
Aku mencari komunitas yang lebih besar. Berbagi pengalaman di dunia maya membuat kita merasa menjadi lebih kuat. Perasaan tidak sendiri, itu adalah sebuah energi psikologis yang
dimiliki oleh komunitas- komunitas yang lemah agar menjadi lebih kuat. Toh ! ini jaman teknologi, jarak dan waktu tak lagi membatasi melalui dunia maya pun orang dapat merubah dunia. Maka senja itu aku menyempatkan diri ke warung internet.
Aku mulai mengetik kata komunitas buta warna di google search. Aku masih terbata- bata.
Maklum saja aku mulai akrab dengan internet baru beberapa bulan lalu. Jamil yang mengajari waktu bimbingan belajar di padang dahulu. Di kota tempat tinggal Jamil telah banyak warung internet. Sedangkan di kota tempat tinggalku belum
ada ketika itu.
“BUTA WARNA LIFE IS THAT”, Itu kata yang teratas di mesin pencarian
. Lalu aku mengkliknya. Ada semacam logo yang berputar- putar. Istilah tersebut loading. Aku harus menunggu sebentar waktu sebelun tampilan laman yang aku tuju tertera penuh di layar.
Buta Warna Life Is Like That
__ADS_1
Dahulu, ketika mendengar tentang
buta warna, yang terlintas di pikiranku adalah dunia abu-abu layaknya televisi hitam putih. Kurasa tidak sedikit orang yang berpikir demikian. Saat SMU barulah kusadari bahwa aku juga buta warna. Aku tentu terkejut, terlebih lagi orangtuaku. Aku memang kadang sulit membedakan warna-warna senada. Tapi kupikir hal itu terjadi karena kamus perbendaharaan warnaku yang kurang. Lagipula aku melihat dunia ini dengan penuh warna. Jadi tidak pernah terlintas bahwa aku sebenarnya buta warna. Agak sulit juga meyakinkan orang tuaku bahwa aku masih bisa membedakan warna, tidak buta warna total atau monochromacy.
Banyak yang tidak tahu, bahwa buta warna itu banyak macamnya. Dan kasus monochromacy adalah yang paling langka. Salah satu penjelasan lebih detil dan ilmiah bisa dilihat di artikel Wikipedia tentang Color Blindness.
Aku sendiri termasuk penderita dichromacy protanopia, yaitu disfungsi dari salah satu dari 3 reseptor warna utama, dalam kasusku
adalah warna merah.
keturunan. Penyebab lainnya adalah kerusakan syaraf mata karena kecelakaan atau bawaan lahir. Menurut salah satu riset genetika populasi 5-8% pria dan 0,5%
wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk dichromacy protanopia dan dichromacy deuteranopia (disfungsi warna hijau). Jadi apakah anda juga buta warna? Tidak ada salahnya mencoba tes buta warna.
Buta warna memang dapat menggangu
__ADS_1
aktifitas sehari-hari. Itu faktanya. Tapi kadang aku tidak habis pikir bahwa ‘kekurangan’ ini dibuat menjadi batasan secara berlebihan. Contoh ketika
memilih jurusan di perguruan tinggi atau mencari pekerjaan. Beberapa bidang mengharuskan kandidatnya lolos tes buta warna. Seperti Kedokteran, Kimia dan Elektronika. Wajar memang, tapi ada juga bidang- bidang lain yang ikut
memberikan persyaratan bebas buta warna padahal sebuah bidang pekerjaan yang tidak berhubungan dengan warna. Mungkin orang- orang yang tidak buta warna berasumsi bahwa para penderita buta
warna hanya melihat dunia hitam dan putih saja. Bukankah dengan alat bantu seperti angka, atau label nama bisa membantu? Toh buta warna tidak mengurangi kecerdasan dan potensi seseorang.
Laman di atas menceritakan tentang batasan- batasan terhadap penderita buta warna di dunia kerja nanti. Hal tersebut tentu akan aku hadapi
juga beberapa tahun setelah kuliah. Toh setelah kuliah siapapun tentu akan mencari kerja untuk hidup dan bertahan hidup. Laman tersebut diikuti oleh
beberapa komentar yang terus aku baca.
__ADS_1