ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Sentuhan Amygdale 1


__ADS_3

Ayah selalu berpesan padaku untuk


membuka mata sebelum cahaya matahari tiba,  “ Paling


lambat, ketika bintang timur menyentuh garis ufuk, engkau harus bangun dari


mimpi, masuk ke alam nyata, memulai ikhtiar untuk mewujudkan semua himmah! ”


Suara gemuruh seantero


langit membuatku bangkit dari ketertegunan. Entah mengapa aku tiba-tiba berada


di atas geladak kapal yang begitu luas. Lalu terdengar suara gemuruh panjang


laksana sangkakala, yang disusul tiupan angin yang mendesir dari hamparan


samudra. Angin kencang itu menggoyahkan kapal.


Aku oleng. Sebelum


terjatuh, badanku terhempas pada orang yang berada disampingku. Aku berusaha


berpegangan padanya, namun kami berdesakan, di kapal ini ada ribuan orang. Aku


baru menyadarinya.


“Akkhh !!!” Suara itu


begitu panjang. Itu bukan gemuruh guruh yang biasa ku dengar di musim badai.


Itu suara sangkakala di atas cakrawala. Nun jauh di atas langit sana, ku lihat


satu titik kecil, sebentuk kerucut yang memusing semakin cepat dan semakin


dekat, membuat pusaran angin. Pusaran itu mengundang gelombang- gelombang angin


mendekati bahtera dimana aku berada.


“Akhh . Ya Allah.” Aku


pasrah. Guncangan ini begitu kuat. Dan bahtera pun tak sanggup bertahan dari


pusaran angin dari langit. Sisi kanan kapal melonjak, naik melebihi anjungan. Kapal


raksasa ini tenggelam perlahan-lahan.


Aku terpeleset. Ribuan


orang tumpah ke sisi kiri kapal, sebagian manusia- manusia lainnya jatuh ke


laut. Begitu juga dengan diriku, jatuh ke laut bersama ribuan bahkan jutaan manusia-


manusia dalam bahtera ini jatuh ke dalam lautan. Lautan sebentuk lautan cahaya.


“Akkhhhh!!!”


“Akhhh ! blup…” Aku


tenggelam. Aku menggapai-gapai. Aku dihempas gelombang yang naik dan turun


sebelum tenggelam.


“Ahhh…” Aku melihat


satu cahaya. Aku membuka mata. Ternyata aku bermimpi.


Aku bermimpi, seperti


mimpi yang begitu nyata. Badanku basah bukan oleh siraman air laut, tapi hanya


keringat. Badanku basah oleh keringat. Aku melirik pada jam dinding. Subuh


segera datang. Aku mesti bergegas untuk bersiap diri ke sekolah.


Hanya sebuah mimpi,


suatu dimensi yang terbentuk dalam imajinasi manusia. Mimpi terbentuk ketika


otak memancarkan gelombang alpha dengan frekuensi 8-12 Hz. Oleh karena itu


mimpi menghasilkan sebuah pancaran energi yang dapat berbentuk positif atau


negatif. Energi tersebut dipercaya dapat membuat sebuah mimpi menjadi nyata,


atau sebaliknya, kadang pula ada yang menyatakan mimpi sebagai jawaban dari


sebuah doa, firasat bisa jadi. Begitu yang dituliskan dalam sebuah artikel yang


pernah aku baca.


Hanya sebuah mimpi yang


dapat diingat dan dilupakan, Aku bermimpi tenggelam dalam lautan cahaya,


terombang- ambing sampai azan berkumandang.


“Allahuakbar …” Azan


memecah subuh yang hening.


Subuh adalah waktu yang


ajaib. Dalam subuh itu Tuhan membuka kesempatan untuk mengubah takdir manusia


melalui sebuah doa yang dipanjatkan dalam subuh itu.


Sesungguhnya Tuhan


memberikan dua macam takdir dalam hidup manusia, takdir yang sudah menjadi


ketetapan tuhan dan takdir yang berada di bawah pijakan kaki manusia. Takdir


yang tidak dapat dirubah dan takdir yang diberikan kesempatan untuk


mengubahnya. Dan memanjatkan doa pada saat subuh adalah salah satu jalan


mengubah takdir. Doa yang dipanjatkan setelah selesai sembahyang subuh.


 “ Ya Allah , tunjukkanlah aku jalan terbaik”


Siapa temanmu, siapa lawanmu,


hal itu dapat diketahui pada suatu massa yang terkenal di sekolah. Momentum


yang paling tepat untuk mengetahui karakter orang yang berada didekatmu, apakah


musuh ataukah teman adalah ulangan harian.


Momen yang membuat dua


teman baik yang selalu bersama bisa sibuk dengan urusan masing- masing, atau


sebaliknya keduanya sibuk menyusun stategi bersama. Momen yang mengakibatkan


dua orang yang hanya sesekali bertegur sapa, tiba-tiba duduk belajar bersama,


bertanya, atau menyusun siasat, laksana tentara mengatur strategi perang.


Satu- persatu mata


pelajaran mulai menunjukkan eksistensinya. Ulangan harian merupakan suatu


metode feedback untuk mengetahui


seberapa jauh kualitas peserta didik, seberapa jauh kualitas pembelajaran.

__ADS_1


Ulangan harian dapat digunakan untuk menilai diri dengan jujur. Kejujuran


adalah landasan proses pembelajaran.


Membaca bukan sekedar


membaca, namun menghapal. Menghapal bukan sekedar menghapal, namun memahami.


Aku memahami kandungan dari setiap paragraph dalam buku teks pelajaran


akuntansi yang sebentar lagi akan dilaksanakan ulangan hariannya. Untuk itu


kelas dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama sedang melaksanakan ulangan harian


di dalam kelas selama 45 menit ke depan. Selanjutnya aku yang berada pada sesi


kedua, berada di luar kelas membaca dan memahami apa yang ada di dalam buku


pelajaran akuntansi, akan menyusul setelahnya.


Ada satu kata bercetak


tebal pada sudut kanan atas buku yang aku baca. Pada bagian akhir paragraph


pertama, sebagai pembuka pada pengantar buku teks, sebagai motivasi bagi


peserta didik untuk terus melanjutkan bacaannya, STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi


Negara. Tidak pernah aku bayangkan bahwa kata itu akan mempengaruhi kehidupanku


beberapa tahun nanti.


STAN, yang aku baca


dari buku teks itu, adalah sebuah sekolah tinggi untuk orang- orang yang


berbakat dalam pelajaran akuntansi. Kampusnya berada di Bintaro, sebuah daerah


di Pulau Jawa.


“Liel, sebentar lagi


sesi kedua, lihat mereka sudah keluar.” Kata Herman temanku dalam sesi kedua.


Memang benar, tampak beberapa dari anak- anak sesi pertama telah keluar.


“Yok, bangkit.” Kataku,


lalu beberapa anak mengatur posisi. Posisi mementukan prestasi juga. Ronald


menghampiriku dan Herman juga.


“Kita dekat ya Liel.”


“Sip …” Aku pahami,


Guru Akuntansi itu killer. Dia


perempuan muda yang suka memukul. Dia


kerap kali memukul tangan yang tidak menulis ringkasan memakai kayu keras


dengan begitu kuat. Dia memukul beberapa kali sampai memejamkan mata karena


benci. Aku melihatnya sendiri.


Aku duduk di sudut


depan sebelah kanan. Ronald lebih di kanan lagi, dia di tepi dinding. Sedangkan


Herman berada disebelah kananku. Begitu mereka mengambil posisi. Kemudian


lembar soal ulangan harian diberikan. Guru Akuntansi itu melangkah keras,


matanya menyipit menyiratkan rasa kebencian. Awas bagi mereka yang curang,


Pada pertengahan waktu,


Herman sudah gelisah dibelakang. Dia sudah gelisah, mulai mendorong-dorong


kursiku dengan kakinya dari belakang. Aku diam, lalu memperbaiki cara dudukku,


agar dia dapat melihat lembar jawabanku. Ronald yang berada di sebelah juga


mencuru-curi kesempatan untuk bertanya kepadaku, meskipun soal kami berbeda


versi. Mereka tidak belajar.


Pada akhir waktu aku


telah memenuhi semua lembar jawaban. Aku telah selesai di awal. Aku diam


menunggu waktu berakhir.


“Hei ! disana !” Teriak


guru itu kepada kami. Keadaan lalu tenang dan aku duduk dengan tenang.


Pada suatu detik yang


hening. Detik yang membekukan ruang. Bagaikan terowongan yang menghubungkan


ruangan dengan waktu yang jauh di masa depan. Kejadian di dalam ruang yang


menggores Amygdale.


***


Oktober 2016.


Sesungguhnya  di dalam tubuh terdapat segumpal daging, yang


apabila segumpal daging itu baik maka seluruh tubuh itu akan baik, dan apabila


segumpal daging itu rusak maka seluruh tubuh itu pun akan rusak. Begitu kalimat


yang disabdakan oleh nabiku. Dan segumpal daging itu adalah qalbu. Qalbu yang


diyakini oleh para ahli fisiologi sebagai Amigdala, yaitu perkumpulan


sekumpulan syaraf yang berbentuk seperti kacang almond. Hal ini disebabkan oleh


ciri- ciri fungsi yang sama antara Qalbu dengan Amigdala.


Amigdala merupakan


bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap


reaksi emosi. Di dalam amigdala tersimpan sebuah kenangan baik dan buruk


tentang kejayaan dan kegagalan, harapan dan ketakutan, peristiwa yang indah dan


kejadian traumatik. Sebuah kejadian buruk merupakan sebuah tekanan yang menggores


syaraf halus pada amigdala. Luka pada bagian dalam tubuh dapat sembuh bila


tampak dari luar. Namun perasaan sedih dan sakit akan tetap ada tersimpan dalam


memori otak manusia. Tersimpan jauh di dalam kerumitan lorong- lorong terdalam


amigdala.


Sungguh luar biasa


Tuhan menciptakan sebuah Amigdala, andaikan otak manusia diciptakan seperti

__ADS_1


sebuah computer, tentu aku dapat mendelete setiap bagian buruk yang ingin aku lupakan. Tentu tidak akan ada sebuah


tempat yang aku tidak mau berada disana. Walaupun tidak ada dendam pada


siapapun tetapi sebuah tempat, SMA di Atas Bukit, tempat yang membuat satu


simpul Amigdala di otakku kembali terluka kalau saja aku berada disana, kalau


saja ada yang mengingatkanku pada tempat itu.


Sungguh kasihan korban


dari tindak kekerasan yang melukai Amigdala. Walaupun korban telah memaafkan


sang pelaku kejahatan bertahun- tahun lamanya, namun luka pada Amigdala tak


bisa hilang, bahkan sampai mati, kejadian traumatik pada manusia akan terus


melukainya.


***


            Pekanbaru,


Oktober 2016


            Aku


tidak membenci mereka. Tapi gurat- gurat wajah mereka mengingatkanku pada masa


lalu. Mereka bertiga duduk berjajar di bangku koridor yang akan aku lewati. Tak


ada jalan lain. Aku harus melewatinya. Aku melangkah dengan jalan menunduk,


mengalihkan perhatian agar tampak santun. Aku pura- pura tidak mengenal mereka,


dan semoga juga mereka telah melupakan aku.


            Ketika


kakiku hendak sampai di mendekati pintu, salah satu dari mereka memanggilku,


dia memanggil namaku.


            “Liel


…”


            “Liel…”


Bunyi itu menggema di sepanjang koridor. Gelombang suara itu menggemakan ruang-


ruang dalam memoriku. Aku berpaling, balik kanan dan tersenyum kaku. Kemudian


sesopan mungkin aku bersalaman pada mereka.


            “Masih


ingat dengan SMA di Atas Bukit ?” Kata salah satu dari mereka. ‘Sreg’ Amigdala


dalam otakku berdenyut, merangsang percepatan seksresi andrenalin untuk


meningkatkan pengeluaran hormon insulin, jantungku berdetak cepat.


            “


Masih Pak, Buk” Ucapku, tersenyum kecut, beberapa saat keadaan menghening.


            “Bapak


masih ingat semuanya…” Kata Bapak itu.


            “Secara


detail” Lanjut Ibu guru yang lain.


            “Sudah


sebelas tahun berlalu, Bu” Ucapku langsung.


            “Bahkan


siluet- silet bayanganmu, saat duduk di bangku ruang kelas setelah peristiwa


itu. Ibu masih bisa mengingatnya secara detail.” Jelas Ibu Guru itu, kemudian


dia melanjutkan, “ketika Ibu masuk ke ruang kelasmu, setelah terjadi peristiwa


yang merenggut kecerianmu, rasanya baru kemarin”


            “Mmmm”


Aku terdiam. Pikiranku menerawang.


***


Tahun 2005


Ronald mencolek bagian


pinggangku. Ia tahu soal ulangan harian kami berbeda versi. Mungkin ada satu


hapalan yang tidak ia ingat. Ia bermaksud bertanya kepadaku. Aku yang berada di


sampingnya menoleh.


Perempuan itu, ia


melangkah laju mendekatiku. Ia mengambil dua buah buku tebal, buku teks pelajaran


akuntansi, kedua buku itu tumpuk dipadukannya. Paduan buku yang sudah menjadi pemukul itu diangkatnya tinggi. Kemudian


melayang sekuat tenaganya pada kepalaku, pada kepalaku. Tepat mengenai telinga pada bagian kiri


kepala, wajahku terpental. Suasana hening dan berdenging, aku terdiam dan


aku tidak melawan, juga tidak menangis. Aku diam.


Perempuan itu, ibu guru


bermata tajam penuh kebencian. Ia memukul kepalaku kembali, untuk keduakalinya,


saat telingaku masih berdengung. Bagian kepalaku panas, pasti kemerahan bila


dilihat dari kaca. Sumpah demi Tuhan yang aku sembah perempuan itu juga


merobek- robek kertas jawaban ulangan harian yang telah aku selesaikan.


Kelas hening. Semua mata


tertuju padaku.


Apa


salahku ?


Bukankah


Romald  yang memanggilku.


Mengapa


aku yang dipukul ?


Ternyata Ronald adalah

__ADS_1


bagian dari keluarga perempuan itu. Aku baru mengetahuinya di kemudian hari.


__ADS_2