
Jam dinding telah menunjuk angka 01.00 dini hari. Namun Rey masih tetap terjaga. Lelaki berdarah iblis itu berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati sebatang rokok yang diapit oleh dua jarinya. Kepulan asap yang keluar dari bibirnya kemudian melayang dan hilang tersapu angin malam.
"Uhhh,"
Lenguhan yang keluar dari bibir Nuwa mengalihkan perhatiannya. Rey membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah kemudian beranjak dari balkon dan kembali ke dalam, terlihat Nuwa yang duduk sambil memegangi kepalanya. Wajahnya masih tampak sedikit pucat.
"Kau sudah bangun?" tegur Rey kemudian berdiri di depan gadis itu.
Nuwa mengangkat kepalanya. "Um," Ia mengangguk. "Apa yang terjadi padaku sebenarnya, kenapa kepalaku rasanya seperti ingin pecah? Pusing sekali," gumam gadis itu sambil mencengkram kepalanya sendiri.
"Kau baik-baik saja. Hanya saja tadi kau tiba-tiba pingsan. Mungkin karena kelelahan atau karena badanmu masih belum terlalu baik. Sebaiknya kembali beristirahat, aku akan menemanimu di sini." Kemudian Rey menempati ruang kosong di samping Nuwa.
Tiba-tiba Gadis itu terdiam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah kenapa Nuwa merasa sangat sedih, tetapi dia tidak tahu apa penyebabnya. Nuwa merasa seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, tetapi dia tidak ingat apa itu.
"Kenapa?" tegur Rey melihat istrinya yang tiba-tiba diam.
Nuwa menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa sangat sedih. Aku merasa seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku, tetapi aku tidak ingat apa itu. Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya saat ini juga." ujarnya panjang lebar.
Semua memori Nuwa tentang Nenek Nero telah dihapus oleh Rey. Sehingga gadis itu tak bisa mengingat apapun lagi tentang wanita tua itu. Rey tidak ingin jika istrinya terus-terusan bersedih karena memikirkan Nenek Nero yang kini telah tiada. Agar dia bisa menjalani hidupnya dengan lebih normal.
"Kalau begitu menangislah, disini!! Di bahu ini, kau boleh menumpahkan semua kesedihan dan rasa sakit yang kau rasakan." Ucap Rey sambil menepuk bahunya.
Nuwa menggeleng dengan cepat. "Tidak mau!! Aku bukanlah gadis cengeng, jadi kenapa harus menangis. Aku tidak mungkin menangis tanpa alasan yang pasti, bisa-bisa kau meledekku nanti!!" ucapnya sambil mempoutkan bibirnya."
Rey tersenyum tipis. Diusapnya kepala Nuwa penuh sayang. "Baiklah, terserah kau saja. Ayo tidur, aku sangat lelah." ucap Rey, Nuwa menganggukkan kepala.
Nuwa memang berniat untuk tidur lagi, kepalanya sangat pusing, dan matanya tidak bisa diajak untuk kompromi lagi.
.
__ADS_1
.
Tubuh itu teriikat di dalam sebuah ruangan yang gelap dan pengap, tak ada cahaya yang menjadi penerang di ruangan tersebut. Rasanya sangat pengap, udara hanya sedikit yang mengisi ruangan itu. Dia tersiksa, sangat-sangat tersiksa.
Dan yang bisa dia lakukan hanya berharap, jika Tuan Mudanya segera menyadari jika dirinya tidak ada. "Tuan Muda, tolong." Lirihnya bergumam.
Pintu yang menjadi satu-satunya akses keluar dari ruangan itu tiba-tiba terbuka, seorang laki-laki yang wajahnya menyerupai dirinya berjalan memasuki ruangan kemudian berhenti di depan pria itu. Peniru itu menyeringai.
"Sepertinya kau sangat putus asa, dan itu membuatku sangat bahagia. Salahmu sendiri sih, jika saja kau mau mendengarkanku dan bergabung denganku, pasti kau tidak akan tersiksa seperti ini. Masih belum terlambat untuk berubah pikiran, aku masih memberimu kesempatan. Jadi pikirkan baik-baik tawaranku,"
Kemudian dia beranjak dari hadapan pria tersebut, dan melenggang menuju pintu. Dia yakin orang itu akan berubah pikiran. "Kenapa kau harus menyerupai diriku?! Sebenarnya kau itu siapa, dan kenapa kau harus menyamar menjadi diriku?!"
Langkah kaki pria itu terhenti begitu mendengar teriakan si pemilik wajah asli. Lantas dia menolak, dan menatap pria itu dengan seringai yang sama. Tanpa mengatakan apapun, kemudian dia melenggang pergi, meninggalkan pria itu sendirian di ruangan tersebut.
"Aarrkkhhh!! Sial, keselamatan Tuan Muda bisa saja berada dalam bahaya. Ya Tuhan, aku mohon lindungi, Tuan Muda. Jangan kau biarkan sesuatu yang buruk menyimpan, aku mohon padamu, Tuhan!!" Lirih pria itu memohon.
Sudah lebih dari dua hari pria itu terkurung di tempat ini. Dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk bisa kabur dari tempat ia di sekap saat ini. Orang yang mengurungnya, tentu bukanlah orang sembarangan. Karena orang itu memiliki kekuatan.
.
.
Rey membuka matanya ketika dia merasakan aura kegelapan yang begitu kental. Rey menggulirkan pandangannya pada Nuwa sedang terlelap di sampingnya. Kemudian ia beranjak dari tidurnya dan melangkah keluar.
Setibanya dia di luar, Rey melihat Frans yang berjalan menghampirinya. Tetapi Rey tahu jika yang menghampirinya itu bukanlah Frans yang sebenarnya.
Frans tidak memiliki Aura kegelapan, apalagi tatapan yang dingin dan mengintimidasi. Persis seperti orang yang berjalan menghampirinya itu, tetapi sayangnya Rey tidak tahu siapa yang ada di balik wajah asisten pribadinya tersebut. Yang jelas dia adalah seseorang yang berasal dari negeri kegelapan.
"Frans, pergi kemana saja kau selama beberapa hari ini? Dan Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan?" kedatangannya langsung disambut oleh beberapa pertanyaan oleh Rey.
__ADS_1
Frans kemudian membungkuk. "Maaf, Tuan Muda, saya pergi untuk mengunjungi keluarga. Dan juga, saya telah menyelesaikan tugas yang anda berikan."
Rey menyeringai sinis. Jelas dia berbohong. Karena pertanyaan yang Rey berikan adalah jebakan. Keluarga Frans ada di kota ini, jadi untuk apa dia pergi mengunjunginya?! Dan satu lagi, Rey tidak memberikan tugas apapun padanya. Jelas sekali Jika yang ada di hadapannya ini adalah Frans yang palsu.
"Sial, kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya?!" ucap orang yang menyamar menjadi Frans itu.
Dia mencoba untuk membaca pikiran Rey, tetapi tidak bisa. Dia tidak bisa menembusnya. Dan hal semacam itu tentu sangat tidak biasa.
Dia mencoba untuk mengendalikan Rey melalui pikirannya. Tapi sayangnya percobaannya gagal. Rey menarik sudut bibirnya, dia menatap laki-laki di depannya itu dengan sebuah seringai meremehkan.
"Kenapa, apa kau terkejut karena tidak bisa membaca pikiranku?" ucapnya dengan seringnya yang sama.
Pupil kedua mata Frans palsu itu membulat setelah mendengar apa yang Rey katakan. Dia bertanya-tanya Kenapa Rey bisa tahu jika dirinya berusaha untuk membaca pikirannya. Siapa sebenarnya laki-laki di depannya ini? Kenapa dia tidak bisa menembus pikirannya, bahkan dia memilik aura gelap yang sangat kuat.
"Ma..Maksud Anda apa, Tuan? Saya tidak mengerti sama sekali. Kenapa saya harus membaca pikiran, Anda? Memangnya kapan saya pernah melakukannya? Seingat saya, saya tidak pernah melakukan sesuatu tidak normal seperti itu." Dia mencoba membela dirinya sendiri. Rey benar-benar membuatnya penasaran.
"Memang tidak pernah. Caramu menatapku, seolah-olah kau ingin membaca pikiranku. Ini sudah larut malam, sebaiknya pergi ke kamarmu dan segera istirahat. Aku terlihat sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Ujar Rey.
Frans palsu itu tersenyum. Dia pikir Rey benar-benar memiliki sebuah kekuatan, tetapi ternyata tidak.
Mungkin karena sudah lama tidak menggunakan kekuatannya, itu yang mempengaruhi kenapa dirinya tidak bisa membaca pikiran Rey dan mengendalikannya.
"Baiklah, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.
Sorot mata Rey semakin gelap dan tajam ketika menatap punggung yang semakin menjauh itu.
Dan sekarang Rey bertugas untuk segera menemukan Frans yang asli. Dia bisa merasakan aura dan energi milik Frans, dan itu masih disekitaran tempat tinggalnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.