ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Ishihara 6


__ADS_3

Kebetulan lulus di fakultas yang sama, dan kebetulan berasal dari tanah satu rumpun dan satu akar, Kuantan dan Ranah Minang. Aku dan Bang Boby menjadi dekat. Setelah berbenah Paman Bang Boby pulang. Maka bersilaturahmilah Bang Boby ke kamarku. Kepadanya aku bertanya tentang tahapan pendaftaran ulang.


“Apa saja kegiatan pendaftaran ulang nanti Bang?”


“Penyerahan kartu SNMPTN, registrasi, dan terakhir pembayaran uang masuk, dan terakhir medical


chek up”


“Medical chek up tes kesehatankah?’ tanyaku.


“Tes kesehatan lagi?”


Tanya ayah cemas.


“Ya. Tes kesehatan, tes narkoba, sampai tes buta warna.”


“Tes buta warna …”


Napas Aku dan Ayah sesak.


“Kalau buta warna parsial bagaimana? Hijau. Liel agak susah membedakan bagian dalam warna hijau.”


Tanya Ayah.


“Buta warna parsial, sebagian!?,” Bang Boby terkejut,” terpaut kromosom ****, keturunan.”


Lanjutnya.” Sepertinya tidak bisa. Pada umumnya dipindahkan ke programpendidikan lain. Berbeda- beda tiap universitas, misalnya Teknik Sipil ada yang


memperbolehkan ada juga yang tidak.” Jelasnya kembali.


“Lalu …”


“Tergantung kebijakan,”


Jelas Bang Boby kembali,” tapi untuk pendidikan dokter tidak bisa.” Tutup Bang Boby.

__ADS_1


“Kata dokter mata di kampung kami bisa. Katanya dahulu bisa walau kariernya terhambat hanya sebagai dokter umum.”


“Kalau tempo dulu bisa jadi Pak. Sekarang persaingan sedemikian keras. Kekurangan yang sedikit saja bisa berakibat fatal. Apalagi ada ribuan orang yang bersaing ingin kuliah disini, di kedokteran,” jelas Bang Boby tegas. Tentu penjelasannya itu membuat Ayahku takut. Aku juga takut melihat Ayah yang semakin takut.


***


Selepas kunjungan Bang Boby, Aku dan Ayah terbaring cemas di kasur baru kami. Mata kami menerawang ke langit- langit loteng. Seakan di atas langit- langit itu ada bintang penolong. Paling tidak ide jenius yang akan melepaskan kami dari masalah ini.


“Apa yang akan kita lakukan Ayah?” tanyaku.


“Kita harus mencari cara menaklukkan tes itu !” kemudian Ayah melanjutkan,”kita harus mencari cara


menaklukkan Buku Ishihara itu”.


“Engkau harus menghapalnya, Nak” kata Ayah.


“Ini buku Ishihara. Jangan coba untuk menghapalnya karena buku ini ada ribuan versi”. Kalimat petugas RSUD masih teringat dalam otakku kata ribuan versi.


“Kita harus ke tempat Bu Ustad, hanya dialah yang kita kenal disini. Kepada siapa lagi kita minta


tolong.” Keputusan Ayah.


Bu Ustad. Maka berangkatlah kami ke sana dengan sebuah oplet unik khas aceh, Labi-labi. Sebuah oplet yang terpisah dari pengemudinya. Penumpang  masuk dari belakang. Bila ingin turun penumpang memencet tombol di ruang belakang, maka


sopir pun mengerem oplet karena mendengar bunyi.


“Telolet !!!” Bunyi tombol itu.


***


Pagi itu Aku dan Ayah telah duduk di ruang tamu Bu Ustad. Di rumahnya hanya dihuni oleh Bu Ustad,


suaminya yang dipanggil Pak Ustad, dan Neneknya yang dipanggil Nek Umi. Hanya bertiga karena mereka adalah pasangan muda yang baru saja menikah, belum di karuniai anak.


Keluarga Bu Ustad begitu ramah menyambut kami, pun demikian mereka juga mendengarkan cerita Ayah dengan seksama. Ayah menceritakan perjalanan mengapa kami sampai ke Banda Aceh.

__ADS_1


Pak Ustad dan Bu Ustad menarik napas dalam, pertanda masalah ini sedemikaian berat. Nek Umi ikut cemas, ia ikut merasakan kecemasan hati ayah. Lalu Bu Ustad yang duduk di kursi depan


kami, di sudut ruangan di dekat telepon rumah, mengangkat gagang telepon, memutar telepon rumah itu beberapa kali, menelepon seseorang.


“Dia dokter, keluarga kami juga,” kata Nek Umi.


“Apa dia bisa menolong kami?, saya mohon…” Ayah memohon.


“Semoga,” lanjut Nek Umi. Sementara Bu Ustad terus berdiskusi dalam Bahasa Aceh yang Aku dan Ayah


tidak mengerti. Kami hanya menunggu sampai Bu Ustad mengembalikan gagang telepon.


“Tap…” Bu Ustad meletakkan gagang telepon.


“…” Semua diam. Nenek memandangku penuh hiba.


“Tidak bisa,” dengan berat Bu Ustad Mengatakan kalimat itu kepada kami.


“Maafkan kami Pak. Tidak bisa,” ulangnya.


“Kariernya akan terhambat nanti.”


“Lalu adakah cara lain Bu?, Pak?” Ayah masih memohon.


“…”Bu Ustad diam menunduk.


“Tolonglah anak saya Pak, kalau gagal jiwanya bisa sakit.” Ayah mengungkapkan kecemasannya yang


berlebih, suaranya bergetar. Aku terhenyak.


“Pak !” potong Pak Ustad. Nadanya lebih keras,”Hati- hati bicara setiap ucapan adalah doa.”


Nek Umi mengelus bahuku. Dari wajahnya penuh kecemasan. Ayah merasa bersalah air matanya


berlinang. Aku begitu segan dengan kebaikan keluarga Bu Ustad. Dalam hatiku berkata,”Yah tenanglah. Aku akan kuat menjalani masalah ini. Bukankah dulu Ayah berkata hidup ini keras. Lantas

__ADS_1


mengapa Ayah kini menghianati ucapanmu sendiri.?” Wajahku tertunduk. Aku malu. Nenek di rumah itu menitikkan air mata. Nek Umi menangis untukku. Untuk orang yang baru saja dikenalnya.



__ADS_2