ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Bumi Air Tanah Minyak 2


__ADS_3

Edensor adalah nama


pedesaan di Inggris dengan pemandangan yang begitu indah, dihiasi lahan


pertanian dan bukit- bukit rumput seperti bukit kaum teletubbies. Keindahan


Edensor itu diabadikan Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, Edensor. Begitu


juga dengan Kuantan, komplek perkantoran Pemda Kuantan berada di atas


perbukitan yang indah. Gedung- gedung tampak bergantungan dengan gagah di atas


bukit. Bukit- bukit itu juga dihiasi taman yang indah dan jalan yang berkelok.


Dari atas bukit itu terhampar pemandangan Lembah Kuantan, kota dengan segala


hiruk pikuknya. Sehingga tidaklah heran jika Komplek Perkantoran Kuantan begitu


mengesankan di hati penduduknya.


Aku kini tengah berada


di Komplek Perkantoran Kuantan, mengerjakan tes beasiswa perusahaan minyak,


seleksi terakhir untuk menjadi satu diantara lima. Seleksi terakhir untuk


menjadi penerima beasiswa perusahaan minyak.


Lembar jawabanku telah


terisi penuh. Ada satu bagian yang kosong. Ada satu jawaban yang belum terisi.


Pola jawaban pilihan ganda tersebut membentuk sebuah garis miring apabila


dihubungkan dengan jawaban soal sebelumnya dan jawaban soal setelahnya.


Haruskah aku mengisi opsi B? sehingga pola garus jawaban tersebut terhubung


utuh.


Akh !, Aku tidak suka


dengan sebuah kemungkinan, mengambil keputusan tanpa landasan teori. Ini soal


peluang. Hal yang berhubungan dengan keberuntungan dan kepastian. Ini hal yang


berhubungan dengan nalar dan logika. Logika dapat diprediksi tanpa mengetahui


hukum sebelumnya. Aku akan memecahkan soal ini.


Dani


memiliki 18 kelereng di dalam kantong, 7 warna kuning, 5 warna biru dan 6 warna


merah. Berapakah jumlah minimum yang harus diambil Dani untuk memastikan bahwa


dia mendapatkan setidaknya 1 kelereng untuk setiap warna ?


a.      13


b.      12


c.       7


d.      15


e.       14


Aku memejamkan mata.


Alam khayalku merenungi soal ini. Kata kunci yang harus diingat adalah jumlah minimum, jumlah yang paling


sedikit, dan pasti satu kelereng


untuk setiap warna.


Andai Dani paling


beruntung dia mengambil kelereng kuning pada pengambilan pertama, kelereng biru


pada pengambilan kedua, dan kelereng merah pada pengambilan ketiga. Jadi Dani


telah mendapatkan masing- masing satu kelereng untuk setiap warna dalam tiga


kali pengambilan. Tetapi hal ini adalah sebuah keberuntungan bukan kepastian.


Andai Dani paling sial.


Kondisi pertama, Dani mendapatkan 12 kelereng dengan warna kuning dan biru,


tentu pada pengambilan ketiga belas Dani pasti mendapatkan kelereng berwarna


merah. Kondisi kedua, Dani mendapatkan 13 kelereng dengan warna kuning dan


merah, tentu pada pengambilan keempat belas Dani pasti mendapatkan kelereng


berwarna biru. Kondisi ketiga, Dani mendapatkan 11 kelereng dengan warna biru

__ADS_1


dan merah, tentu pada pengambilan kedua belas Dani pasti mendapatkan kelereng


berwarna kuning. Berdasarkan tiga kondisi yang pasti tersebut, Dani melakukan


pengambilan kelereng yang paling sedikit adalah kondisi ketiga yaitu dua belas


pengambilan.


Aku menjawab B, karena


jawabannya B. Pada kehidupan nyata mengandalkan nalar dan logika memiliki


jaminan kepastian tentang kebenaran dibandingkan mengandalkan naluri dan


insting berdasarkan keberuntungan.


Aku telah menyelesaikan


tes beasiswa perusahaan minyak. Aku dan semua peserta tes dari semua sekolah


menunggu pengumuman hasil tes yang akan langsung diumumkan tidak lama lagi.


Pengumuman langsung, sementara panitia tengah memeriksa jawaban di depan,


seleksi terbuka.


Pada akhirnya apa yang


akan aku tahu akan aku ketahui juga. Ada tiga peserta dengan jawaban yang


sempurna, semuanya benar. Salah satunya aku. Logika mengantarkan aku menjadi


penerima beasiswa perusahaan minyak. Aku merasakan Dejavu terindah.


Berdoalah


kepada-Ku,  Niscaya akan Aku perkenankan


bagimu (Al-Quran)


            Akhirnya aku


berhasil mendapatkan beasiswa perusahaan minyak seperti yang aku impikan dulu.


Namun beasiswa tersebut akan aku terima apabila telah berkuliah di universitas


negeri dimanapun.


Aku harus kuliah di


universitas negeri. Aku harus lulus tes masuk perguruan tinggi negeri. Kemudian


mengundang kami, para penerima beasiswa dari seluruh provinsi untuk melihat


kemegahan kompleks perusahaan minyak tersebut. Nanti kami akan melihat bagaimana


ilmu pengetahuan diturunkan oleh Tuhan kepada manusia untuk mengolah alam agar


tercapai sebesar- besar kemakmuran. Bagimana perusahaan minyak tersebut


mengeksplorasi sumber- sumber energi, minyak bumi dan gas di bumi lancang


kuning. Bagaimana ajaibnya dibawah rawa- rawa gambut yang luas membentang


tersimpan minyak dan gas yang berharga.  Bagaimana di bawah hamparan perkebunan sawit yang luas membentang


tersimpan cadangan energi untuk kehidupan. Bagaimana api yang terus membara,


menyala dari sumur- sumur minyak. Bumi air tanah minyak, bumi dan air yang


diciptakan Tuhan di tanah yang kaya minyak apakah benar telah memberikan


kemakmuran bagi manusia di atasnya.


Sesampainya di rumah


tak sabar rasanya aku ingin mengatakan kepada ayah dan emak, anakmu lulus beasiswa perusahaan minyak.


Tapi, rumah begitu sepi, walaupun biasanya sepi. Aku memanggil- manggil emak,


tak ada jawaban. Aku pergi ke kamar emak. Aku membuka pintu. Dan aku lihat emak


sedang shalat.


Aku menunggu emak


selesai shalat. Pada akhir salamnya, Emak menoleh kepadaku. Aku mendekatinya


dengan menyambut salamnya. Aku mencium tangannya.


“Emak aku lulus


beasiswa perusahaan minyak “


“Alhamdulillah”


“Aku harus kuliah”

__ADS_1


“Aku dapat kuliah…” Aku


dapat kuliah walaupun ayah pensiun, lanjutku dalam hati.


“Di Kedokteran” Sambung


ayah yang tiba- tiba masuk.


“Mungkin ini jalannya


untukmu dapat kuliah di kedokteran anakku..” Lanjut ayah, kami anak- beranak


telah berkumpul dalam keadaan haru.


“Mungkin saja ayah …”


Jawabku.


***


Akhir Maret 2008.


Riau dianugrahi lahan


gambut seluas 4.827. 972 ha, atau sebanyak 51,06% dari luas wilayah daratan


Riau. Gambut yang telah mati dan membusuk akan merubah menjadi batubara dalam


300 juta tahun. Kemudian selama jutaan tahun setelahnya sisa- sisa pembusukan


makhluk hidup tersebut dapat berubah menjadi minyak bumi yang terkubur dalam


lapisan- lapisan bumi. Sekarang aku berada di dalam bus kunjungan perusahaan


minyak bersama semua penerima beasiswa, mengelilingi jalan pribadi perusahaan


minyak yang mulus, lurus dan sepi. Aku melihat proses eksplorasi minyak mentah


dari sumur- sumur pompa yang memancarkan api. Kemudian dari sumur- sumur


tersebut minyak mentah dialirkan melalui pipa- pipa besi yang sambung


menyambung sampai menuju kilang pemisahan. Disana minyak mentah dipisahkan untuk


dieskpor.


Berbicara tentang


kemakmuran dari negeri minnyak, hasil minyak Brunei Darussalam sebesar 167.000


Barel/ hari apabila di patok dengan harga US$ 100/ Barel maka mampu


menghasilkan pendapatan netto US$ 250 juta/ Bulan. Apabila hasil minyak tersebut


dibagi secara merata kepada 381.440 penduduknya maka rata- rata setiap penduduk


Brunei mendapatkan uang sejumlah 6,26 juta / Bulan tanpa bekerja. Sementara di


belahan bumi lain, Riau menghasilkan minyak 360.000 Barel/ hari, terbanyak di


Indonesia tiga kali lebih banyak dari Kalimantan Timur. Hasil minyak tersebut


merupakan kumpulan dari sumur- sumur minyak di blok Rokan, Siak, Kampar, dan


Kuantan, juga dari sumur- sumur minyak di lepas pantai Selat Panjang dan


Bengkalis. Berdasarkan jumlah minyak yang dihasilkan dari bumi tempat aku


berpijak, aku berusaha menghitung seberapa besar hasil yang diperoleh Riau,


yang kemudian dibagi kepada keseluruhan Indonesia untuk kesejahteraan bersama.


Tentu tidaklah lebih besar dari Negara Brunei bila dibagi dengan 200 juta


penduduk Indonesia itu. Mewujudkan kesejahteraan masih menjadi tugas kita


bersama dengan mengelola sumber- sumber energi yang ada dan yang belum di


temukan untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Aku merenung di situ. Aku serius


mendengarkan penuturan pemandu dari perusahaan minyak tersebut.


Aku menatap jendela,


hamparan pepohonan sawit seluas mata memandang di Blok perusahaan minyak


seperti berlari laju, dan aku merasa diam oleh efek relativitas. Kemudian aku


memandang awan di langit putih yang sepi. Awan- awan itu diam. Awan- awan itu


membentuk gambar- gambar khayalan tentang masa depan. Bumi air tanah minyak.


Aku harus sekolah yang tinggi untuk menggapai mimpi. Aku harus menjadi orang


pintar agar bisa mengelola kekayaan Negara untuk kemakmuran yang belum terwujud.


Awan- awan putih itu seperti seragam dokter,  seperti cita- cita ayah, agar aku menjadi dokter, agar bisa menolong

__ADS_1


orang banyak.



__ADS_2