
Seorang wanita terpental dan menabrak tiang raksasa di aula istana para Dewa-Dewi. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, dan wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan. Wanita itu memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Brengsek!! Siapa yang berani menyerangku dari belakang?!" teriak wanita itu dengan lantang. Dia menatap para Dewa-Dewi dengan marah.
"Aku yang melakukannya!!" sahut seseorang yang baru saja muncul di aula tersebut.
Dan kedatangannya mengejutkan semua orang yang di sana termasuk Ratu Lianera dan perempuan itu yang pastinya adalah Victoria. Victoria mencoba berdiri sambil mencengkram dadanya yang terasa sesak.
"Xiao Yan!! Berani-beraninya kau menyerang ku dari belakang!! Kau sudah bosan hidup, ya?!!" teriak Victoria dengan marah.
Wanita itu kemudian berdiri dan menghantamkan bagian bawah tongkatnya ke lantai. Menimbulkan efek cahaya kemerahan di ubin aula.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengalahkanku lagi. Dan hari ini juga aku akan menghabisimu!!" Victoria berlari menghampiri Rey hingga pertarungan diantara mereka berdua pun tak bisa terhindarkan lagi.
Rey datang bukan dalam wujud manusia, melainkan sebagai pangeran dari negeri kegelapan. Pakaian gelap dan rambut putih panjang serta sepasang mata merah yang dingin dan tajam.
Kedatangannya bersama Diao Chan tentu saja menimbulkan sebuah tanda tanya, sehingga para Dewa-Dewi yang melihat hal itu berprasangka jika dia hujan bersekutu dengan kaum iblis!! Padahal dia pergi menemui Rey untuk meminta bantuan padanya, karena Diao Chan tahu, satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Victoria adalah pangeran dari negeri kegelapan.
"Sial!!"
Tubuh Victoria terhuyung kebelakang setelah mendapatkan serangan telak dari Rey. Darah segar kembali menyembur dari muluttnya. Victoria memegangi dadanya yang terasa sesak, ternyata kekuatannya masih jauh di bawah Rey, dan mustahil baginya untuk bisa mengalahkannya.
"Aaahhhh!!"
Wanita itu berteriak histeris. Dia merasakan kesakitan yang luar biasa ketika Rey mengikatnya dengan api merah miliknya. Victoria merasakan sekujur tubuhnya seperti di bakar dan tulang-belulangnya serasa remuk.
Tubuh wanita itu terangkat ke atas. Bulir-bulir keringat bercucuran dari pelipisnya, Victoria tidak tahu kekuatan apa yang sebenarnya Rey' miliki. Sampai-sampai dia bisa membuatnya tak berdaya seperti ini.
Api merah merambat ke atas menuju leher Victoria ketika Rey menggerakkan tangannya. Kedua tangan Victoria yang tak lagi terikat oleh api merah milik Rey terangkat untuk mencengkram lehernya yang seperti tercekik.
Beberapa kali wanita itu sampai terbatuk-batuk, dengan suara terbata-bata Victoria meminta supaya Rey melepaskannya."Le...Lepaskan aku!!" pinta wanita itu menuntut.
Dan Rey mengabulkan permintaan wanita itu.
__ADS_1
"Aaahhh..."
Tubuh Victoria berakhir di lantai dengan sangat dampak keras, sekali lagi dia menyemburkan darahh dari mulutnya. Tangan kanannya menekan dadanya yang terasa sesak. Rey benar-enar menyiksanya habis-habisan.
Rey menghampiri Victoria lalu berlutut di depan perempuan itu. "Kau itu tidak diterima di sini maupun di alam kegelapan. Kau tidak diterima di alam mana pun, bahkan neraka sekali pun tak menerima dirimu!! Dan untuk itu aku akan mengirim dirimu pergi dari dunia ini!!"
Victoria menggelengkan kepala. Tidak bisa! Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!!" teriak wanita itu emosi. Victoria tidak ingin jika harus menghilang lagi. Dia baru bisa dibangkitkan kembali setelah menunggu selama puluhan tahun, untuk itu Victoria tak akan membiarkan rencana Rey berhasil.
"Tidak semudah itu!!" ucap Victoria sambil mengayunkan tangannya pada wajah Rey dan meninggalkan luka di pipi kanannya.
Sebuah luka melintang bekas cakaran kuku Victoria menghiasi wajah Rey yang mulus tanpa noda. Dan racun pada kuku-kukunya membuat luka itu seketika menghitam. Sementara itu, luka bekas cakaran kuku seorang Iblis selamanya akan meninggalkan bekas dan tak bisa menghilang.
"Xiao Yan, aku pasti akan kembali lagi untuk menghancurkamu!!" ucapnya kemudian menghilang di balik kabut hitam.
Victoria memanfaatkan keadaan, dia buru-buru melarikan diri saat Rey dalam keadaan terluka. Luka cakaran pada pipi laki-laki itu berhasil mengalihkan perhatian Rey, apalagi racun yang terdapat pada lukanya. Luka itu memang tidak mematikan , tetapi cukup untuk membuat Victoria bisa melarikan diri.
"Kau terluka, sebaiknya obat tidur lu kamu." ucap Diao Chan saat melihat luka di wajah Rey.
Laki-laki itu menjalankan kepala. "Tidak perlu!! Aku harus kembali sekarang juga," ucap Rey. Dan dalam hitungan detik saja, wujudnya menghilang di balik kabut hitam.
.
.
Sebuah perban membalut luka di tulang pipi Rey. Luka itu tak bisa dia hilangkan begitu saja, jika hanya luka biasa saja, pasti Rey sudah bisa menghilangkannya.
Dan Rey terpaksa menutupnya dengan perban karena warna lukanya yang menghitam kebiruan, butuh waktu setidaknya tiga hari untuk membuat warna hitam itu menghilang.
"Tuan Muda apa yang terjadi pada anda, kenapa Anda bisa terluka seperti ini?" ucap Frans ketika melihat Rey pulang dengan pipi kanan tertutup perban.
"Tidak apa-apa hanya luka kecil saja. Kenapa kau masih belum tidur, ini sudah larut malam."
"Saya tidak bisa tidur, Tuan Muda. Tiba-tiba saya merasa gelisah dan cemas, tetapi saya sendiri tidak tau apa alasannya." Jelas Frans.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Jangan terlalu dipikirkan apalagi dimasukkan ke dalam hati. Tidak akan ada apa-apa, sebaiknya cepat kembali ke kamarmu dan istirahat, aku juga mau istirahat." Ucap Rey dan pergi begitu saja.
Frans mencoba menghilangkan perasaan gelisah nya dan kembali ke kamar untuk istirahat. Dan sebenarnya Frans juga sudah mengantuk berat, dia ingin segera tidur dan istirahat. Tetapi matanya begitu sulit untuk di pejamkan.
.
.
"Nona, apa yang sedang anda lakukan?"
Seorang pelayan tampak terkejut saat mendapati Helena berada di dapur dan berdiri di depan kompor yang menyala. Kemudian perempuan itu menoleh, sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk lengkungan tipis di bibir merah mudanya.
"Aku sedang menyiapkan sarapan untuk, Tuan Mudamu," ucapnya.
Pelayan itu menggelengkan kepala. "Nona, Anda tidak perlu melakukan ini. Tuan Muda, bisa marah besar pada kami jika tau kami membiarkan Nona berada di dapur. Anda adalah calon istri, Tuan Muda, dan seorang Nyonya tidak seharusnya berada di dapur." Ujar pelayan itu.
"Tidak perlu sepanik dan secepat itu Tuan Mudamu tidak akan marah, apalagi menyalahkan kalian. Nanti aku yang akan memberikan penjelasan padanya!!"
"Memangnya penjelasan Apa yang ingin kau berikan padaku?!" sahut seseorang dari belakang.
Sontak Helena menoleh, sementara pelayan itu langsung menundukkan kepalanya karena takut Rey akan memarahinya. "Apa yang terjadi pada, pipimu?!" alih-alih menjawab, helena malah balik bertanya. Dia memegang tulang pipi kanan Rey yang terbalut perban.
Rey menggenggam tangan Helena lalu menurunkan dari wajahnya. "Hanya sedikit tergores, dalam dua tiga hari juga membaik. Lalu apa yang kau lakukan di sini, dan penjelasan Apa yang ingin kau berikan padaku?" tanya Rey penasaran.
"Pelayanmu ketakutan Saat melihatku berada di sini!! Dia takut kau akan memarahinya karena membiarkanku berada di tempat yang tak seharusnya aku berada. Kemudian aku memberikan pengertian padanya, jika kau memarahinya maka aku yang akan bertanggungjawab dan memberikan penjelasan!!" jelas Helena panjang lebar.
"Aku pikir ada masalah apa, sampai-sampai kau ingin memberikan penjelasan padaku!! Lalu apa yang kau lakukan disini?" Rey menatap Helena dengan penasaran.
"Menyiapkan sarapan untukmu!! Aku adalah calon istrimu, dan sudah seharusnya aku yang melayanimu. Mulai dari menyiapkan sarapan, sampai menyiapkan pakaianmu."
"Tapi aku menikahimu bukan untuk menjadi pelayanku, tetapi pendamping hidupku!! Dan tugas menyiapkan sarapan sampai makan malam adalah tugas mereka. Karena aku membayar mereka untuk bekerja, bukan memakan gaji buta!! Jadi sebaiknya kembali ke kamarmu dan aku tidak mau mendengar alasan apapun, apalagi kata tidak!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.