
"PEMBUNUH!!"
Satu kata terlontar dari bibir Renata. Renata baru saja kehilangan Rocky, nyawanya tidak bisa terselamatkan setelah dia mengalami koma selama dua hari. Luka yang Rocky alami sangatlah parah, terutama luka di bagian kepalanya. Tak bisa diselamatkan.
Alih-alih meminta maaf pada Renata, Rey justru bersikap dingin dan acuh. Dia tidak peduli sama sekali, karena yang menimpa Rocky bukanlah salahnya, melainkan salah pria itu sendiri. Rocky terjatuh ketika mencoba untuk menyerang Rey.
"Rey, kau harus bertanggung jawab!! Kau yang telah menyebabkan Rocky mati. Jika bukan karena dirimu, aku tidak akan kehilangannya!!" teriak Renata dengan emosi.
"Itu kesalahan suamimu!!" Rey berucap dingin.
Renata mencengkeram pakaian Rey dan menatapnya dengan tajam. "Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus mengembalikan suamiku, kembalikan Rocky padaku!!"
Rey menampar wanita itu dengan keras. Saking kerasnya tamparan itu, sampai-sampai membuat wajah renata menoleh ke samping. Renata memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Rey. Kembali Dia mengangkat wajahnya, lalu menatap laki-laki itu dengan pandangan tajam dan menusuk.
"Berhentilah bersikap bodoh, Renata!! Orang yang telah mati, tidak mungkin hidup kembali. Lagi pula suamimu mati bukan karena diriku, tapi karena kebodohannya sendiri!!" ucap Rey dan pergi begitu saja.
Renata mengepalkan tangannya, dan menatap kepergian laki-laki itu dengan marah. Dia harus membuat Rey menemani Rocky, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa. Renata menyambar piisau yang ada di atas meja, saat memiliki kesempatan, tentu tak akan sia-siakan.
"Rey Nero, kau harus mati!!" teriak Renata.
"Renata, jangan!!" seru Nenek Nero yang baru saja kembali dari menghadiri acara amal. Dia datang bersama Nuwa.
Rey menoleh. Dengan cepat dia menghindar, membuat tubuh Renata tersungkur ke depan. Wanita itu menabrak sebuah guci kristal hingga hancur berkeping-keping. Dan wajah Renata-lah yang mendarat lebih dulu, jerit kesakitan seketika menggema di seluruh penjuru rumah.
"MAMA!!" teriak Selena melihat apa yang terjadi pada ibunya. Wajah dan tubuh Renata dipenuhi pecahan-pecahan guci tersebut. Pecahan-pecahan guci itu menancap pada wajah dan beberapa bagian tubuhnya. "Mama," seru selena untuk kedua kalinya.
"Aaahhh...!! Wajahku, sakit!!" jerit Renata.
__ADS_1
Sontak wanita itu menoleh dan menatap Rey dengan marah. Sedangkan yang di tatap hanya memberikan respon dingin. "Kau harus mengganti guci itu, harganya sangat mahal. Kalian sudah membuatku rugi besar!!" ucap Rey dan melanjutkan langkahnya.
Selena berdiri dan menatap kepergian Rey dengan marah. Lalu dia berteriak dan memakai laki-laki itu. "Rey Nero, benar iblis. Aku pasti akan menghabisimu!!" teriak wanita itu. Tak ingin ibunya kenapa-napa, selena pun segera melarikannya ke rumah sakit. Dia telah kehilangan ayahnya, dan Selena tak ingin kehilangan ibunya juga.
.
.
Semilir angin musim dingin mengusap lembut wajah yang sedari tadi memandang langit senja. Sementara gelinang jingga kian memudar, terlihat sang surya akan segera kembali ke peraduannya. Begitupun dengan sekelompok burung camar yang berarak-arakan bergegas kembali ke sarangnya.
Cahaya kemerahan telah terlukis di atas langit kota Seoul sore ini. Tergambar indah karena gradasi warna merah-kuning-ungu, menjadi sajian utama mata ketika memandang langit. Kerlipan bintang juga mulai tampak seolah memang disiapkan untuk jadi penghias langit gelap. Sedikit membawa suhu dingin karena hampir menjelang malam.
Biasanya suasana sore yang cerah ini dimanfaatkan betul untuk sebagian orang sekadar jalan-jalan, atau sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-temannya.
Lelaki itu berdiri dalam diam, memandang langit senja sendirian. Sampai akhirnya dia mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.
Nuwa menerima uluran tangan Rey, lalu berdiri disebelahnya. Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rey maupun Nuwa.
Jari-jari mereka saling menggenggam erat. Kemudian Rey menoleh dan menatap gadis disampingnya.
"Berapa lama lagi waktu yang kau miliki disini?! Kau sudah menemukan tujuanmu berada di sini, itu artinya kau juga akan segera kembali ke Lianera?" tanya Rey memecah keheningan.
Nuwa menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Karena aku sendiri belum tahu, perlindungan seperti apa yang harus aku berikan padanya, dan alasan kenapa aku harus melindunginya. Untuk itu aku harus mencari tahunya terlebih dulu," ujar Nuwa.
Rey terdiam mendengar jawaban gadis itu. Tiba-tiba Dia teringat sesuatu. Kembali ia menatap Nuwa. "Apa kau benar-benar akan menghilang?" ucap Rey sambil mengunci manik ungu itu.
Nuwa menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Hm, mungkin saja. Bahkan semakin lama, tubuhku lebih sering menjadi transparan. Jika sebelumnya hanya tangan kananku saja. Tetapi kali ini tangan kiriku juga sudah mulai transparan juga, terkadang."
__ADS_1
Rasa takut akan kehilangan seketika menyelimuti diri Rey, setelah mendengar apa yang Nuwa katakan. Terlihat jelas dari pancaran matanya, jika dia benar-benar takut kehilangan gadis di sampingnya ini.
Dulu Rey sudah pernah kehilangan dia dengan cara yang teramat sangat menyakitkan, dan dia tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya dengan cara yang sama.
Tanpa sepatah katapun, Rey menarik tengkuk Nuwa lalu mencium bibirnya. Membuat pupil gadis itu langsung membulat sempurna. Sekujur tubuhnya rasanya membeku, karena ciuman itu. Sungguh diluar dugaan Nuwa, karena Rey menciumnya dengan tiba-tiba.
Namun ciuman itu tak berlangsung lama, Rey mengakhirinya kurang dari tiga puluh detik. Kemudian Rey menarik tengkuk Nuwa dan menempelkan kening gadis itu dengan keningnya. Mata kirinya mengunci mata indahnya.
"Aku berjanji padamu. Tak akan kubiarkan kau sampai menghilang, dan kali ini biarkan aku yang melindungimu." Ucap Rey dengan nada lirih.
"Rey," gumam Nuwa pelan.
"Dimasa lalu aku tidak bisa menjaga apalagi melindungimu. Dan dikehidupan kita yang sekarang, aku akan menebus kebodohanku dimasa lalu. Aku tak akan membiarkanmu menghilang lagi, apalagi meninggalkan diriku. Apapun alasannya, aku tak akan membiarkannya." Ujar Rey panjang lebar.
Kemudian Rey membawa Gadis itu ke pelukannya, dan memeluknya dengan erat. Laki-laki itu Menutup Mata kirinya, saat merasakan sepasang tangan membalas pelukannya. Kali ini Rey tidak akan membiarkan hidupnya dikendalikan oleh takdir.
Jika dulu Nuwa yang melindunginya, sampai dia harus kehilangan nyawa. Maka kali ini, Rey-lah yang akan berkorban untuknya.
Rey melepaskan pelukannya, matanya terkunci pada mutiara milik Nuwa. Senyum tipis Terukir di sudut bibirnya, dengan lembut Rey menyentuh sisi wajah gadis itu.
"Ganti pakaianmu, aku akan membawamu jalan-jalan keluar. Jangan lupa memakai pakaian hangat, udara malam ini sangat dingin."
Nuwa mengangguk dengan antusias."Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar." ucapnya dan meninggalkan Rey begitu saja.
.
.
__ADS_1
Bersambung.