
Salju yang telah kugenggam
Perlahan mencair
Menyusup disela jemariku
Kugenggam lebih erat
Saljuku melebur jua
Oleh hangat tubuhku.
Cita- cita yang telah kuraih. Perlahan kulepaskan
dari hatiku yang pernah berharap. Cita- cita yang telah aku pertahankan akhirnya kulepaskan oleh takdir aku sendiri. Takdir nasib yang telah kumiliki
sejak masih dalam kandungan.
Aku memasuki sebuah ruangan yang didalamnya ada banyak anak lelaki yang sebaya
denganku. Mereka mahasiswa baru yang dikategorikan buta warna yang salah
mengambil jurusan. Atau dengan kata lain calon mahasiswa baru yang mengambil
jurusan yang dominan mengandung mata kuliah kimia dan biologi, begitu kebijakan
kampus. Mahasiswa baru yang buta warna diharuskan pindah jurusan dari jurusan
yang dalam mempelajari ilmu kimia dan biologi.
Ternyata dunia memberikan kejutan untukku. Aku tidaklah sendiri, ini baru Banda Aceh. Ini baru satu kampus dalam tahun ajaran baru, sudah banyak lelaki yang berkumpul di ruangan ini, menunggu namanya dipanggil untuk menemui salah satu petugas penerimaan mahasiswa baru dari pihak rektorat. Pembantu Rektor dalam bidang kemahasiswaan.
Jumlah penderita Buta Warna di Indonesia, menurut salah satu riset 5%- 8% pada pria dan 0,5% pada
wanita adalah penderita buta warna. Kemudian 99% adalah puta warna parsial.
Banyak rupanya, dan kalau 8% laki-laki yang buta warna saja digabungkan di Indonesia ini tentulah bisa membuat sebuah partai. Dan bila sepakat untuk memilih, pastilah akan ada seorang presiden dari lelaki yang buta warna. Tapi aku tidak setuju dikatakan dikatakan buta warna. Toh aku tidak ada
masalah dengan warna, kecuali bagian dari kecerahan warna hijau. Oleh karena satu bagian itu aku tidak dapat membaca angka dalam buku ishihara kemudian aku dikatakan sebagai buta warna sebagian, parsial.
__ADS_1
Komunitas, ini kata pertama yang aku ingat dalam kebersamaan ini. Aku ingat salah satu unsur bangsa adalah sekumpulan manusia yang bersatu
dibawah perasaan senasib dan sepenanggungan. Kalau sekumpulan manusia yang memiliki nasib yang sama seperti kami ini bersatu oleh sebuah rasa yang sepenanggungan. Tentulah itu menjadi kekuatan yang besar. Yang mungkin dapat
membelokkan sejarah dunia.
Aku pernah membaca kisah- kisah inspiratif dari suatu komunitas yang solid. Bersatu. Tapi sulit
sekali untuk mewujudkan satu persatuan itu. Karena kesamaan- kesamaan yang dimiliki oleh manusia tidak selalu membuat nasib yang sama pula. Banyak yang sama tapi nasib yang berbeda sehingga melunturkan rasa sepenanggungan itu.
“Dari jurusan apa kawan? Melamun …” Sapa teman disampingku.
“Mmm. Kedokteran kawan. Kawan dari mana?” Aku balas bertanya.
“Wah. Hebat Kedokteran. Saya dari Teknik Pertanian.”
“Teknik Pertanian juga hebat” Balasku memuji.
“Biasa saja. Di Teknik Pertanian ada beberapa mata
kuliah kimia yang mungkin teknik menciptakan pupuk atau biologi tentang rekayasa plasma, jadi aku diharuskan pindah dan aku ingin pindah ke Teknik
Informatika. Teknologi yang banyak belajar komputer.”
“Tapi petugas itu menolak!” Jawabnya.
“Mengapa?” Tanyaku heran.
“Dalam Passing Grade SNMPTN Teknik Informatika
jauh di atas Teknologi Pertanian. Dalam aturan pindah jurusan, kita hanya dapat pindah pada jurusan dengan Passing Grade lebih rendah dalam SNMPTN.”
“Oh… begitu…” Aku baru menyadari. Rupanya tidak seenaknya pindah jurusan.
“Kamu enak. Kedokteran. Kamu bisa pindah ke jurusan manapun. Tahun ini kedokteran passing grade teringgi. Tentu kamu anak pintar ?”
“He eh…” Aku tersenyum.
“Sayang ya. Calon Dokter.” Ia prihatin.
__ADS_1
“Tak apa-apa sudah jalan takdir mungkin.”
“Mau pindah kemana kawan?” Ia bertanya.
“Belum tahu. Saya dari SMA IPA. Saya ingin memilih selain bidang ilmu kimia dan biologi.”
“Aku juga !” sela teman di sebelah kami. Kulitnya putih dengan alis wajah keturunan india.
“Mata aku baling melihat buku- buku kismis itu,”
ia menjelaskan.” Lalu mereka mengatakan aku buta warna parsial.”
“Kami juga.” Lanjut Aku dan kawan yang pertama.
“Aku akan memilih Matematika.” Kata anak yang berwajah keturunan india itu.
“Berhitung” lanjutku.
Aku suka berhitung.
Aku akan memilih apa nanti?. Aku masih belum memikirkannya. Aku masih menenangkan hati. Dalam sela- sela obrolan kami, aku melihat seorang ibu dan anak perempuannya duduk di
bangku tunggu di luar ruangan. Ibu itu berbisik kepada putrinya. Setelah sebelumnya ia memandang kami dalam ruagan ini.
“Keturunan…” Bisiknya
hening tapi aku dapat menangkap gelombang suaranya dengan hatiku.
“Keturunan…” Maksud ibu itu mungkin agar putrinya berhati- hati memilih calon suami. Dibalik tampilan
kami anak laki- laki yang diharuskan pindah jurusan, bukanlah lelaki yang sempurna. Ada sebuah kekurangan yang menyulitkan dalam berkarir dan memilih pekerjaan karena kami bukanlah makhluk yang sempurna. Dan ketidaksempurnaan itu
berpeluang diturunkan pada anak cucu kelak, walaupun penurunan itu secara acak
bisa iya atau tidak.
Aku mencoba memotivasi diri. Aku tidak menyalahkan siapapun. Tidak menyalahkan orang- orang yang telah memberikan genetik ini kepadaku,
Apalagi menyalahkan Tuhan. Aku yakin bahwa aku mampu bersaing dengan orang- orang yang bermata normal. Aku akan sukses kuliah di luar jurusan yang
__ADS_1
mengharuskan tidak buta warna. Lagi pula aku tidak cacat fisik!. Ini sebuah genetika yang diturunkan. Pun terjadi bukan keinginanku! Takdir yang menghendaki. Aku tidak sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang bernasib sama. Dan kita dapat bangkit bersama.