Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Salah Kakek!!


__ADS_3

Pertemuan singkatnya dengan Helena, begitu membekas di hati Rey. Setelah menunggu selama puluhan tahun, akhirnya Nuwa-nya kembali. Dan dia terlahir sebagai gadis cantik bernama Helena Valentino.


Saat ini Rey sedang menyelidiki tentang gadis itu. Dia ingin tahu tentang semua hal yang berkaitan dengan gadis itu, terutama tentang kehidupan pribadinya.


Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya, Rey menoleh dan mendapati Frans berjalan menghampirinya. "Tuan Muda, saya membawa semua informasi yang anda inginkan." Ucapnya berikan sebuah map berwarna coklat pada Rey.


"Dari informasi yang saya dapatkan, gadis itu bernama Helena Valentino. Dia adalah calon pewaris tunggal dari semua kekayaan, Kakeknya. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, sementara ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Nona Helena telah bertunangan, dan tunangan bernama Bram." Jelas Frans panjang lebar.


"Apalagi?" Rey mengangkat wajahnya dan menatap datar pria di depannya itu. Apa masih ada informasi lain tentang dia, selain informasi yang kau berikan ini?!" tanya Rey memastikan.


Frans menggeleng. "Tidak ada, Tuan Muda. Hanya itu saja informasi yang bisa saya dapatkan," jawabnya.


"Baiklah kau boleh keluar sekarang!!" Frans membungkuk, kemudian dia beranjak dari hadapan Rey dan pergi begitu saja.


Bukan hanya sekedar kebetulan jika wajah Helena dan Nuwa sama persis, karena mereka adalah satu orang yang sama, hanya saja terlahir di waktu, tempat dan tahun yang berbeda. Tetapi Helena dan Nuwa, tetaplah dalam satu jiwa.


Dan di kelahirannya kali ini, Nuwa bereinkarnasi sebagai manusia biasa tanpa kekuatan apapun dan juga tanpa ingatan masa lalunya. Apakah ingatan gadis itu bisa kembali ataupun tidak, hanya waktu saja yang bisa menjawabnya.


.


.


Kabar tentang kepulangan Helena, telah sampai ke telinga Tuan Valentino. Tentu saja dia sangat terkejut, karena Tuan Valentino tidak tahu menahu tentang kepulangan cucunya itu. Helena tidak mengatakan apapun padanya, apalagi mengatakan jika dia akan pulang.


Tuan Valentino menatap cucu perempuannya itu dengan marah. Sementara yang ditatap justru menunjukkan tatapan tanpa dosa. Bahkan dia masih bisa tersenyum seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa-apa.

__ADS_1


"Dasar gadis nakal, berani-beraninya kau pulang tanpa memberitahu kakek terlebih dulu!! Sebenarnya kau anggap apa kakekmu ini?!"


"Bukannya aku tidak mau memberitahu, Kakek. Karena jika aku memberitahu Kakek terlebih dahulu, pasti Kakek tidak akan mengizinkanku untuk pulang!!" jawab Helena menuturkan.


Sebenarnya Helena sedang menjalani hukuman dari Kakeknya. Bukan karena dia bandel atau suka membuat onar, tetapi Helena dihukum karena memecahkan guci kesayangannya.


"Tapi kau masih dalam masa hukuman Kakek, Helena!!'


"Oh, ayolah Kakek. Kau jangan semakin keterlaluan saja, masa iya kau mau menghukumku terus-terusan?! Lagi pula bukan salahku juga, siapa suruh kakek meletakkan guci itu di ruang keluarga. Jika saja Kakek, menyimpannya di kamar kakek sendiri, pasti endingnya tidak akan menyedihkan seperti itu!!" balas Helena menimpali.


Mana mau dia mengalah pada kakeknya, yang ada justru Kakeknya-lah yang harus mengalah padanya. Karena Helena tidak mau kalah, dan tidak pernah mau mengalah!! Terkadang Tuan Valentino sampai dibuat frustasi oleh tingkah dan kelakuan cucunya.


"Kenapa kau malah menyalahkan, Kakak?! Jelas-jelas itu salahmu!! Jika bukan karena dirimu yang terlewat bar-bar, pasti guci kesayangan milik kakak tidak akan bernasib mengenaskan seperti itu!!" ujar Tuan Valentino.


"Oh, jadi maksud kakak aku yang salah?! Kakek, menyalahkanku begitu!! Hiks, kenapa Kakek jahat sekali kepadaku?! Sudah tau aku tidak sengaja, tapi kenapa Kakek malah melimpahkan semua kesalahan itu padaku?! Huhuhu, Ibu... apa kau mendengar itu, Kakek sangat jahat padaku, dia sudah tidak sayang lagi pada diriku!!"


Dan berhasil!! Tuan Valentino pun menjadi sangat panik saat melihat Helen yang mulai menangis, air mata Helena adalah kelemahannya dan Tuan Valentino paling tidak bisa melihat cucunya itu menangis.


"Cup...Cup...Cup... Jangan menangis lagi, Kakek tidak serius, kok. Cup.. Cup... Cup.. Ya, sudah jangan menangis lagi. Kemarilah, biar Kakek memelukmu." Tuan Valentino membuka kedua tangannya lebar-lebar, dan meminta Helena untuk mendekat padanya. Kemudian dia memeluk cucunya itu dengan. "Helena, Kakek sangat merindukanmu." ucap Tuan Valentino setengah berbisik.


Helena menutup matanya, dan membalas pelukan kakeknya. "Aku juga merindukan, Kakek. Sangat-sangat merindukan, Kakek. Dan ketika kita saling berjauhan, aku paling rindu ketika membuat Kakek kesal, marah dan frustasi. Itulah saat-saat yang paling aku rindukan ketika berjauhan dari, Kakek!!"


Rasa harunya seketika berubah menjadi rasa kesal, setelah mendengar ucapan cucunya. Bisa-bisanya Helena merindukan saat-saat ketika dia menjahili dirinya, Tuan Valentino pikir jika Helena benar-benar merindukan dirinya.


Alhasil sebuah jitakan keras mendarat mulus di kepala Helena. "Aw..!! Kakek, sakit!!" jerit Helena sambil mengusap kepalanya. Kenapa Kakek malah menjitak kepalaku?! Kakek, pikir kepalaku ini tidak penting? Bagaimana jika aku yang jenius ini, tiba-tiba menjadi bodoh karena ulah kakek? Karena kebiasaan buruk, Kakek. Yang suka menjitak kepalaku sembarangan!!"

__ADS_1


"Salahmu sendiri, siapa suruh kau berkata sembarangan. Dasar cucu durhaka, bisa-bisanya kau merindukan saat-saat mengerjai, Kakek. Kakek, pikir kau benar-benar merindukan Kakekmu ini!!"


Alih-alih merasa bersalah dan segera meminta maaf pada kakeknya, Helena malah tertawa. Kemudian dia kembali memeluk Tuan Valentino. Membuat sudut bibirnya tertarik ke atas, sifat manja Helena membuat kekesalan Tuan Valentino teredam detik itu juga.


Meskipun terkadang mereka berdua berdebat hebat, akan tetapi Helena dan tuas Valentino saling menyayangi satu sama lain. Karena mereka tak memiliki siapa pun lagi selain diri masing-masing.


"Segeralah pergi ke kamarmu untuk beristirahat. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh, Kakek masih harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus pakai selesaikan." Ucap Tuan Valentino sambil melepaskan pelukannya.


Helena mengangguk sambil tersenyum lebar."Hm, baiklah, Kakek. Kakek, hati-hati dan jangan pulang terlalu malam." pintanya mengingatkan.


Tuan Valentino mengusap kepala cucunya itu dengan penuh sayang. "Itu pasti, Sayang.Gih, pergi ke kamarmu, Kakek berangkat dulu." Tuan Valentino mengusap wajah Helena dan pergi begitu saja. Jika saja tidak ada rapat penting, pasti Tuan Valentino memilih untuk di rumah.


.


.


Rey tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari foto seorang gadis cantik di tangannya. Di dalam foto itu, gadis cantik itu tak hanya sendirian, tetapi ada dirinya juga. Foto itu adalah foto Rey bersama Nuwa, yang diambil satu Minggu sebelum gadis itu lenyap dari dunia ini.


Pria itu menajamkan matanya, semua kenangannya tentang Nuwa kembali berputar di kepalanya. Meskipun tak banyak kenangannya dengan gadis itu, tetapi setiap momen yang mereka melewati bersama begitu berharga. Sehingga Rey, melupakan satupun kenangannya bersama Nuwa yang telah terukir dengan indah.


"Nuwa, apa kau kembali untukku?! Aku merindukanmu!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2