
Seorang Gadis kecil terlihat berlarian kesana kemari mengejar temannya yang berlari di depannya. Namun aksi Gadis itu terhenti seketika saat ia merasakan panas yang luar biasa pada punggungnya
"Viona, hati-hati kau bisa jatuh, Nak" teriak seorang Wanita pada Gadis kecil itu yang ternyata bernama Viona.
"Iya Mom, aku tau " balas gadis kecil itu sambil tersenyum pada Wanita yang di panggilnya Mom itu.
"Ahhh, Mom Sakit " Jerit Viona sambil memegangi pundaknya.
Melihat hal itu membuat Sang Ibu menjadi sangat panik. Wanita itu terlihat berlari menghampiri Putri kecilnya yang terus menangis kesakitan
"Viona, ada apa?" tanya Wanita itu panik. Dia hanya bisa berdoa semoga yang ia takutkan tak sampai terjadi. "Apanya yang sakit, Nak? Katakan pada, Mami,"
"Hiks...Sakit Mom, Sakit " jerit Viona untuk kesekian kalinya, jari-jarinya meremas pakaian yang di kenakan Ibunya. "Huhuhu, sakit!!"
Kedua mata wanita itu membulat sempurna, saat ia melihat sebuah ukiran mirip tatto di bahu kanan putrinya tiba-tiba mengeluarkan sinar kehijauan. Membuatnya cemas dan panik.
"Ya Tuhan, kenapa tanda ini bersinar lagi?"
.
.
Tiga bulan telah berlalu. Selama tiga bulan berada di bumi, Nuwa masih belum menemukan tanda-tanda dimana keberadaan orang yang memiliki tanda yang harus dia lindunginya. Nuwa tak tau kemana lagi harus mencarinya.
Dan waktu yang Nuwa memiliki hanya tersisa sembilan bulan lagi, dan sembilan bulan bukanlah waktu yang lama. Hanya dengan menghitung kedipan mata saja, sembilan bulan itu sudah tiba. Tidak mudah baginya untuk menemukan keberadaan pemilik tanda tersebut, masalahnya Nuwa tak tau seperi apa wajahnya, pria atau wanita, muda atau tua, anak-anak atau orang dewasa. Semua itu masih jadi teka-teki.
"Nuwa,"
Perhatian Nuwa segera menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang menyerukan Namanya
Mata Nuwa membulat sempurna. "Kakak!!" serunya terkejut.
"Kenapa kau terlihat murung dan cemas? Apa sesuatu terjadi selama tiga bulan ini?!" tanya perempuan itu memastikan.
Nuwa mengangguk. "Ya. Waktuku hanya tinggal sembilan bulan lagi. Tetapi sampai detik ini aku masih belum bisa menemukan bahkan mengetahui siapa, dan seperti apa pemilik tanda itu," ucap Nuwa yang terdengar begitu frustasi
Dengan lembut wanita itu menggenggam kedua tangan Nuwa, dan memberikan semangat serta dukungan untuk seniornya tersebut
"Dengarkan Kakak, Nuwa. Kau tidak boleh putus asa. Kau harus tetap berusaha dan jika tiba saatnya, kau pasti akan menemukan si pemilik tanda itu" ujar wanita itu menasehati.
__ADS_1
Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap Seniornya. "Ya, aku tau. Tapi kapan?! Sedangkan waktuku, semakin hari semakin berkurang," balas Nuwa menimpali.
"Jangan menyerah dan kau harus tetap berusaha," Wanita itu menyemangati.
"Ya, aku tau."
.
.
Seorang Pria dengan balutan singlet putih dan celana hitam terlihat berdiri di balkon rumahnya, dengan tatapan lurus ke depan. Kemudian ia mengambil kaca kecil yang terletak di sampingnya, dan mengarahkan pada lehernya
"Sebenarnya tanda apa ini?" gumam pria itu sambil menyentuh tanda di lehernya tersebut. Tanda itu menyerupai tatto.
Dan karena terlalu asik dengan dunianya. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika ada orang lain yang muncul di balkon. "Dingin," seru seseorang yang entah sejak kapan berada di samping pria itu 'Rey'
Rey sedikit terkejut saat melihat seorang Gadis yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. Rey benar-benar tak menyadari kemunculan Nuwa yang begitu tiba-tiba.
Rey menatap Nuwa datar. "Sejak kapan kau disini?" tanya Rey pada Gadis itu.
"Sejak kau melamun " balas Nuwa.
Kemudian Gadis itu menolehkan kepalanya pada Rey yang saat itu juga tengah menatapnya dan membuat pandangan mereka saling bertemu
Sooyeon menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Rey mengulurkan tangannya dan membelai rambut pandangannya. "Ka..Kau mau apa?" tanya Nuwa mulai was-was. Dia takut Rey akan melakukan sesuatu padanya.
"Ada kotoran di rambutmu," balas Rey sambil mengambil daun kering dari rambut Nuwa.
Membuat gadis itu menjadi sangat malu, karena ia sudah sempat salah paham dan mengira jika Rey akan melakukan sesuatu yang berbahaya padanya. Nuwa tidak ingin terlalu dalam masuk ke kehidupan Rey.
"Hm, ada apa dengan wajahmu? Kenapa merah?" ucap Rey sambil menunjuk pipi Nuwa yang tampak memerah
Nuwa menggeleng. "Tidak apa-apa, mungkin karena udara malam ini yang terlalu dingin." Ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya di pipinya. Nuwa menggeleng, dia tidak boleh sampai jatuh cinta pada pria ini, apapun alasannya.
"Hn," balas Rey menyahut
Setelah percakapan singkat itu, tak ada lagi pembicaraan lagi antara Rey dan Nuwa. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, Rey yang memandang lurus pada langit malam. Sedangkan Nuwa yang sibuk mengatur detak jantungnya yang berdetak semakin tak karuan.
"Perasaan apa ini? Jangan sampai aku memiliki perasaan tak wajar padanya," gumamnya dalam hati
__ADS_1
"Ayo masuk, udara disini semakin dingin. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri disini tanpa pakaian hangat apapun." ucap Rey sambil mengunci manik indah milik Nuwa.
"Kau duluan saja, aku masih ingin disini. Dan kebetulan aku masih belum mengantuk," ucap Nuwa menimpali.
"Hn, baiklah."
Dan tak lama setelah kepergian Rey, sebuah cahaya menyilaukan muncul di hadapan Nuwa, dan tak lama setelahnya seorang Wanita bersayap malaikat berada di tempat yang sama dengan Sang Dewi.
"Kakak, bagaimana kau bisa sampai disini?!" Nuwa menatap wanita itu kebingungan."Omo!!Jangan bilang jika kau terus mengawasi aku selama 24 jam penuh?!"
"Bukan mengawasimu, lebih tepatnya memperhatikan dirimu!! Apa semuanya baik-baik saja?" tanya perempuan itu memastikan
"He'em, semua baik-baik saja. Tetapi ada satu hal yang kurang baik," ucap Nuwa lemas
"Apa lagi? Tentang keberadaan pemilik tanda itu?!" tebak perempuan itu 100% benar.
Nuwa mengangguk. "Ya. Aku masih belum bisa menemukan pemilik tanda itu hingga detik ini, dan itu membuatku sangat frustasi," ucap Nuwa sambil memejamkan kedua matanya.
"Ada satu hal lagi yang ingin Kakak tanyakan padamu. Dan jawab pertanyaan Kakak dengan jujur, apa kau jatuh cinta pada pria itu?" tanya perempuan itu menyelidik.
Skakmat. . .
Seketika Nuwa kehilangan kata-katanya setelah mendengar pertanyaan Kakaknya. Ia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri masih belum paham dengan perasaan yang ia rasakan pada Rey.
"A...Aku, sebenarnya~"
"Jangan pernah jatuh cinta pada manusia, Nuwa. Kau tau sendiri bukan apa konsekuensinya?!"
"Aku akan menghilang tanpa jejak!!"" sergah Nuw cepat.
Wanita itu mengangguk. "Ya, jadi kendalikan perasaanmu dan jangan berani coba-coba untuk jatuh cinta pada pria yang bukan dari kaum kita!!" ujar perempuan itu menasehati.
Dan inilah alasannya melarang Nuwa untuk jatuh cinta pada manusia, karena ia tidak ingin sesuatu yang tidak pernah di inginkan akan terjadi pada adiknya itu.
Karena dia tak ingin ada tragedi lagi, seperti kisah tragis yang dialami oleh salah satu Dewi dimasa lalu.
"Kecuali orang itu sama seperti kita, atau setidaknya seseorang yang dalam dirinya mengalir darah Dewa. Karena kita hanya bisa bersama dengan kaum kita sendiri, itu sudah menjadi peraturan secara turun-temurun dan tak boleh ada yang melanggarnya. Jika ada, maka hukumannya adalah kematian atau menghilang?!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.