
Rey terus mengawasi gerak-gerik orang yang wajahnya menyerupai Frans. Wajah mereka berdua memang sama, tetapi tidak dengan sikapnya. Hampir sembilan tahun hidup Frans ikut bersamanya dan menjadi orang yang paling Rey percayai. Tentu saja dia mengenalnya dengan sangat baik.
Mata orang lain mungkin bisa dibohongi, tetapi itu tidak berlaku bagi Rey. Dan hanya dia yang tau jika itu bukanlah Frans yang asli. Dan Rey sedang menyelidiki keberadaan Frans saat ini.
"Siapa yang sedang kau perhatikan?" tegur Nuwa sejak kapan sudah berdiri di samping Rey.
Laki-laki itu menoleh menatap perempuan di sampingnya. "Kenapa aku tidak menyadari Kehadiranmu?" alih-alih menjawab pertanyaan Nuwa, rey malah balik bertanya.
Gadis itu mengangkat bahunya. "Karena kau terlalu asik dengan duniamu sendiri. Bahkan kau tidak sadar aku sudah berdiri di sini selama satu menit lebih, memangnya siapa yang sedang kau perhatikan?" tanya Nuwa sekali lagi.
"Dia!!" Nuwa mengikuti arah tunjuk Rey.
Nuwa menaikkan sebelah alisnya dan menatap laki-laki itu penuh tanya. "Frans, memangnya ada apa dengannya? Sampai-sampai Kau memperhatikannya seserius itu? Apa karena dia tidak datang selama beberapa hari?" tanya Nuwa penasaran.
"Apa kau tidak menyadarinya?" Rey menatap Nuwa tak percaya.
"Menyadari apa?" Nuwa semakin bingung dibuatnya.
"Perubahan yang ada pada, Frans. Setelah beberapa hari dia menghilang, tiba-tiba dia berubah sikapnya. Tak hanya sikapnya saja yang berubah, bahkan cara dia menatap orang pun tidak seperti Frans yang biasanya," jelas Rey.
Nuwa menggeleng. Gadis itu memiringkan kepalanya, dan menatap Frans palsu itu dengan seksama. Wajahnya Frans, Fisiknya Frans, lalu apa yang berbeda? Tapi setelah dia perhatikan dengan seksama, Nuwa memang melihat keanehan pada pria itu. Dan hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Gadis itu menutup matanya, Nuwa mencoba menggunakan kekuatan mata batinnya untuk menembus penyamaran orang itu. Apakah dia benar-benar Frans atau bukan. Dan akan terbuka setelah ini.
"Omo!! Ternyata memang bukan, Frans!! Tetapi orang lain yang menyamar sebagai dia!!" ucap Nuwa setelah melihat sosok sebenarnya di balik wajah Frans.
Rey menoleh dan menatap gadis itu. Alisnya terangkat keatas. "Kau melihat wujud aslinya?" Nuwa mengangguk. Kalau begitu Perlihatkan padaku!!" pintanya.
"Tutup matamu!!" pinta Sang Dewi.
Nuwa mengusapkan jari-jarinya di mata Rey. Dan ketika dia membuka mata kembali, terlihatlah seperti Apa wujud aslinya. Dia adalah seorang wanita yang wajahnya asing bagi Rey maupun Nuwa. Wanita itu memiliki Aura kegelapan yang begitu kental. Dan dari auranya, Rey tahu jika wanita itu sangatlah berbahaya.
__ADS_1
Melihat tanda di leher kiri wanita itu membuat Rey semakin yakin, jika wanita itu benar-benar berasal dari dunia kegelapan. Tanda itu berbentuk bunga kristal. Dan tanda yang dia miliki, sama persis seperti yang dimiliki oleh Nuwa. Hanya posisi dan letaknya saja yang berbeda.
"Bagaimana, apa kau sudah melihatnya?" tanya Nuwa memastikan.
Rey mengangguk. "Ya, aku sudah melihatnya. Sepertinya kau dan wanita itu sama, sama-sama terlahir dari bunga kristal." Ucap Rey yang sontak membuat perhatian Nuwa teralihkan padanya.
"Maksudmu?!" gadis itu menatapnya penasaran, dia membutuhkan penjelasan.
Akhirnya Rey pun menjelaskan apa yang dia ketahui pada Nuwa, dan seketika itu juga Nuwa teringat dengan apa yang disampaikan oleh Ibu angkatnya. Tentang Dewi yang lahir dari bunga kristal sebelum dirinya, tetapi sayangnya dewi itu memiliki jiwa yang hitam.
"Aku mengerti sekarang, dan aku dengar dari ibu angkatku. Jika dia sangatlah kuat, karena memiliki kekuatan yang mampu membinasakan empat alam dalam satu kali serangan. Tetapi kekuatan itu baru bisa dia bangkitkan dengan mandi di telaga tujuh warna yang ada di Lianera. Tak hanya itu saja, dia juga harus mendapatkan mutiara kehidupan dari pemilik keabadian." Ujar Nuwa panjang lebar.
"Apa Itu artinya, saat ini kekuatannya masih belum terbangkitkan sepenuhnya?!" Rey memastikan. Nuwa mengangguk. "Jika begitu, sepertinya akan lebih mudah bagi kita untuk membinasakannya, sebelum terjadi malapetaka!!"
Nuwa mengangguk. "Ya, itu juga yang aku pikirkan. Selain itu, kita juga harus mengamankan Viona sebelum Iblis betina itu menemukannya. Dan satu-satunya cara untuk melindunginya adalah dengan membawanya kemari. Dengan begitu kita bisa melindunginya secara langsung."
"Aku tidak setuju!!" Rey menyela cepat. Setidaknya untuk saat ini. "Wanita itu ada bersama sekarang. Dan jika kita membawa anak itu kemari, itu sama saja dengan menyerahkannya pada wanita itu dengan cuma-cuma!! Kita baru bisa membawanya kemari, setelah mendepak wanita itu keluar dari rumah ini. Tapi pertama-tama, kita harus menemukan Frans terlebih dahulu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk sampai menimpa dirinya. Karena Frans adalah orangku yang paling setia!!"
"Temani aku jalan-jalan keluar. Aku bosan dan ingin keliling," Ucap Nuwa dan menyadarkan Rey dari lamunan panjangnya.
"Memangnya kau ingin jalan-jalan kemana?"
Nuwa menggeleng. "Aku sendiri tidak tau. Aku masih belum menemukan destinasi wisata yang tepat untuk dikunjungi. Atau mungkin kau bisa memberiku saran?!" Nuwa menatap Rey penuh harap.
"Aku sendiri juga tidak tau. Mungkin kita bisa pergi memetik stroberi," jawab Rey memberi usul.
Kedua mata Nuwa berbinar mendengarnya. Dia mengangguk antusias. "Boleh, boleh. Itu adalah ide yang sangat bagus. Kebetulan sekali aku memang ingin memakan stroberi yang besar dan segar." Jawabnya begitu antusias.
Rey menepuk kepala Nuwa. "Kalau begitu cepat ganti pakaianmu, aku akan menunggumu di luar. Dan jangan lupa untuk membawa pakaian hangat, perkiraan cuaca hari ini sangat tidak bagus." Ucapnya dan dibalas anggukan kepala oleh Nuwa.
"Baiklah, aku mengerti. Aku ganti baju dulu." Ucapnya dan beranjak dari hadapan Rey.
__ADS_1
Pandangan Rey kembali pada Frans palsu. Cepat atau lambat dia pasti akan melemparnya keluar dari rumah ini.
.
.
Dua anak itu sedang duduk disebuah ayunan yang berada di halaman belakang rumah si anak perempuan. Keduanya baru saja selesai belajar bersama dan sekarang sedang duduk santai sambil mengobrol ringan.
Kedatangan anak laki-laki itu dirumahnya membuat si anak perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Viona menjadi sangat kegirangan. Pasalnya dia memiliki teman untuk mengobrol dan bermain.
"Ini untukmu," anak laki-laki itu 'Ken' menyerahkan origami bunga mawar pada Viona. Membuat kedua mata gadis kecil itu seketika berbinar-binar.
"Sungguh-sungguh untukku?" Ken menganggukkan kepala. "Wah, ini bagus sekali. Aku sangat menyukainya. Ken, terimakasih."
"Hn, sama-sama. Dan syukurlah jika kamu suka. Oya, sudah hampir siang, sebaiknya aku pulang sekarang. Mama, bisa kebingungan mencariku." Ucap Ken seraya bangkit dari kursinya.
Membuat mimik wajah Viona berubah sedih. Sepertinya dia tidak rela jika Ken harus pulang sekarang. "Apa tidak bisa nanti saja pulangnya? Pasti bibi mengerti kok, jangan pulang dulu ya." pinta Viona memohon.
"Tidak perlu sedih, begitu besok kita bisa bermain lagi. Dan aku janji akan membuatkanmu lebih banyak origami yang lebih cantik dari bunga ini,"
"Janji?"
Ken mengangguk. "Ya, aku berjanji. Sebaiknya kau kembali ke dalam. Udaranya sangat tidak bersahabat. Aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok." Ken melenggang pergi sambil melambaikan tangannya pada Viona.
"Ya, sampai jumpa besok."
.
.
Bersambung.
__ADS_1