kemudian selama jutaan tahun setelahnya sisa- sisa pembusukan
makhluk hidup tersebut dapat berubah menjadi minyak bumi yang terkubur dalam
lapisan- lapisan bumi. Sekarang aku berada di dalam bus kunjungan perusahaan
minyak bersama semua penerima beasiswa, mengelilingi jalan pribadi perusahaan
minyak yang mulus, lurus dan sepi. Aku melihat proses eksplorasi minyak mentah
dari sumur- sumur pompa yang memancarkan api. Kemudian dari sumur- sumur
tersebut minyak mentah dialirkan melalui pipa- pipa besi yang sambung
menyambung sampai menuju kilang pemisahan. Disana minyak mentah dipisahkan untuk
dieskpor.
Berbicara tentang
kemakmuran dari negeri minnyak, hasil minyak Brunei Darussalam sebesar 167.000
Barel/ hari apabila di patok dengan harga US$ 100/ Barel maka mampu
menghasilkan pendapatan netto US$ 250 juta/ Bulan. Apabila hasil minyak tersebut
dibagi secara merata kepada 381.440 penduduknya maka rata- rata setiap penduduk
Brunei mendapatkan uang sejumlah 6,26 juta / Bulan tanpa bekerja. Sementara di
belahan bumi lain, Riau menghasilkan minyak 360.000 Barel/ hari, terbanyak di
Indonesia tiga kali lebih banyak dari Kalimantan Timur. Hasil minyak tersebut
merupakan kumpulan dari sumur- sumur minyak di blok Rokan, Siak, Kampar, dan
Kuantan, juga dari sumur- sumur minyak di lepas pantai Selat Panjang dan
Bengkalis. Berdasarkan jumlah minyak yang dihasilkan dari bumi tempat aku
berpijak, aku berusaha menghitung seberapa besar hasil yang diperoleh Riau,
yang kemudian dibagi kepada keseluruhan Indonesia untuk kesejahteraan bersama.
Tentu tidaklah lebih besar dari Negara Brunei bila dibagi dengan 200 juta
penduduk Indonesia itu. Mewujudkan kesejahteraan masih menjadi tugas kita
bersama dengan mengelola sumber- sumber energi yang ada dan yang belum di
temukan untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Aku merenung di situ. Aku serius
mendengarkan penuturan pemandu dari perusahaan minyak tersebut.
Aku menatap jendela,
hamparan pepohonan sawit seluas mata memandang di Blok perusahaan minyak
seperti berlari laju, dan aku merasa diam oleh efek relativitas. Kemudian aku
memandang awan di langit putih yang sepi. Awan- awan itu diam. Awan- awan itu
membentuk gambar- gambar khayalan tentang masa depan. Bumi air tanah minyak.
Aku harus sekolah yang tinggi untuk menggapai mimpi. Aku harus menjadi orang
pintar agar bisa mengelola kekayaan Negara untuk kemakmuran yang belum terwujud.
Awan- awan putih itu seperti seragam dokter, seperti cita- cita ayah, agar aku menjadi dokter, agar bisa menolong
__ADS_1
orang banyak.