
Di tengah malam yang dingin dan gelap, seorang perempuan muda berjalan sendirian menyusuri jalanan malam seorang diri.
Setiap helai kain yang melekat di tubuhnya, kontras dengan udara malam ini yang begitu dingin.
Perempuan itu memakai gaun terusan panjang bermotif bunga berbahan chiffon terbaik. Puluhan pasang mata yang berpapasan dengannya, tak satupun ada yang bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. Baik itu pria maupun wanita.
Perempuan itu memiliki paras yang sangat cantik. Berkulit putih dan sehalus porselen, rambut panjang yang terurai serta warna mata yang begitu indah.
Kecantikan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Bukannya merasa bangga karena menjadi pusat perhatian, perempuan itu justru merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Memangnya harus ya, jika orang yang cantik menjadi pusat perhatian?! Perempuan itu benar-benar bingung.
"Apa kabar, Dewi empat musim?! Lama tidak bertemu, Dewi Nuwa!!"
Nuwa menghentikan langkahnya karena kemunculan seorang wanita dalam balutan pakaian hitamnya.
Tanpa harus memperkenalkan diri sekalipun, tentu saja Nuwa sudah tahu siapa wanita itu. Dan Nuwa tidak menyangka Jika ia akan bertemu dengan wanita dari ras Iblis di dunia manusia ini.
Wanita itu menghampiri Nuwa. Dan seketika waktu berhenti. Apapun yang ada disekitarnya tak bergerak sama sekali, dan tentu saja Nuwa tahu siapa yang menghentikan waktu.
Langkahnya terhenti tepat di depan gadis itu. Wanita itu menyeringai tajam.
"Setelah sekian purnama, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menghabisimu. Dan malam ini juga, akan ku balaskan kematian saudaraku. Kau.. Harus mati di tanganku!!" ucap wanita itu percaya diri.
Nuwa menatap wanita itu dengan sinis."Kenapa kau bisa percaya diri sekali, jika mampu membunuhku?!"
"Jangan remehkan aku, karena aku tak selemah dulu!! Dan aku menjadi lebih kuat hanya untuk membalaskan dendam saudaraku padamu!!"
"Omong kosong apa yang kau katakan?! Memangnya seberapa besar kekuatan yang kau miliki, sampai-sampai kau begitu percaya diri bisa menghabisiku!!" ucap Nuwa menimpali. "Sayangnya aku tidak memiliki waktu untuk melayani orang sepertimu!! Jika kau ingin melawanku sebaiknya perkuat dulu dirimu!!"
__ADS_1
Nuwa mengibaskan tangannya ke udara, dan seketika waktu kembali berjalan. Aktivitas orang-orang yang sempat terhenti kini berlanjut kembali. Dan tak satu pun dari mereka, ada yang menyadari apa yang baru saja terjadi. Dan wanita itu hanya bisa menatap kepergian Nuwa dengan marah.
"Ingat, ini masih belum berakhir. Persiapkan dirimu, aku pasti akan menghabisimu!!"
Seketika Nuwa menghentikan langkahnya, dan menatap dingin wanita itu dari ekor matanya."Buktikan saja, jangan hanya besar mulut!! Buktikan jika kau memang lebih beat dariku!!" Ucapnya dan berlalu.
.
.
"Aku berjanji akan selalu ada untukmu. Jika kau adalah lautan, maka aku adalah pantai yang akan menjadi tempatmu untuk berlabuh," ucapnya dengan memancarkan kepercayaan diri dari mata ungunya. "Bahkan, jika kau adalah api, aku bersedia menjadi angin untuk membuat api yang lebih besar."
Mata semerah darah itu menatapnya dengan dingin. "Lalu jika aku adalah kegelapan, apa kau bersedia menjadi cahaya untukku?"
Gadis itu terhenyak sesaat lalu mengerutkan alis, matanya kembali terkunci pada manik merah itu. Detik berikutnya, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah.
"Tentu saja. Jika kau adalah kegelapan, maka aku adalah cahayamu. Aku yang akan menjadi lenteramu.'
Kenangan demi kenangan yang pernah di hapus secara kejam, kini mulai bermunculan.
Begitu banyak kenangan manis yang pernah ia lupakan, namun ada juga kenangan pahit yang membuat adanya terasa sesak.
Rey bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dinding kaca yang berada di belakang meja kerjanya. Kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celana, matanya menatap lurus pada kerumunan manusia yang ada di bawah sana.
Saat siang hari, suasana kota Seoul memang terlihat lebih sibuk dari saat malam hari. Namun ketika malam tiba, seoul jauh lebih hidup dibandingkan siang. Hal itu dikarenakan lampu-lampu kota yang terlihat mirip dengan manik-manik langit yang berpendar di malam hari.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Pria itu menoleh mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang, Frans terlihat menghampirinya.
Pria itu membungkuk sebelum menyampaikan sebuah berita penting pada Tuannya.
__ADS_1
"Tuan Muda, saya telah menemukan orang itu. Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan semua informasi yang Anda inginkan." ucap Frans.
Kemudian Rey berbalik, posisinya dengan Frans saling berhadapan. "Kalau begitu bawa aku padanya!!" pintanya.
Frans membungkuk. "Baik, Tuan Muda."
.
.
Felix dan Chen, adalah nama dua pemuda yang mendarat di kediaman Nero. Mereka berdua adalah makhluk yang berasal dari tempat yang sama dengan Nuwa, yakni Lianera.
Berada di tempat asing yang tak pernah merasa kenal sebelumnya membuat Felix dan Chen merasa kesulitan. Banyak sekali hal-hal tak masuk akal yang mereka lihat dan temui selama berada di tempat ini, mulai dari benda besar mirip burung raksasa yang bisa mengudara, banyak bangunan-bangunan tinggi yang seperti mencakar langit.
Tetapi bukan berarti mereka tidak betah berada di bumi. Tentu saja mereka berdua sangat betah, karena di sana mereka seperti menemukan surga yang selalu diimpikan. Yakni sebuah pemandangan yang mampu menyegarkan mata mereka berdua, karena hampir setiap hari mereka bisa melihat para perempuan berpakaian minim, super super mini berjalan ke sana kemari. Dan mereka berdua tentu saja sangat menyukainya.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di kamarku?!" Selena terkejut Bukan main ketika ia baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Chen serta Felix berada di kamarnya.
"Hehehe, maaf Nona, kami tadi sedang kesasar. Rumah ini sangat luas dan besar, sehingga akan sangat sulit bagi kami untuk menemukan kamar yang sudah kami tempati selama beberapa hari ini." ujar Felix menuturkan.
Selena mendengus berat. "Dasar manusia-manusia anah!!! Aku tidak tahu apa alasan si cacat itu membiarkan kalian tetap tinggal disini!! Oh, apa mungkin hanya karena kau adik dari jallang murahan itu, makanya Rey mengijinkan kalian tetap disini!!"
Keduanya mengangkat bahunya. "Mana kami tahu, tapi bisa jadi begitu. Maka itu artinya, saudara kami telah menjadi orang penting bagi Tuan Muda di rumah ini!!"
Selena menyeringai dan menatap mereka berdua dengan pandangan meremehkan."Dasar orang-orang aneh. Aku pastikan dalam waktu satu Minggu, kalian bertiga terusir keluar dari rumah ini. Karena di kediaman Nero, hanya boleh ada satu nyonya besar, dan orang itu adalah aku!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.