ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Istana Pasir


__ADS_3

“Teet!” Handphoneku berdering. Ada SMS masuk. Aku buka dari Echa teman yang sama lulus kedokteran tempo hari.


“Ass. Teman bagaimana kabarnya? Sudah di Banda Acehkah?” Begitu pesan yang Aku baca. Aku membiarkan handphone dalam genggaman. Bingung


bagaimana aku dapat membalasnya. Padahal sudah berjanji akan bertemu di Banda Aceh, tapi aku malu pada Echa. Aku mundur dari kedokteran.


“Wassalam Echa. Kabar aku baik. Sudah di Banda Beberapa hari yang lalu.


Ini masih berbenah kos. Echa bagaimana kabarnya?”


“Teet…” Beberapa detik setelahnya.


“Kabar baik juga. Jangan lupa pagi ini jadwal medical ceck up Fakultas Kedokteran di Klinik Kampus.”


“Iya ini lagi bersiap- siap pergi.” Aku mengirim pesan.


“Sampai jumpa di sana ya.” Pesan balasan Echa. Echa mengajakku bertemu. Silaturahmi teman baru. Berbagi cerita dan berbagi informasi. Tapi Aku


tak mungkin bertemu dengannya. Keadaan tidak seperti yang dibayangkan. Aku ragu membalas atau tidak.


“Semoga nanti dapat bertemu.” Aku mengirim pesan terakhir sebelum berangkat.


Aku dan Bang Boby berangkat menuju klinik kampus dengan berjalan kaki. Kami menelusuri trotoar


kampus. Lalu mengambil jalan pintas membelah lapangan bola. Sebenarnya kami bisa pergi bertiga. Aku tidak lagi menyewa kamar sendiri. Aku telah memiliki teman sekamar.


Setelah kejadian di malam Ayah pergi. Bang Boby mencarikan teman sekamar untukku. Maksudnya agar sewa kos dibayar lebih ringan. Teman sekamarku itu membayar separuh harga kos


belakangan kepadaku. Teman sekamar kosku itu adalah anak dari Sumatra bagian tengah juga, dari Bukittinggi dan raut wajahnya telah pernah Aku lihat sebelumnya. Aku melihat wajah anak itu saat bimbingan belajar beberapa bulan yang lalu. Anak yang pendiam. Dia adalah Rizqi. Kebetulan dia juga lulus kedokteran, seperti yang Aku tanyakan dulu.


Rizqi masih tinggal di wisma dengan orang tuanya. Jadi dia akan melakukan medical ceck up bersama orang tuanya. Sehingga berjalanlah kami, Aku dan Bang Boby melintasi lapangan bola. Sepatu pantofel yang ayah belikan untuk berbunyi letak letok menginjak rumput. Ayah keliru membelikan sepatu anak kuliah. Aku lihat mahasiswa banyak memakai sepatu kets, sepatu anak SMA. Ini sepatu kantor.


“Mau coba apa tahun depan?” Tanya Bang Boby.


“Masih menenangkan hati dulu. Bang.”


“Cobalah STAN.” Saran Bang Boby. Aku merasakan Dejavu. Sudah beberapa kali Aku mendengar nama sekolah tinggi itu.


“Iya ingin  juga mencoba seperti itu, STAN.”


“STAN hebat kuliah enam bulan bisa jadi PNS di Departemen Keuangan pula.”


“Dokter hebat lagi Bang.” Pujiku.

__ADS_1


“Abang hanya calon dokter. Hebatlah STAN lagi. Gagah. Tamat sekolah banyak cewek yang kejar kau.”


“ Haa ha ha Pingin cepat nikah Bang?”


“Ha ha ha” kami tertawa. Sebagaimana mahasiswa mantan mahasiswa sosial Bang Boby begitu pandai


menghibur rekannya.


Pukul 8 Pagi sesi medical ceck up  Aku berkumpul bersama para calon dokter. Mereka berwajah pintar dan berkacamata, lugu. Mereka tertawa bahagia. Aku mengambil lembaran formulir lalu berbaris antre. Antrean berakhir di sebuah pintu yang di depannya bertuliskan ”Tes Buta Warna”.


Banyak orang yang keluar dari pintu itu. Mereka telah selesai menjalani tes itu. Aku melihat paraf pemeriksa dari dokumen yang mereka pegang. Sangat mudah bagiku untuk melingkari negatif dan membuat sedikit coretan seperti paraf pemeriksa yang sangat mudah ditiru. Antrean juga ramai, tidak terpantau. Aku bisa menirunya tanpa menjalani tes kemudian pergi, sangat mudah, sangat mudah.


Antrean semakin dekat, aku tidak melakukannya. Sebuah resiko seperti yang di katakana Bapak Dokter


tempo hari. Hatiku berperang. Andai takdir berbisik. Tentang kisahku di masa depan rahasia. Pintu itu yang menentukan perjalananku. Perjalananku


bertahun-tahun ke depan. Katanya hidup di dunia ini singkat. Pastinya dunia inilah yang menentukan apa yang terjadi di akhirat. Aku ragu memilih takdir


duniaku. Aku ragu mundur atau maju menuju pintu pemeriksaan itu. Aku mundur dan


membuat paraf pemeriksa sendiri lalu pergi. Atau aku maju dan menjalani


pemeriksaan dengan risiko yang siap aku tanggung. Aku pada akhirnya memilih


maju. Aku memasuki kamar pemeriksaan itu.


Dan. Aku gagal. Catatan Partial Colour Blindness dituliskan oleh petugas pemeriksa tersebut di


dokumenku. Lalu petugas pemeriksa tersebut menelepon seseorang, petugas pada


bagian lainnya. Ia menyatakan ada calon mahasiswa kedokteran yang mengalami partial colour blindness. Bagaimana langkah selanjutnya?


Petugas itu menyuruhku meneruskan alur pendaftaran ulang yang berbeda. Kami yang mengalami partial colour blindness diharuskan


menuju suatu ruangan lain di rektorat.


Sesampainya di luar ruang medical ceck up, aku melihat Rizqi. Ia bersama Ayah dan Ibu yang menemaninya untuk antri. Ayah Rizqi melihatku, ibunya juga. Hanya menoleh sebentar, lalu mereka berpaling. Dalam pandangan mata mereka ada suatu ekspresi rasa takut kalau putra mereka mengalami hal yang sama denganku, kegagalan. Kami pernah bertemu sebelumnya.


Mereka tahu aku calon mahasiswa kedokteran yang bakalan gagal. Airmataku berlinang tak tertahankan lagi. Aku pergi menjauh dari mereka. Di belakang tiang besar Aku menumpahkan semua rasa hati, ”Mengapa Tuhan? , mengapa semua ini terjadi? Aku


yang selalu memanjatkan doa di subuh hari. Selalu patuh dan turut dari kecil.


Mengapa ini yang aku terima. “ Aku tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran takdir. Aku terduduk. Dibelakang tiang besar. Tak ada yang melihatku. Aku

__ADS_1


menangis. Aku ingat Ayah yang entah sampai dimana perjalanannya pulang. Banda Aceh - Teluk Kuantan memakai bus ada dua hari perjalanan. Ayah, aku merasa sendiri.


Tiba- tiba datang telepon Emak. Katanya Ayah telah sampai di rumah. Emak mengatakan sesampainya


di rumah Ayah terisak- isak menangis. Hatiku lenyap sedang membayangkan saja aku tak bisa apalagi melihatnya. Seorang ayah yang terisak- isak menangis untuk suatu jalan hidup anaknya. Untuk pertama kali kudengar ayah terisak, seumur hidupku. Akulah yang membuatnya menangis bukan Emak, bukan kakak- kakakku, tapi   aku. Betapa jahatnya aku. Sungguh jahatnya aku. Harusnya petir menyambar tubuhku. Aku terpaku setelah semuanya


menangis. Betapa besar kepedihan telah Aku timbulkan. Serasa samurai menancap jantungku. Perasaanku bercampur.


Jangan menangis Ayah


Jangan menangis lagi


Selama waktu belum mati


Selama ajal belum mencabut nyawa


Sabar kutunggu


Takdir berubah pikiran


Kalau gelapku hanya sekejap gerhana


Kalau matahariku kembali benderang


Jangankan istana


Seluruh samudraku dan benuaku untukmu


Duniaku untukmu, Ayah


Jangan menagis lagi, Ayahku sayang


Sedihmu melebihi sedihku


Kusimpan Ayah


Kusimpan di dasar palung terdalam hatiku


***


“Tett…” Handphoneku bergetar. Ada pesan yang masuk. Aku menyeka pipiku yang basah.


“Salam Teman. Sudahkah tes medical Ceck up?  Kalau echa udah. Nih lagi di depan loby nunggu teman- teman yang lain juga” Begitu bumyi pesan itu. Aku melihat di ujung barisan perempuan pada kamar tes yang lain. Di loby, ada seseorang perempuan berdiri menghadap pintu. Sepertinya ada seseorang yang sedang ditunggunya. Boleh jadi dia menunggu temannya. Dia membelakangiku. Aku hanya melihat ujung jilbabnya tertiup angin dari jendela.

__ADS_1


Aku keluar dari klinik kampus. Dengan jalan yang berbeda. Menghindari perempuan itu.



__ADS_2