ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Doa 30 Malam 1


__ADS_3


2 Juli 2008.


Agar tidak sia- sia lahir ke dunia.


Seperti itu kalimat yang aku baca pada selembar kertas diantara serakan kertas di kamar kos kami.


Semalam aku dan Adi belajar penuh untuk menghadapi SNMPTN yang dijadwalkan hari


ini.


Aku lebih banyak memperdalam hapalan skema siklus biologi. Caraku menghapalnya dengan mengambil suku kata pada bagian awal kalimat. Aku


merangkainya menjadi kalimat yang lucu, tangga keledai. Dengan begitu urutan siklus dengan istilah- istilah ilmiah tersebut lebih mudah diingat. Kemudian


aku mengerjakan soal- soal matematika yang masih tersisa pada lembar tugas bimbingan belajar. Sedangkan Adi, aku lihat dia mengisi soal- soal Bahasa Indonesia. Selanjutnya ia mengerjakan soal- soal Matematika. Selama ini Adi lemah dalam


hitung menghitung, padahal dalam kehidupan sehari- hari ia cukup perhitungan terutama dalam untung dan rugi. Pengumuman hasil Try Out pernah ia mendapatkan nilai minus untuk Matematika. Aku tidak bisa membantunya dalam SNMPTN nanti.


Walaupun lokasi ujian SNMPTN kami sama tapi ruangan ujian berbeda.


Agar tidak sia- sia lahir ke dunia.


Adi yang menulis kalimat itu, aku tahu demikian karena Adi tidur lebih lambat dari aku. Aku


tidak membaca lagi kalimat- kalimat sebelumnya yang ditulis Adi, keluh kesah dan semangat perjuangan hidupnya pada coret- coretan kertas itu. Karena satu kalimat tersebut sudah menyentuh hatiku. Tentang makna perjuangan kami hari ini agar lulus SNMPTN. Tentang hidup yang harus diperjuangkan agar tidak sia- sia lahir ke dunia. Perjuangan hari ini harus memberikan hasil. Aku harus lulus SNMPTN.


Kami harus bergegas, berangkat ujian lebih awal. Adi masih tergolek. Ia masih tidur. Azan subuh

__ADS_1


belum terdengar. Waktu subuh akan datang sejam lagi.


“Adi Bangun ! Bangun…” Aku mengoyang- goyang badan Adi.


“Adi …”


“Hoaa ..ahh yoo” Jawab Adi. Ia masih belum stabil.


“Bangun”


“Makasih” Adi segera duduk. Kemudian kami segera bergegas untuk mandi, bergantian. Sarapan dengan


makanan yang telah kami sediakan malam tadi. Sudah diatur karena sebelum ujian perut harus diisi, begitu pesan Emak. Lalu kami shalat subuh, menelpon orang tua  untuk meminta doa. Setelah itu kami berangkat dengan jalan kaki sampai ke pangkalan oplet ketika matahari pagi


belum tampak. Hanya berkas sinarnya yang membuat subuh temaram membentuk


bayangan tubuh kami.


telah penuh oleh oplet. Peserta SNMPTN telah tahu bahwa isu macet selalu bergaung setiap SNMPTN. Semua peserta bersiasat menghadapinya dengan datang pagi- pagi.


Oplet tidak masuk ke dalam jalananan kampus. Jalanan macet. Aku dan Adi berjalan kaki ke dalam


kampus. Sesampainya, kami melihat denah ujian yang biasa ditempel di dinding. Kemudian mencari ruang ujian kami, tidak lama kami menemukannya, satu gedung tapi berbeda lantai, Adi di lantai bawah, aku satu lantai di atasnya. Sampai di lantai bawah lokasi ujian Adi, aku mengucapkan “Semoga Sukses”.


“Semoga Sukses juga”


Balasnya. Aku naik tangga. Sesampainya di lantai dua. Aku menemukan ruanganku.


Aku menemukan deretan angka yang sama dengan nomor ujianku pada meja paling

__ADS_1


belakang dan paling kiri lengkap dengan pas foto wajahku ada disana. Posisi yang aman bagiku karena  paling belakang dan paling sudut. Juga posisi yang  nyaman karena ada jendela di sebelahku angin leluasa berhembus kalau  jendela terbuka sedikit.


Ujian akan berlangsung pukul 7:30 waktu Indonesia Bagian Barat, masih ada satu jam lagi. Aku


menenangkan diri dan mengatur strategi sembari menunggu pengawas ujian masuk.


Satu persatu peserta ujian masuk ke ruanganku. Aku lihat sekilas kartu ujian mereka yang terjepit di dada. Aku tahu bahwa mereka juga berasal dari berbagai


provinsi di Sumatra.Waktu berlanjut sampai sampai meja ujian tidak ada lagi yang kosong. Semua peserta telah datang. Ada waktu yang tersisa sebelum lembaran soal dan LJK di berikan aku mamfaatkan dengan mengatur strategi menghadapi


Matematka Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Tiga mata pelajaran utama yang menurut pemerintah adalah mata pelajaran vital dalam menempuh hidup. Oleh karena itu tahun- tahun lalu tiga mata pelajaran inilah yang menjadi


penentu kelulusan ujian nasional.


Aku ingin mengejar skor pada Matematika Dasar. Alasannya Matematika Dasar memiliki jawaban yang pasti. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang menuntut kejelian dan ketelitian karena


seringkali opsi jawaban yang diberikan dibuat meragukan. Selain itu dituntut juga kemampuan membaca cepat. Begitu juga dengan Bahasa Inggris yang tampilannya tak jauh berbeda dengan tes TOEFL hanya saja tanpa Listening Section. Bahasa Inggris menuntut penguasaan tenses dan kosa kata.


Lembar ujian dan jawaban diberikan lebih awal, maksud pengawas agar kami semua mengerjakan tes SNMPTN secara serempak pukul 7:30  tepat.


Tidak terbuang oleh waktu pendistribusian pada meja bagian belakang. Masih ada waktu tiga menit untuk menunggu pukul 7:30 tepat. Aku tidak sabar. Aku duduk di sudut belakang. Aku mengintip lembar soal sedikit saja. Aku mengintip soal Matematika Dasar. Aku start lebih awal. Ini sangat berarti bagiku. Perbedaan hasil skor yang tipis akan menentukan sebuah nasib.


Diam- diam aku mulai mencoret pada lembaran soal, tidak ada buram yang disediakan. Sampai 7:30 tepat


berdenting. Aku telah memasuki soal ketiga Matematika Dasar. Detik demi detik yang berlalu itu adalah perjuanganku. Detik- detik yang akan datang selama 2 jam 30 menit SNMPTN adalah masa depanku. 150 soal adalah penentu, disana ada


impian Ayahku, disana ada doa Emakku. Aku fokus pada ujianku seakan- akan sarasa hanya aku seorang yang berada dalam ruangan ini.


***

__ADS_1



__ADS_2