ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Kesempatan Kedua 4


__ADS_3

Aku telah berada di


kantor pajak. Cukup ramai orang yang mengantarkan berkas. Jadi aku tidak merasa


kesulitan mengikuti arahan- arahan pendaftaran. Pada ruang- ruang mana, dan


meja meja mana yang mesti aku lewati.


“Wah …jauh kali kok. Dari Riou ikut disini ?!” Petugas


pertama itu heran melihat daftar sekolah dan alamatku yang berada jauh di Riau.


“Iya Bang. Kebetulan saya sedang kuliah di sini. Ada kesempatan lalu saya coba STAN”


“Mengapa tidak ? bagus itu. Mamfaatkan kesempatan. Abang hanya tamat SMA setelah itu kuliah di STAN hanya 6 bulan.”


“D1 Bang ?”


“Ya. Masa itu pendidikan kami di Palembang,  Naik  bus hampir tiga hari, juga melewati Riau, kampungmu.”


“Sulitkah tes-nya Bang?”


“Sama seperti soal bimbingan. Soal Matematika dan Bahasa Inggris. Hanya saja kamu mesti cepat.”


“Butuh perjuangan yang extra ya Bang.”


“Tentu. Dan hasilnya Abang bisa bantu adik- adik, membatu orang tua dengan gaji dari Departemen


Keuangan yang sangat layak. Dua kali PNS tamatan kuliah he he.” Dia tertawa dengan mengecilkan volume terakhir pada kalimatnya. Soal gaji di depatemen keuangan.


Aku ingat ayah. Aku juga ingin menyenangkan hati kedua orang tua. Aku kuliah masih memberatkan Emak yang turut bekerja di kampung, untukku. Kalau lulus STAN Emak tak perlu lagi

__ADS_1


membiayai aku kuliah. Aku bisa membantu Emak.


“Silahkan ke meja selanjutnya.”


“Terimakasih Bang. Infonya.”  Aku mengucapkan terimakasih atas ceritanya yang turut memberiku semangat. Aku ingin lulus STAN. Sekali lagi


aku perhatikan orang- orang yang bekerja di kantor pajak ini. Mereka memiliki gaya yang keren, penampilan yang OK, gaji mereka sangat layak. Aku ingin seperti mereka.


Oleh karena rumah Teuku Dani yang berada di belakang kantor pajak, aku langsung bermain ke rumahnya setelah menerima kartu ujian STAN. Kartu itu aku simpan rapi di dalam tas.


Sampai senja datang, aku dan Teuku Dani singgah di Syiah Kuala  dalam perjalanan menuju Darussalam. Jalanan dari Lamdingin ke Syiah Kuala lalu ke Alue Naga begitu indah, lapang sejauh mata memandang adalah hamparan puing- puing Tsunami. Ini adalah jalan yang syahdu menuju Darussalam. Setelah nanti sampai di ujung Alue Naga, kami terus


berbelok menyusuri Kanal Lamnyong menuju Simpang Mesra ker gerbang Darussalam, ke Limpok kosku.


“Dani apakah esok kita masih bisa melihat senja yang indah seperti ini?”


“Entahlah Liel…, yang ada hanya harapan agar semua keinginan kita terwujud.” Jawab Teuku Dani


“Mungkin kita akan meninggalkan Matematika. Dahulu aku pikir kuliah di Matematika itu mudah.


Ternyata teori berhitung itu begitu rumit tidak sesederhana hidup sehari- hari.” Pengakuan Teuku Dani terhadap kuliah di Matematika, nilainya anjlok,


matematika dasarnya E.


“ Atau aku akan tetap disini, di Matematika. Untuk kemungkinan yang paling buruk, tidak lulus STAN


dan SNMPTN.” Aku bergetar mengucapkan kalimatku. Aku tidak ingin itu terjadi.


Dan matahari tenggelam menutup hari, tenggelam ke dalam lautan cahaya, di sebalik Pulo Aceh, di


belakang Pulau Sabang. Esok Matahari akan datang kembali. Esok hari yang baru akan hadir lagi mengabarkan masa depan kami.

__ADS_1


Ketika kakiku meninggalkan jejak di pepasir Syiah Kuala, aku memejamkan mata.  Aku ucapkan selamat tinggal untuk kenangan.


Aku bangkit dan berpaling tanpa menoleh kebelakang. Aku berjalan menjauh meninggalkan kenangan di Syiah Kuala, tempat makam ulama kharismatik pada abad kejayaan. Ulama yang secara tidak langsung menjadi penguasa kala Kerajaan Aceh


diperintah oleh empat orang sultanah, sultan perempuan berturut-turut.


Menyusuri jalan dari Syiah Kuala menuju Darussalam saat langit jingga kemerahan di bagian barat terasa


begitu indahnya. Pandangan luas adalah hamparan laut dengan ombak yang tak henti- hentinya dan deru angin yang terus- menerus di serakan puing- puing


tsunami sejauh mata memandang. Seakan- akan angin itu ingin menyusun kembali bongkahan- bongakahan itu.


“Liel, aku yakin 10 sampai 20 tahun lagi kawasan ini akan kembali seperti dulu, padat oleh rumah-


rumah.” Prediksi Teuku Dani.


“Aku Yakin. Sistem suksesi.”


“Aku pernah mendengar istilah itu dalam Pelajaran Biologi.” Ingat Teuku Dani.


“Individu yang survive akan membentuk imunitas khusus untuk bertahan dari seleksi alam selanjutnya.”


Kemudian aku melanjutkan. “Waktu akan menyembuhkan setiap luka…Teuku Dani.”


Nasihatku.


Aku ingat kenanganku setahun lalu. Dan waktu satu tahun yang telah aku jalani membuatku lebih kuat


untuk kesedihan- kesedihan selanjutnya.


Aku meninggalkan Syiah Kuala.

__ADS_1



__ADS_2