
BRAKK...
Dobrakan pada pintu mengejutkan wanita itu. Iya segera menoleh pada asal suara, dan mendapati seorang wanita dalam balutan pakaian serba hitam memasuki kamarnya.
Sekujur tubuhnya bergetar, keringat dingin membanjiri tubuhnya, wanita itu ketakutan setelah mati. "Si..Siapa kau?" wanita itu bertanya dengan terbata-bata. Sedangkan yang ditanya malah menunjukkan seringai yang menyeramkan.
"Kau memiliki putri yang sangat cantik. Tapi sayangnya, dia ditakdirkan untuk mati di tanganku!!"
Wanita itu bergulir pada putrinya yang sedang tertidur pulas. Kemudian Ia berlari menghampiri putri kecilnya, lalu memeluknya. "Jangan coba-coba menyentuhnya!! Dia anakku, dan aku tidak mengizinkan kau untuk menyentuhnya sama sekali." ucap wanita itu menimpali.
"Dasar manusia tidak berguna!! Percuma saja kau melawanku, karena jika kau melawan, itu sama saja dengan kau mengantarkan nyawamu dengan sukarela." Sahut wanita itu menimpali.
Wanita itu semakin mendekat, membuat perempuan yang sedang memeluk anaknya itu semakin ketakutan. Dan pelukan ibunya yang sangat erat, membuat anak perempuan itu terbangun. Iya kebingungan dan menatap ibunya penuh tanya.
"Mama, ada apa? Kau membuatku tidak bisa bergerak."
"Viona, apapun yang terjadi, mama pasti akan melindungimu."
"Oh, manisnya. Kalau begitu, sebaiknya aku singkirkan saja kalian berdua. Dengan begitu akan lebih mudah bagiku untuk mengambil inti Keabadian itu!!"
Sebilah pedang muncul di tangan wanita itu. Dia mengangkat tinggi-tinggi pedang itu dan mengarahkannya pada ibu dan anak tersebut.
Namun di waktu bersamaan, sebuah cahaya kebiruan menusuk telapak tangan wanita itu. Membuat pedang di genggamannya lepas seketika. Seorang perempuan cantik tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kau lagi, apa kau datang untuk mengantarkan nyawamu juga?!"
"Selama aku masih bernafas, jangan harap kau bisa menyentuhnya!! Karena aku tidak akan membiarkan, siapapun menyentuh apalagi menyakitinya."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kau yang memaksaku!! Kita lihat dan buktikan saja, siapa yang lebih kuat disini, aku atau kau?!"
Dan situasi yang sedang terjadi membuat wanita itu kebingungan setengah mati. Siapa mereka berdua, kenapa yang satu ingin membunuh putrinya, tetapi yang satu lagi ingin melindunginya. Inti kekuatan, sebenarnya apa yang wanita itu maksud? Atau mungkin hal itu ada hubungannya dengan tanda di tubuh putrinya?!
Perkelahian antara wanita dari dua alam berbeda itu pun tak bisa terhindarkan lagi. Perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nuwa, bertarung melawan wanita berpakaian hitam yang merupakan jiwa dari Ibu Rey yang telah meninggal.
Keduanya bertarung dengan sengit, decitan dua pedang yang saling bersentuhan memecah dalam heningnya malam.
Dimana pun dia berada, Nuwa pasti akan mengetahui jika gadis kecil yang harus dia lindungi itu sedang dalam bahaya. Karena Nuwa telah memasukan sebuah energi ke dalam anting yang dia pakai.
Dan saat dia berada dalam bahaya, energi dalam anting itu akan mengeluarkan sebuah cahaya yang langsung menembus ke langit. Dimana hanya Dewi terpilihlah yang bisa melihatnya Yakni, Nuwa.
Wanita itu benar-benar kewalahan menghadapi serangan Nuwa. Karena kemampuan gadis itu ternyata satu tingkat di atasnya, bahkan dia sampai harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menghadapinya. Dan sejauh ini Nuwa belum begitu memberikan serangan yang berarti, tujuannya adalah untuk menguras tenaga wanita itu.
"Sial!! Dia benar-benar licik, bisa-bisanya gadis itu menggunakan cara seperti ini untuk mengalahkan ku!!" ucap wanita itu terengah-engah. Tenaganya benar-benar dikuras habis oleh Nuwa.
"Kenapa, Bibi? Apa kau sudah tidak sanggup lagi menghadapiku? Bagaimana jika kau menyerah saja?!" ucap Nuwa memberi saran.
Ketika mereka berdua hendak menghunuskan pedangnya kembali. Rey tiba-tiba muncul dan memberikan serangan pada wanita itu, hingga dia terpental. Tubuhnya menabrak pohon dengan sangat keras.
Dengan marah Rey menatapnya. "Kau sudah mengabaikan peringatanku, jadi jangan salahkan aku jika sampai melukaimu!!" ucap Rey dingin.
"Rey, aku adalah ibumu, orang yang melahirkan. Tapi kenapa kau begitu durhaka pada ibumu sendiri, mati-matian perempuan yang jelas-jelas tidak memiliki ikatan darah denganmu!!"
"Itu sama sekali tidak penting bagiku. Aku akan menghabisi siapapun tanpa pandang bulu, jika ada yang berani menyentuh apalagi menyukainya!!"
Wanita itu mengepalkan tangannya dan menatap Rey dengan marah. "Dasar anak durhaka. Tahu jika akhirnya kau tidak berguna untukku, lebih baik aku membunuhmu sejak kau berada di dalam kandunganku. Dan masih belum terlambat, untuk aku menyingkirkanmu sekarang!!"
__ADS_1
Rey bergerak mundur dan meninggalkan bangunan Sederhana itu menuju area perbukitan yang berada di belakang rumah tersebut. Akan menimbulkan kerusakan yang sangat parah, jika mereka masih tetap bertarung di area rumah.
Nuwa membiarkan Rey bertarung sendirian, tanpa berniat membantunya. Karena dia yakin, jika Rey bisa mengatasinya sendiri. Apalagi kekuatannya dibilang sangat besar.
Kemudian Nuwa menghampiri ibu dan anak tersebut, sang Dewi memberikan penjelasan dan menjawab kebingungan ibu dari Viona.
"Jadi maksudmu putriku adalah, orang terpilih yang di dalam tubuhnya masih mengalir darah para Dewa Dewi?" Nuwa mengangguk."Lalu apakah tanda yang dia miliki, adalah bukti jika dia anak istimewa?" lagi-lagi Nuwa menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang wanita itu katakan.
"Ya, dan aku adalah Dewi yang ditunjuk untuk melindungi putrimu. Dan tugasku adalah untuk menjaga serta melindunginya!!" Ucap Nuwa.
Sementara itu, ditempat Rey. Dia masih bertarung sengit dengan ibunya, Rey memberikan perlawanan lebih, meskipun yang dia hadapi adalah ibunya sendiri. Rey marah padanya karena dia berusaha untuk menyakiti dan melukai Nuwa. Dan dia tidak bisa menerimanya.
BRAKK...
Tubuh wanita itu lagi-lagi terhempas setelah mendapatkan serangan telak dari putranya. Darah segar menyembur dari mulutnya, dadanya terasa sesak karena hantaman Rey tadi. Wanita itu benar-benar tak berdaya sekarang.
"Jika keberadaanmu hanya akan menjadi bencana bagi orang lain, sebaiknya kau menghilang saja dari dunia ini. Itu akan lebih baik!!" ucap Rey sambil mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.
Wanita itu menggelengkan kepala. "Tidak!! Kau tidak bisa membunuhku, aku ibumu. Lagi pula aku belum ingin mati, aku masih ingin hidup. Tujuanku untuk menjadi Ratu empat alam masih belum terpenuhi, jadi untuk itu aku harus tetap hidup!!" ucapnya.
Simpan dalam-dalam saja keinginanmu itu. Maaf, Ma. Aku harus menghabisimu!!"
"TIDAK!!" tubuh itu seketika menjadi debu, dia mati untuk kedua kalinya. Dan kematiannya kali ini, di tangan putranya sendiri.
Rey menutup mata kirinya dan menghela napas. Memang tidak seharusnya ibunya itu hidup, karena jika Rey tidak mengambil tindakan itu. Maka akan sangat berbahaya untuk kelangsungan semua mahluk bumi. Dan Rey tidak ingin jika kehancuran itu sampai disebabkan oleh ibunya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung.