Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Pengorbanan Nenek Nero!!


__ADS_3

"Sial!! Ini tidak bisa dibiarkan. Nuwa, segera lepaskan semua pakaianmu. Kita harus mengeluarkan racun dingin itu dari tubuhmu!!" ucap Rey dengan panik.


Pupil Nuwa membulat sempurna setelah mendengar apa yang Rey katakan. "Apa, racun dingin?!" gadis itu memekik keras, terkejut mendengar apa yang suaminya katakan.


Rey menganggukan kepala. "Ya, kau terkena racun dingin. Dan Racun dingin yang bersarang di tubuhmu, bukanlah racun sembarangan. Racun itu berasal dari air mata es dan darah iblis yang telah berusia puluhan ribu tahun, dan jika tidak segera dikeluarkan, maka akan berbahaya. Kau bisa kehilangan nyawa," jelas Rey panjang lebar.


Nuwa terdiam setelah mendengar penjelasan Rey. Racun dingin? Sebagai seorang Dewi, tentu saja Nuwa tahu tentang racun itu. Racun dingin dibagi menjadi beberapa level, mulai dari level terendah tertinggi.


Dan Hanya mereka yang memiliki kekuatan diatas Dewa yang bisa menciptakan racun dingin paling mematikan di dunia. Nuwa sendiri tidak tahu, racun dingin tingkat berapa yang saat ini bersarang di dalam tubuhnya.


"Aku akan segera mengeluarkan racun dingin itu, untuk itu Lepaskan Semua pakaianmu!!" pinta Rey sekali lagi.


Nuwa mengangguk. Meskipun sempat ragu, akhirnya dia menuruti apa yang Rey perintahkan. Gadis itu menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya kemudian duduk di depan Rey.


Rey adalah Pangeran negeri kegelapan. Jadi dia tahu bagaimana caranya mengeluarkan racun dingin itu dari tubuh Nuwa.


"REY HENTIKAN!!"


Baru saja Rey hendak memulainya. Tiba-tiba Nenek Nero datang dan menghentikannya. Wanita itu masuk ke dalam, dan menghampiri mereka berdua.


"Kau tidak bisa mengeluarkan racun itu sekarang, karena jika kau mengeluarkannya secara paksa, itu hanya akan membahayakan nyawa Viona." Ujar Nenek Nero.


"Maksud Nenek apa?" Rey menatap neneknya dengan bingung.


"Racun dingin yang bersarang di tubuh, Viona. Racun dingin yang terbentuk dari air mata air dan darah iblis yang berusia puluhan ribu tahun. Melainkan racun dingin yang terbentuk dari inti bunga kristal. Dan racun itu bisa membunuh Nuwa detik ini juga, jika kau mengeluarkannya secara paksa!!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?! Karena jika kita tetap membiarkan racun dingin itu di dalam tubuhnya, itu akan lebih membahayakan lagi!!"

__ADS_1


"Nenek, tau."


"Lalu apakah masih ada cara untuk mengeluarkan racun dingin itu?" tanya Rey lagi.


Nenek Nero mengangguk. "Ada. Dan hanya ada satu cara untuk memusnahkan racun dingin itu." jawab Nenek Nero dengan wajah serius.


"Caranya?!"


Wanita tua itu menutup matanya dan sedikit membuka mulutnya. Seketika cahaya berwarna merah muda lembut keluar dari dalam mulut Nenek Nero. Membuat kedua mata Nuwa membelalak sempurna, begitupula dengan Rey.


Dan yang Nenek Nero keluarkan itu adalah mutiara kehidupan miliknya. Setiap Dewa maupun Dewi, pasti memiliki mutiara kehidupan. Mutiara kehidupan sendiri adalah inti dari kehidupan para Dewa-Dewi, dan jika mutiara itu sampai dikeluarkan, maka pemiliknya akan menghilang dan lenyap.


"Nenek Apa yang kau lakukan?!" kaget Nuwa. Gadis itu menggeleng. "Aku tidak bisa menerima mutiara kehidupan milikmu!! Tanpa aku harus mengatakannya, pasti nenek sendiri tahu apa konsekuensinya!! Jadi ambil kembali mutiara itu, aku tidak mau menerimanya!!"


Nuwa menolak dengan tegas ketika Nenek Nero hendak memberikan mutiara kehidupan miliknya pada dirinya. Nuwa tidak bisa menerimanya, dia tidak ingin ada orang lain yang berkorban untuk dirinya. Apalagi itu Nenek Nero.


Lagi-lagi Nuwa melelehkan kepala. "Aku tidak mau Nenek, untuk itu jangan memaksaku!! Apapun alasannya kau harus tetap hidup, karena jika kau sampai pergi, Rey akan sendirian di dunia ini."


Nenek Nero menggenggam tangan Nuwa sambil mengukir senyum tipis di bibir merahnya. "Dia tidak akan pernah sendirian, karena Rey memilikimu." Ucap Nenek Nero dengan senyum yang sama.


Kemudian Nuwa menoleh pada Rey. Kenapa kau hanya diam saja?! Rey, lakukan sesuatu supaya Nenek mengurungkan niatnya untuk memberikan mutiara kehidupannya padaku!!" bentak Nuwa melihat Rey yang hanya diam saja.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?! Justru aku mendukung keinginan Nenek, karena dengan begitu dia tidak akan tersiksa lagi. Dan asal kau tahu saja, Nuwa. Kakek sudah menunggunya sejak lama. Dan dia belum siap pergi karena Nenek tau, jika dia pergi maka aku akan sendirian. Sekarang dia sudah tidak cemas lagi, apalagi mengkhawatirkan diriku akan kesepian. Aku memilikimu sekarang!!"


Nuwa tak bisa menahan air matanya. Buliran-buliran bening bercucuran dari pelupuk matanya. Nuwa menangis, mendengar apa yang Rey katakan. Apa begitu menderita Nenek Nero selama ini karena hidup tanpa cinta sejatinya?!


Nenek Nero menghapus air mata Nuwa sambil tersenyum tipis. "Jangan menangis, Sayang. Jika kau tidak mau menerima mutiara ini dan membiarkan Nenek pergi, maka Nenek akan semakin tersiksa hidup di dunia ini. Selama ini nenek selalu kesepian, karena cinta sejati Nenek sudah pergi dari dunia ini!!"

__ADS_1


Nuwa menutup matanya sejenak. Gadis itu menyeka air matanya dan dengan ragu dia menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan menerima mutiara itu agar Nenek bisa pergi dengan tenang." Ucap Nuwa lalu mengambil mutiara kehidupan itu dari tangan Nenek Nero.


Nuwa menelan Mutiara kehidupan itu dengan sangat berat hati. Nenek Nero tersenyum lebar. Perlahan tapi pasti, tubuhnya mengeluarkan partikel-partikel cahaya yang sangat kecil yang kemudian semakin memudar. Nuwa menggelengkan kepala, Rey tak mampu berucap apa-apa.


"Nenek, kau tidak boleh pergi. Tidak, tidak, tidak!"


"Nuwa, Nenek bahagia bisa mengenal dirimu. Tolong jaga Rey baik-baik. Jangan biarkan, dia melangkah di jalan yang salah. Tuntun Dia menuju cahaya, karena hanya kau yang bisa melakukannya. Nenek menyayangi kalian," setitik kristal bening mengalir dari pelupuk mata Nenek Nero. Dan detik itu juga sosoknya menghilang menjadi partikel-partikel cahaya yang tidak terhitung jumlahnya.


Dengan keras Nuwa menjerit. "NENEK!!" tubuhnya terhuyung ke depan ketika ingin memeluk Nenek Nero. Wanita tua itu benar-benar telah menghilang untuk selamanya.


Rey menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang dingin dan keras. Sebenarnya dia juga tidak menginginkan Nenek pergi, tetapi itu yang lebih terbaik untukmu. Sebenarnya nenek sudah ingin pergi sejak lama, untuk menemani suaminya yang telah lama meninggalkannya. Dan hari ini, dia benar-benar pergi untuk selamanya.


Nuwa menghampiri Rey dan langsung memeluknya. "Rey, Nenek, Rey. Nenek, sudah pergi. Dia sudah meninggalkan kita," ucap gadis itu dengan berlinangan air mata.


Rey meraih tengkuk Nuwa lalu membawa gadis itu ke pelukannya. Laki-laki itu menutup mata kirinya. "Jangan menangis lagi, tidak ada yang perlu disesali. Itu adalah keinginan Nenek sendiri, dan dia sekarang sudah bahagia bersama Kakek. Jika dia melihatmu seperti ini, Nenek pasti akan sangat sedih." Ucap Rey menenangkan.


Nuwa mencengkram kemeja yang membalut tubuh suaminya. Gadis itu terisak pelan. Hatinya benar-benar sedih sekali, Nenek sangat baik padanya. Jadi mana mungkin dia merelakannya pergi begitu saja. Apalagi Nenek Nero pergi demi dirinya.


"Uhhh,,," rintihan tiba-tiba keluar dari bibir gadis itu. Nuwa menjauhkan tubuhnya dari Rey. Sebuah cahaya muncul dari dada gadis itu, tubuh Nuwa terangkat ke udara dan diselimuti oleh cahaya yang sangat menyilaukan. "AAAHHHHH!!!"


Rey meletakkan lengannya di depan wajahnya untuk menghalau cahaya itu masuk ke matanya. Dan Rey tak bisa melakukan apapun sekarang, yang bisa dia lakukan hanya bisa menunggu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2