ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Lamreh 1


__ADS_3

Aku merasakan sebuah benda yang begitu sejuk terletak di kepalaku yang panas. Begitu lembut, dingin yang menyejukkan. Aku membuka mata.


Samar- samar aku merlihat cahaya yang menyilaukan dari lampu. Aku melihat  loteng kos ku yang melai terang. Pandanganku mulai jelas.


“39º C. Lebih dari itu akan terjadi penguraian protein di tubuhmu,” kata suara itu. Aku pernah mendengarnya suara itu. Dia Rizqi. Teman sekamarku.


“Terimakasih.”


“ Kamu pulang di tengah hujan tempo hari. Jalan kaki. Badanmu basah kuyup.”


“…” Aku diam. Hatiku juga basah.


“Lalu kamu mulailah demam. Terbaring dan panas. Aku mengkompres kepalamu untuk menurunkan suhu.” Jelas Rizqi. Bukan hanya sebagai


teman sekamar, tapi Rizqi lebih dari itu. Ia telah memiliki empati seorang dokter. Cita- cita ayahku dulu.


“Rizqy…makasih…” ucapku masih lemah.


***


Tahun 2008 Ramadan telah datang di akhir Agustus. Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci bagi umat


islam di seluruh dunia. Pada Bulan Ramadhan orang- orang akan berpuasa. Namun sebelum itu orang- orang juga akan membersihkan hati dan diri. Orang- orang akan bermaaf- maafan kepada seluruh keluarga,  sahabat, rekan, jiran dan handai taulan. Orang- orang akan membersihkan


diri diikuti dengan menenangkan pikiran. Begitu juga di Banda Aceh, menjelang bulan Raamadhan ada semacam minggu tenang. Orang- orang akan memotong sapi, membuat makanan yang enak, berkumpul bersama tetangga untuk berdoa dan makan bersama. Pun juga ada yang bertamasya ke pantai, ke bukit- bukit rumput yang selalu


dihembus angin, sejuk sekali dengan pemandangan Kota Banda Aceh, Laut, dan Gunung Sabang yang indah. Juga tidak ketinggalan bertamasya ke air terjun dan lahan persawahan yang luas membentang.


Banda aceh adalah kota di ujung pulau Sumatra, di ujung pegunungan bukit barisan. Letaknya strategis


di gerbang Selat Malaka. Kondisi geografisnya di bentengi oleh pagar- pagar alami, dikelilingi oleh gunung- gunung dan bukit- bukit. Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong di sebelah timur dan di bagian barat adalah ujung Pegunungan


Bukit Barisan. Di hadapan Kota Banda Aceh terhampar Samudra Hindia dan Lautan


Andaman yang keindahannya laksana kepingan surga yang jatuh ke dunia. Lautan itu juga di bentengi oleh pulau- pulau yang tinggi menjulang menjadi gunung.


Pulau Weh dengan Gunung Jaboi dan Pulau Aceh yang tinggi.

__ADS_1


Pada musim tenang itu, Bang Roni mengajakku menenangkan hati. Bang roni adalah aktifis di kampus. Bersama rekan- rekannya mereka akan bertamasya ke sebuah pantai yang indah di Desa


Lamreh. Pantai itu adalah termasuk serpihan Lautan Andaman begitu indah. Pantai Pasir Putih yang terhampar di tengah bukit- bukit rumput yang hijau. Lautan biru sebiru langit dan tepian yang sehijau zamrud. Mungkin Bang Roni menghiburku kalau saja Bang Sahim bercerita kalau aku sedemikian sedih tempo hari.


Aku pergi ke Lamreh dengan menaiki motor. Bang Roni yang memboncengku. Sepanjang perjalanan menuju Lamreh berhiaskan pasir putih di sepanjang sisi kiri.  Sedangkan pada bagian sisi kanan jalan hanya bukit- bukit rumput di sisipi pohon- pohonm jemblang, jambu merah yang rasanya pahit- pahit manis. Pada puncak bukit  sapi- sapi di Lamreh merumput dengan nyamannya, kadang kala rusa- rusa liar tampak dari kejauhan. Langit lamreh


dihiasi awan putih yang menaungi lautan sebiru safir menambah eksotika pantai dalam layar mata.


Motor kami melewati teluk yang menjorok  jauh kedaratan, pelabuhan Barang Malahayati, di sebelah kiri tegak dengan gagah menara- menara


kapal, sampai dijung busur teluk terdapat tanjakan. Motor kami terus mendaki ke bukit yang lebih sepi, disana terhampar landskap yang tak pernah kulihat sebelumnya, Maha Pencipta Tuhan. Bukit- bukit rumput mengering sehijau zamrud. Di sisi yang lainnya hamparan surga Andaman, lautan indah dunia tersaji di pandangan mata, dihiasi pulau dan gunung. Pulau Weh dengan Gunung Jaboinya seakan raksasa yang menjaga Selat Malaka pelindung kota


Sabang. Jauh pandang ke ujung lautan, sampai mata mampu membedakan batas antara laut dan langit. Laut dan langit terlihat menyatu dan saling bersentuhan terlihat dari Lamreh hanya dipisahkan garis cakrawala yang sedemikian tipis.


Lamreh seperti memiliki denianya sendiri, begitu sepi. kami. Dimana tentara menjaga menjaga batas


Negara, pos yang sepi. Petani sayur aceh melintasnya jalan- jalannya sesekali menuju lahan yang jauh di sebalik punggung Gunung Seulawah yang tersembunyi, Lamteuba.


Tentara, petani, dan peternak sapi mereka hidup masing- masing dalam khazanahnya


sendiri. Juga demikian dengan anak- anak sekolah di ujung Indonesia ini, Mereka pulang dengan semangat belajar yang riang gembira. Pulang dengan menaiki labi- labi dengan bak terbuka. Ada pelajar yang bergantungan, duduk dan berdesakan


Aku begitu bahagia.


Kami berhenti di salah satu tebing panorama. Jauh di bawah sana terhampar pemandangan teluk krueng


raya. Di tempat tak jauh dari situ adalah pantai yang kami tuju. Di sebalik bukit rumput yang di batasi tebing lamreh. Itulah pantai indah yang kami tuju.


Aku akan kesana.


Sepanjang hidup aku tidak pernah ke pantai. Aku berjalan dari Ujung Keulindu ke Pantai Lok Mee


dengan menginjakkan kaki di pasir putih dengan lautan yang sebening kaca. Lhok Mee adalah pantai pasir putih yang dihiasi pohon Geurumbang dengan akar terbalik. Inilah pertama kali menginjak pantai pasir putih yang selembut tepung. Rasanya hangat yang  menghangatkan hati yang pernah dingin. Hangat yang menyembuhkan. Aku


terus berjalan ke perairan dangkal. Disana ada banyak bintang laut dengan bergam warna dan bentuk- bentuk yang lucu. Aku menginjak terumbu karang yang  patah – patah. Aku bahagia sekali. Pertama kalinya dalam hidupku mandi-mandi di laguna, berenang di koral. Aku bahagia.


Ombak pun tenang. Kini matahari hampir terbenam di Ujung Sumatra

__ADS_1


Langit emas merah dan indah. Andaman dan Niccobar di ujung mata. Jauh di Kota


Casablanca tepi barat Afrika matahari telah kembali.


“Teet…” Handphoneku


berbunyi ada pesan masuk. Dari Teman Echa. Aku membukanya.


“Assalamualaikum Teman. Beneran kamu buta warna dan tak jadi kuliah di


kedokteran. Apa itu benar ?”. Begitu bunyi pesan itu. Aku ragu membalasnya.


Tapi aku harus membalas agar semuanya jelas. Jangan sampai teman baruku itu


berprasangka aku tidak mau bertemu dengannya.


Dari mana Echa tahu hal tersebut. Bisa jadi Bang Boby memberi tahu. Atau orang lain yang kuliah di


fakultas yang sama kedokteran. Tapi itu tidaklah penting. Yang terpenting. Aku harus membalas pesan ini.


“Walaikumsalam teman. Itu semua benar. Maaf ya tidak bisa menepati janji untuk bertemu” Aku mengirim pesan itu.


Lalu aku menerima balasan.


“Bersabarlah kawan. Bersabarlah hatimu. Karena hati sungguh tak terlihat


dalam pandangan mata. Namun hati cermin aktualisasi diri setiap insan yang akan


tampak melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah


menganugrahhimu kejernihan hati dan kelapangan hati serta kedalaman rasa


sehingga hati tidak mati. Hati akan selalu hidup dalam relung sanubari setiap insan


yang bersabar.”


 

__ADS_1



__ADS_2