ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Anak Ajaib Pemetik Bintang 3


__ADS_3

“Ayah tidak sepertimu. Almarhum kakekmu dahulu ingin Ayah terus sekolah melanjutkan pendidikan. Kuliah yang lebih tinggi. Tapi Ayah tidak mau. Ayah


ingin menikah. Kakekmu tidak setuju dan kami berdua bertengkar. Sama seperti


kita sekarang ini. Kami bertengkar hebat tak menemukan titik temu.”


“Sampai Ayah pergi dari rumah”


“Saat itu kehidupan di Indonesia begitu sulit tahun 70-an. Presiden Soeharto baru mulai membangun Negara ini. Malaysia adalah tanah harapan. Banyak


pemuda melayu yang merantau ke sana. Kemudian Ayah merantau ke Malaysia bertahun- tahun lamanya. Namun tahun- tahun berlalu tanpa arti. Uang yang didapat habis tak tentu oleh karena tidak pandai mengatur ekonomi atau memang karena


Ayah berjalan tanpa restu orang tua. Jauh dari kesuksesan. Ridho Allah di atas Ridho orang tua.


“Perantauan Ayah adalah pencarian tapi tidak tahu apa yang Ayah cari. Semuanya ruang kosong yang bernama hampa. Waktu  berjalan usia berlanjut sampai datang kabar kakekmu sakit keras. Dia memohon agar Ayah pulang. Meminta maaf dan Ayah berikan sejuta kemaafan. Ayah menyesal, sangat menyesal. Kemudian Ayah pulang melintasi lautan dan batas negara menuju pencarian yang sebenarnya adalah pulang itu sendiri, rumah tempat kita dibesarkan dahulu.”


“Beruntung nasib baik masih mempertemukan Ayah dan kakekmu. Kami berpelukan sama seperti ia memeluk Ayah sewaktu kecil dulu. Tapi sakitnya


sangat keras. Ayah berusaha menolongnya. Indonesia masih membangun ketika itu. Dokter adalah profesi yang langka sedangkan dukun sudah angkat tangan terhadap penyakit kakekmu.”

__ADS_1


“Ayah harus menemukan dokter.”


“Dokter hanya ada di Ibukota Kabupeten. Pemerintah yang menugaskannya di sana. Jaraknya lima jam perjalanan bila di tempuh dengan sepeda. Jalannya kecil dan baru selesai di bangun ketika itu. Dan beberapa ruasnya masih berupa jalan tanah. Ayah harus ke sana. Hanya dengan sepeda. Ayah mengikatkan gerobak di sepeda sebagai sandaran kakekmu. Ayah kayuh sepeda itu menuju Ibukota Kabupaten.”


“Sesampainya di sana sakit kakekmu makin parah. Dokter tidak ada di kediamannya.” Aku melihat air mata Ayah mengalir.


“Ayah menunggu senja berganti malam. Malam semakin larut. Ayah masih memeluk kakekmu yang diam. Tapi… ketika dokter itu datang denyut jantung


kakekmu telah diam.” Ayah menunduk. Aku merasakan kepedihan hatinya.


“Ayah menyesal. Seandainya dahulu Ayah lebih memilih melanjutkan sekolah. Paling tidak sudah menjadi seorang pemuda yang sukses yang bisa


perjuangan ini. Engkau akan menyesal seperti Ayah.”


Aku memandang wajah Ayah. Penuh keteduhan karena semua beban hati masa lalunya telah ia utarakan kepadaku. Alasan mengapa Ayah berkeras hati memintaku menjadi dokter.


“Tapi keadaan berbeda Ayah, ini masalah takdir.” Aku kembali menjelaskan pada Ayah.


“Dan usaha juga anakku.” Nasihat Ayah.

__ADS_1


“Bagaimana kalau memang tidak bisa?” Aku kembali bertanya untuk mengantisipasi segala kemungkinan


terburuk.


Ayah memalingkan wajah menatap awan-awan di angkasa yang mulai berkumpul hitam dan menggelap. ” Ayah memohon kepadamu. Jangan kecewakan Ayah.”


“Ayah…” Aku tak mampu melanjutkan kata- kata lagi. Impian ayah begitu besar.


“Ayah membesarkanmu dengan penuh kasih dan sayang. Engkau tumbuh besar dengan beras yang dibeli dari susah payah Ayah. Pun sepanjang hidup ayah telah sering menanggung duka. Jangan tambah luka itu Nak. Salahkah Ayah kini meminta kepadamu untuk mewujudkan impian Ayah ?”


Ayah adalah matahari di hariku yang pagi. Walaupun wujudnya yang dekat dengan mataku namun sinar kasihnya kini begitu jauh tak mampu aku rasakan. Udara laksana syarat cintanya yang bersyarat. Ayah memintaku mewujudkan impiannya menjadi


dokter sebagai balasan kasih sayangnya dahulu. Hal


ini tidak sesederhana anak SD yang akan dibelikan sepeda oleh orang tuanya bila berhasil menjadi juara kelas. Ini lebih dari pada itu.


“Aku akan berusaha Ayah. Aku akan berusaha.”  Jawabku. Terbayang Ayah tak pernah memohon kepadaku. Ini permohonan pertama Ayah.


***

__ADS_1



__ADS_2