
Hidup adalah sebuah pilihan
Ada seorang pendaftar yang meninggal ketika berdesakan dalam antrean pendaftaran STAN. Begitu aku membaca sebuah tajuk berita di internet. STAN , sebuah kampus, ribuan orang,
berjuta kisah, dan milyaran kenangan. Begitu aku menyebutnya dengan kalimat
seperti itu. Seperti di Fakultas Kedokteran juga ada ribuan orang bermimpi untuk mengikutinya. Sedikit yang lulus namun ada ribuan cerita bahagia. Ada
juga cerita kegagalan tapi lebih bahagia ketika aku membaca kabar orang- orang yang lulus disana. Walau cuma membaca tapi setidaknya aku ikut merasakan kebahagian mereka. Aku merasa itu seperti aku.
***
Kos ku lebih berantakan di sekarang. Aku dan Rizqi lebih banyak diam. Kami bertekuk kepala membaca buku dan mengerjakan soal begitu serius di meja lipat. Bosan dengan meja lipat lalu
bertukar gaya dengan bertelungkup di lantai mencoret- coret kertas memperdalam
kemampuan Matimatika Dasar. Walaupun memiliki aktifitas yang sama tujuan kami berbeda. Rizqi belajar untuk mengikuti SNMPTN di Fakultas Kedokteran Negeri di Padang, alasannya kuliah di Banda Aceh terlalu jauh. Sedangkan aku belajar
keras untuk satu tujuan lulus STAN. Alqi belajar larut malam hari sampai dini hari. Sedangkan aku belajar ketika pagi hari sampai sore. Ketika aku lelap
tidur Rizqi belajar. Ketika aku bangun pagi maka aku lihat Rizqi tergolek di bawah, di lantai karena kelelahan belajar. Walaupun berbeda kami sebisa mungkin mengatur waktu untuk tetap menjalani kuliah dan belajar.
“Mengapa ikut tes lagi Qy?” Tanyaku pada Rizqy yang baru meregangkan badan setelah bangun. Ia begitu
__ADS_1
terburu, sepertinya ada kuliah pagi.
“Disini terlalu jauh Liel. Mengulang setahun tak apa. Di Padang lebih nyaman. Kalau lulus lanjut.
Kalau tidak aku tetap terus kuliah disini sampai tamat.” Jelas Rizqi,” Tidak mencoba SNMPTN lagi Liel?” Tanya Rizqi tak beberapa lama.
“Fokus STAN dulu.”
“Sayang tidak mencoba. Kesempatan”
“Mmm Nanti Akan kucoba. Beberapa hari lagi aku juga akan mendaftar. Antri- antri seperti dulu lagi.”
“Pilih apa?” Tanya Rizqi.
“Ha ha ha…” Kami tertawa. Sepertinya kami sama- sama rindu kampung halaman.
Sekalipun STAN dan Kedokteran memiliki tingkat kesulitan yang sama dan aku sudah menaklukkan tes Fakultas Kedokteran. Tetapi bahan tesnya berbeda. Soal STAN dipenuhi Matematika Dasar dan Bahasa Inggris. Sedangkan kedokteran di SNMPTN diisi soal- soal IPA, Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Aku bisa mengatur strategi dengan
mengambil banyak skor di Matematika Dasar, Kimia, Biologi, dan sedikit Fisika.
Namun dalam STAN hanya ada dua jenis tes, yaitu Matematika dan Bahasa Inggris.
Hasilnya aku lemah dalam Bahasa Inggris sedangkan itu mutlak diperlukan dalam menjebol pintu gerbang STAN.
__ADS_1
Aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris. Dalam tes STAN kemampuan tes Bahasa Inggris mirip dengan Tes TOEFL, hanya saja tanpa tahap Listening Test. Jadi hanya berfokus pada tenses dan grammar, versi tes STAN tentunya.
Aku telah memahami pola- pola tes Bahasa Inggris dari soal soal Tes STAN sebelumnya. Aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisku termasuk juga kosa kata. Selama ini memori di otakku terpenuhi dengan Materi Kimia, Biologi,
dan sedikit Fisika, memori itulah yang mesti diganti dengan penguasaan tenses dan grammar. Proses pengantian isi otak itu hanya membutuhkan waktu tidak sampai sebulan. Ini akhir April. Tes STAN dijadwalkan di Bulan Mei.
Setiap kata- kata di Kamus Bahasa Inggris aku baca. Satu persatu aku baca artinya dalam Bahasa
Indonesia. Tes kemampuan verbal juga sering kali mengambil kata- kata serapan dari Bahasa Inggris. Walaupun tidak mungkin dihapal, aku baca saja. Kalau beruntung kata- kata itu muncul di soal. Semoga aku bisa mengingatnya. Aku juga
berlari- lari ke perpustakaan. Di lantai paling atas ada beragam koran dan majalah. Jakarta Post, koran berbahasa Inggris seringkali wacana- wacana yang
hadir di soal STAN diambil dari sana. Aku membaca koran itu malam hari di perpustakaan sampai tutup. Pustaka kampus tutup jam 10 malam.
Di malam hari yang tenang. Di luasnya pustaka lantai atas. Bersama jejeran koran dan majalah aku
sendiri. Membaca teks dalam koran berbahasa Inggris. Setiap kata yang tak aku pahami. Aku ketik pada kamus elektronik. Aku tulis padanannya di koran itu sehingga aku paham wacana yang disampaikan. Begitu cara aku belajar. Begilah
semangatku belajar.
***
__ADS_1