
"Ba-ba-gai-ma-na mungkin tiba-tiba Nuwa bisa melakukan itu," Ucap Diao Chan terbata-bata, dia benar-benar kebingungan.
"Karena jiwa Dewi Agung Lianera menyatu dengan tubuhnya." Sahut seorang wanita yang entah dari mana asalnya tiba-tiba sudah berada di samping Diao Chan.
"Ibu Ratu!!" kaget Diao Chan terkejut. "Dewi Agung Lianera, maksud Ibu Ratu apa?! Bukankah dia adalah Dewi terpilih yang lahir dari kuntum bunga Kristal? Jadi bagaimana mungkin jiwa Dewi Agung ada padanya?! bukankah Dewi Agung masih hidup dan sekarang ada di dunia manusia?" tanya Diao Chan kebingungan.
"Beliau telah tiada. Demi menyelamatkan Nuwa dari racun dingin, Dewi Agung mengorbankan dirinya dan memberikan mutiara kehidupan miliknya pada Nuwa. Itulah yang membuat jiwa Dewi Agung menyatu dengannya." Ujar Ibu Ratu menjelaskan.
Benar, itulah Status Nenek Nero yang sebenarnya. Dia adalah Seorang Dewi Agung yang berkuasa di Lianera, sebelum akhirnya memutuskan untuk turun ke bumi. Dia meninggalkan kehidupan surgawinya demi bisa mendapatkan hidup yang lebih baik. Di Bumi kemudian dia bertemu dengan lelaki yang akhirnya menjadi suaminya.
"Kini aku mengerti, alasan kenapa Dewi Agung sampai mengorbankan dirinya dan memberikan mutiara kehidupannya pada Nuwa. Tugas yang dulunya harus di selesaikan olehnya, kini justru di selesaikan oleh Nuwa. Dan kebetulan dia telah terpilih sebagai Dewi terpilih Lianera, yang kelak akan menjadi Ratu penguasa di Bulan." Tutur Diao Chan panjang lebar.
"Kau langsung paham dengan penjelasan ku, Diao Chan. Selain itu, kau juga bisa membaca masa lalu ataupun masa depan seseorang?"
Diao Chan mengangguk. "Ibu Ratu, benar. Dan Itu adalah keahlianku, tapi sayangnya bukan takdir itu yang aku lihat dalam hidup, Nuwa." ucap Diao Chan dengan lirih.
Diao Chan memejamkan matanya yang mulai memanas, takdir yang dia lihat bukanlah seperti yang di ramalkan, melainkan takdir terburuk yang tak pernah Ia lihat dalam hidupnya. Dan parahnya lagi, takdir itu menimpa adik angkatnya sendiri. Kisah tragis akan menimpa Nuwa sekali lagi.
"Diao Chan, apa maksudmu? Katakan padaku, memangnya takdir seperti apa yang kau lihat?" tanya Ibu Ratu mulai cemas. Semoga firasatnya tidaklah benar.
Diao Chan menoleh dan menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Kematian, hanya itu yang aku lihat dalam takdir, Nuwa." Balas Diao Chan seraya menundukkan wajahnya.
"Apa maksudmu?!" sahut Rey yang tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Diao Chan.
Tak hanya Rey saja yang mendengarnya, tetapi Nuwa juga. Lalu pandangan Nuwa bergulir pada langit malam, lebih tepatnya pada salah satu bintang redup diatas sana. Dan dia sudah tak arti dari redupnya bintang itu.
Mengabaikan bintang itu. Nuwa mendekati Rey yang diam terpaku, ketakutan mulai menyeruak dan memenuhi perasaannya. Nuwa menggenggam tangan Rey sambil tersenyum tipis.
"Tidak perlu cemaskan apapun, semua akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan pertarungan ini dengan segara. Lindungi aku, aku akan menyelesaikan mantraku!!"
Rey mengangguk. "Baiklah," Nuwa akan mengakhiri peperangan ini sekarang juga. Dan Raja langit biang kerok dari semua masalah memang harus segera di hentikan. Jika tidak, akan semakin banyak masalah yang terjadi nantinya.
"Bintang, Nuwa." Lirih Ibu Ratu melihat bintang milik Nuwa yang semakin kehilangan cahayanya.
Cahaya itu benar-benar meredup, Ibu Ratu menggeleng kuat. Sungguh dia tidak percaya dengan takdir yang akan menimpa putri angkatnya ini. Nuwa memang bukan putri kandungnya, tetapi Ibu Ratu menyayanginya lebih dari hidupnya sendiri semenjak dia memutuskan untuk mengangkat Nuwa menjadi putrinya.
__ADS_1
Dari Bintang itu, Sang Ratu mengalihkan pandangannya dan beralih menatap Nuwa. Terlihat gadis itu yang sedang mencoba menyelesaikan mantranya, namun tiba-tiba saja...
JLEPPPP..
"NUWA!!!"
Sang Ratu berteriak histeris melihat seseorang menusuk gadis itu dari belakang. Membuat Nuwa yang sedang menyelesaikan mantranya langsung membulatkan matanya. Meskipun sebuah peddang menusuknya hingga menembus dadanya, tetapi gadis itu masih berusaha untuk menyelesaikan mantranya.
Dan teriakan Sang Ratu mengejutkan Rey. Sontak Rey menoleh, matanya membulat sempurna. Dengan cepat dia menebas tubuh orang yang menusuk Nuwa. "Nuwa," Rey berlari menghampiri gadis itu sebelum tubuh gadis itu jatuh menghantam tanah.
"Rey," Gumam Nuwa terbata-bata.
"Bertahanlah. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu, tetap buka matamu . Kita akan menemukan cara untuk menyelamatkan dirimu."
Kepanikan terlihat jelas di raut wajah Rey, rasa takut mulai mengalir memenuhi perasaannya. Ia takut jika Nuwa akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Dan Rey tidak ingin hal itu sampai terjadi, Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Nuwa menggenggam erat tangan Rey dan menggeleng kuat. " Tidak ada gunanya. I..Itu akan sangat per-cu-ma saja. Waktuku su-dah tidak banyak la-gi, a-ku harus pergi. Rey, maaf, jika aku harus meninggalkanmu lagi. A-k-u bahagia bisa bertemu denganmu, mencintaimu dan melewati masa-masa terindah denganmu. Rey, aku mencintaimu." Nuwa hendak mencium bibir Rey, namun belum sempat, tangannya sudah jatuh terkulai.
Rey menggeleng kuat, Ia mengguncang tubuh Nuwa berkali-kali sambil memanggil namanya. Dan berusaha untuk membuatnya membuka mata kembali, namun sepertinya percuma saja karna Nuwa telah tiada.
"Putriku apa yang kau lakukan? Cepat buka matamu, Nak. Bangunlah, ibu disini. Bukankah kau pernah mengatakan ingin memakai hanfu hasil karya tangan Ibu? Ibu telah membuat dua hanfu yang cantik untukmu dan Diao Chan. Jadi cepat bangun, Nak." lirih Ibu Ratu dengan suara paraunya.
Rey menolehkan kepalanya dan menatap Raja Dewa serta pasukannya yang masih tersisa tajam dan penuh intimidasi. Tatapannya berbahaya. Kedua tangannya terkepal kuat, matanya merah padam. Emosi dan kebencian merasuk, menyatu kedalam jiwanya. Rey bangkit dari posisinya, Ia meraih pedang yang tergeletak di tanah.
"Kalian tidak pantas untuk di biarkan tetap hidup, dan sekarang. Terimalah kematian kalian." Teriak Rey, pemuda itu berlari menghampiri Raja Dewa serta pasukannya.
Ibu Ratu tak berusaha untuk menghentikannya meskipun dia tahu jika Suami dan pasukan Lianera akan dibantai oleh Rey. Ibu Ratu dendam terhadap suaminya, karena dia ia harus kehilangan putri yang sangat dicintai.
Tanpa ragu sedikit pun, Rey menebbaskan pedang di tangannya pada setiap yang datang untuk menghalangi langkahnya, dia membabi buta. Entah sudah berapa nyawa yang telah binasa di tangannya, dan menjadi korban kemarahannya. Hanya menyisakan satu orang saja, yakini Raja Dewa.
"Aku akan membunuhmu!!"
"kau bukanlah tandinganku, Iblis kecil."
Rey menyipitkan matanya melihat Sang Raja berlari kearahnya, Ia mengangkat pedangnya. Meletakkan di depan wajahnya, dan pertarungan pun kembali berlanjut. Raja Dewa di buat kewalahan oleh Rey. Dia menyerang sang Raja tanpa ampun, memberikan serangan bertubi-tubi sehingga dia terpukul mundur.
__ADS_1
Dia benar-benar telah hilang kendali. Raja Dewa sampai kalang kabut menghadapinya. Rey marah karena Raja Dewa adalah penyebab dari kematian Nuwa, bukan hanya sekali ini saja dia mengambil gadis itu dari pelukannya, tetapi ini sudah kedua kalinya. Dan Rey tak akan mengampuninya.
Ibu Ratu menutup matanya ketika pedang milik Rey menusuk perut suaminya. Membuat Raja Dewa muntah darahh. Ibu Ratu tidak akan menghentikannya, karena suaminya memang layak mendapatkannya. Raja Dewa sudah keterlaluan dan selalu bersikap semena-mena. Dan itulah yang membuat Ibu Ratu rela suaminya di hukum oleh reinkarnasi dari Pangeran kegelapan.
Pedang itu menusukk perut Raja Dewa semakin dalam, membuat aliran darah berwarna kehitaman mengalir mengikuti lekukan pedang milik Rubah tampan itu. Sungguh mengejutkan, karena seorang Raja dari Dunia atas memiliki darah berwarna hitam layaknya Iblis.
"Aaahhh,"
Raja Dewa kembali menggeram saat Rey menarik paksa pedang yang telah menancapp di peruttnya. Dan Rey kembali mengangkat pedangnya lalu membebaskan pada kepalla Sang Raja, kepalla itu pun terlepas dari tempatnya.
Tak ada perlawanan berarti yang Raja Dewa berikan untuk menghadapi kemarahan Rey, karena belum sempat dia memberikan perlawanannya total. Pedang Iblis milik pemuda itu telah menusuk bagian ulu hatinya.
Rey menjatuhkan pedang di tangannya begitu saja, nafasnya naik turun. Pandangan matanya kosong, semua orang yang melihat langsung kematian Raja Dewa merinding sendiri, termasuk Ibu Ratu dan Diao Chan.
"Ibunda, Ayah." Lirih Diao Chan.
"Ayahmu memang pantas mendapatkannya. Dia sudah membuat kita semua kesulitan selama ini. Dan karena dia pula aku harus kehilangan seorang Putri. Diao Chan, jangan pernah menangisi pria seperti itu. Dia memang layak mati!!" ucap Ibu Ratu.
Dengan langkah sedikit di seret, Rey melangkah berjalan menghampiri Ibu Ratu dan Diao Chan. Ibu Ratu masih memeluk Nuwa sekitar 2 meter di depannya.
Rey mengusap pucuk kepala gadis itu dan mendaratkan satu ciuman pada kening Sang Istri.
"Selamat jalan cintaku, aku akan selalu mengingatmu di dalam hatiku. Dulu aku sudah pernah menunggumu, dan kini aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan menunggumu dilahirkan kembali, dan pada saat itu tiba. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi, baik itu takdir ataupun kematian sekali pun. Selamat jalan, Istriku." Ujar Rey yang berusaha untuk menguatkan hatinya.
Perlahan-lahan tubuh Nuwa memudar dan berubah menjadi partikel-partikel cahaya, sebelum akhirnya cahaya itu terbang menuju langit. Semua bangkit dari posisi semula dan mendongakkan kepalanya menatap cahaya itu yang terus bergerak menuju bintangnya.
"Dia akan kembali dilahirkan dalam masa dan jaman yang berbeda, kalian akan kembali di pertemukan di kehidupan baru." Ujar Ibu Ratu.
Mutiara kehidupan milik Nuwa tidak ikut menghilang bersama raganya, tetapi masuk ke dalam tubuh yang terpilih. Dan dialah yang menjadi wadah baru bagi seorang Dewi yang telah tiada. Dan ini bukanlah akhir dari semuanya, tetapi baru awal, karena kisah Rey yang sebenarnya baru saja di mulai.
.
.
Bersambung.
__ADS_1