
11. Mr. X 10 said:
…, tapi apesnya saya di suruh u/ medical check up,, and apa
yg terjadi saya buta warna parcial dan kelulusanku pun dicabut…
Sekarang telah Aku ketahui diskriminasi terhadap orang orang sepertiku. Susah mendapatkan
pekerjaan. Hatiku kembali mencemas. Aku pikir sukses sedemikian mudahnya hanya dengan mengandalkan kecerdasan otak dan karakter pendidikan yang baik, Aku pikir aku dapat sukses di jurusan manapun. Tapi tidak, akan ada banyak
rintangan- rintangan setelah ini, di masa depanku. Apa yang terjadi hari yang lalu adalah luka pertama oleh perintang pertama. Akan ada bayak rintangan-
rintangan lain yang akan aku hadapi.
Aku masih berharap peluang untuk sebuah bidang pekerjaan yang memperbolehkan para penderita buta
warna parsial dapat bekerja. Aku ingat STAN. Bukankah hatiku mulai tertarik untuk ke sana. Lulus tes. Kuliah. Dan jadi PNS di Departemen Keuangan Republik ini. Bekerja di Departemen Keuangan itu dapat mengganti air mata ayahku.
Aku mengetik S-T-A-N di keyboard. Lalu muncur di layar. Ada banyak hasil pencarian. Aku tak sabar,
dengan cepat aku membacanya. Persyaratan yang tertera pada situs STAN adalah jenis kelamin : laki-laki, belum menikah. Lalu aku membaca baris di bawahnya dan di bawahnya lagi. Ada tulisan tidak buta warna.
Hatiku luluh. Kupu- kupu yang belum ku kejar pun sudah tak mungkin aku menangkapnya. Bagaimana
dengan sekolah pemerintah yang lain, sekolah tinggi calon aparatur negara. Aku melihat Sekolah Tinggi Pemerintahan Negara : tidak buta warna. Aku melihat
Sekolah Tinggi Statistik Negara : tidak buta warna.
Aku menghentikan pencarianku. Aku
pergi dari warnet tersebut. Aku berjalan beberapa langkah. Kos masih jauh. Masih ada 1999 meter lagi. Kos ku berada di gerbang selatan, di belakang.
__ADS_1
Sedangkan warnet, dan pusat perbelanjaan ada di gerbang utama, jaraknya ada 2 KM. Aku berjalan lebih cepat menelusuri kompleks kampus. Dan dalam perjalanan itu aku tak lagi mempedulikan orang- orang di sekitar. Pandanganku ke depan
tapi pikiranku entah dimana.
Aku mengingat berbagai macam bayangan. Kenangan yang ada di otakku.
“*Ini buku Ishihara. Jangan coba untuk menghapalnya karena buku ini ada ribuan versi.” Kalimat petugas RSUD saat aku pertama kali medical ceck up.
“Adik tidak akan lulus dalam mata kuliah
sitologi dan mikrobiologi”
…tapi ternyata hasilnya sama aja. Gue tetap di Droup Out.…aku seorang “parsial” lalu tanpa ada pertimbangan sedikit spun langsung di-out-kan. Padahal aku tahu beberapa angka yang ada di test warna
Saya buta warna parial dan kelulusanku pun dicabut*…
Sakit banget rasanya. Seperti masa depan gue hilang.
yang berlalu lalang. Aku berjalan lurus di tengah keramaian. Orang- orang tengah bergegas pulang ke rumahnya karena hari telah beranjak senja.
Senja hari ini, tidaklah menguraikan warna emas kemerahan yang indah, melainkan warna abu- abu
gelap yang menghitam. Pertanda hujan lebat akan datang. Kilat telah bercahaya di sudut langit detik- demi detik silih berganti. Taman yang tadinya ramai
telah kosong. Aku berhenti di taman itu. Suasana di sekelilingku gelap. Hujan mulai turun. Hanya aku seorang yang berada di sini.
“Hakhhh…aaa..”. Aku terbata- bata. Aku membayangkan ayah. Aku membayangkan saat- saat aku pertama kali sekolah dahulu SD- SMP- SMA. Berusaha menjadi yang terbaik dan baik. Tapi mengapa begini yang aku terima.
Aku terisak. Air mataku jatuh melalui hidung dan pipi. Pipiku basah oleh air mata dan serpihan hujan
yang mengalir. Tenggorokanku tercekat. “ Ayyy aaa hhh…” Aku ingat ayah.
__ADS_1
*Lututku lemas. Aku tak mampu lagi berdiri. Aku jatuh. Lututku bertumpu pada tanah. Kedua tanganku berpegangan pada tiang ayunan. Aku bersandar pada tiang itu, menunduk, terisak- isak. Aku membayangkan masa depanku. Aku rasa semua laki- laki memiliki harapan yang sama denganku. Aku ingin belajar, selesai sekolah dengan hasil yang baik, mendapat pekerjaan yang layak, dan menikah. Tapi semuanya kini mengawang- awang. Begitu sulit diwujudkan. Masa depanku yang aku pikir semula
celang kini sudah buram.
Aku seorang anak korban bulliying oleh guru. Susah dan payah menempuh pendidikan. Sampai Emak pun turut bekerja untuk biayaku. Aku seorang anak lugu dari keluarga sederhana yang berharap sebuah pendidikan dapat mengubah masa depannya menjadi sejahtera. Anak yang selalu rajin belajar. Anak yang senantiasa bersabar- dan
bersabar. Oh Tuhan inikah jalanku*…
Kepada Taman di buayaian itu aku menangis dengan air mata terbanyak selama aku pernah menangis.
Kepada Tuhan aku mengadukan diri. Aku terpuruk dunia tertutup untukku. Kubiarkan hujan yang turun membasahi badanku. Basahlah semua padu dengan airmata yang mengalir di pipi. Seakan hari esokku telah hancur tampa aku hancurkan.
Ayah aku sendiri disini. Tak ada saudara. Teman atau orang kampungku. Hanya ada aku di taman
yang gelap bersama hujan di malam yang dingin. Dalam derai hujan, samar akdengar senandung Agam Sidroe bersuarakan getir dan pecah, tentang derita yang menusuk hati.
Badan lon pijuet hana le aso
Tuboh ka phangpho han lon kira le
Hudep lam donya hana soe pakoe
Hudep lon sidroe pajan keuh akhe………………..
(Badanku kecil tiada isinya
Tubuhku hampa tiada terkira
Hidup dalam dunia tiada yang peduli
Hidupku seorang diri kini telah usai )
__ADS_1