Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Aku Mau Pulang!!


__ADS_3

Helena berbalik badan, dan wajah tampan Rey-lah yang pertama tertangkap oleh mata hazel-nya. Kemudian sudut bibir Helena tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. kembali pada pohon Tang.


"Xiao Yan, akhirnya aku menemukanmu!


"Yakk!! Kenapa kalian harus muncul secara tiba-tiba sih? Bikin orang terkejut dan jantungan saja!!" keluh Chen sambil mengusap dadanya.


Sringgg!!!


Kedua mata Chen membelalak saat salah satu dari gerombolan pria itu menarik keluar pedang dari dalam sarungnya dan mengarahkan pada lehernya. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya.


"Wow, santai bung. Jauhkan mata pedangmu dariku, itu sangat berbahaya!" Chen mendorong pedang itu menjauh darinya. "Dan cobalah untuk sopan sedikit, ada gadis disini!" ucapnya menambahkan


"AAAARRKKKHHH, dasar cerewet. Kenapa kau banyak sekali bicara!" bentak laki-laki bertubuh tinggi besar yang terlihat menyeramkan.


Chen mundur beberapa langkah ketika posisinya digantikan oleh Rey. Iblis tampan itu menginterupsinya untuk mundur.


"Katakan, apa yang kalian inginkan??"


"Serahkan pedang yang ada padamu itu baik-baik, karena itu adalah pedang milik nenek moyang kami!!"


Rey mengangkat tinggi-tinggi yang ada di genggamannya dan tersenyum meremehkan."Benarkah? Bagaimana mungkin pedang yang ada padaku selama ribuan tahun tiba-tiba menjadi milik nenek moyangmu?" ucapnya meremehkan.


Laki-laki dalam balutan hanfu biru yang Rey yakini sebagai pemimpin tersebut maju dan memandang kearahnya dengan tatapan menantang. "Itu karna seseorang mencurinya kemudian menyerahkannya padamu. Karena leluhurku sudah tidak ada, berarti akulah yang berhak atas pedang itu!"


"Oh begitukah? Jika pedang ini memang milik leluhurmu, baiklah. Aku kembalikan pedang ini padamu!!" ucap Rey seraya melemparkan pedang tersebut pada orang yang mengaku-ngaku sebagai pemilik pedang miliknya.


Laki-laki itu bersimpuh di tanah. Rupanya dia tidak kuat menahan berat pedang itu ketika Rey melemparkan pedang itu padanya. Dari raut wajah yang ditunjukkan, sangat jelas jika dia sedang kesulitan. Membuat seringai terpatri dan tercetak dibibir Iblis tampan tersebut.


"Bukankah kau bilang jika pedang itu adalah milik nenek moyangmu? Bahkan untuk mengangkatnya saja kau tidak mampu!" ucap Rey meremehkan.

__ADS_1


"Bang*at kau, Xiao Yan! Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi mereka bertiga!"


Rey menangkis pedang yang mengarah pada Helena. Iblis tampan itu mendorong Helena untuk menjauh dari tempat pertempuran. Dia tidak ingin jika dia sampai terluka. "Pergilah untuk bersembunyi!" pinta Rey ditengah kesibukannya dalam menghadapi lawan-lawannya.


Tanpa mengulur banyak waktu, Helena pun bergegas menuju pohon Tang dan bersembunyi di sana. Dari tempat persembunyiannya, dia melihat dengan jelas jalannya perkelahian yang tak dapat terhindarkan. Helena hanya bisa menganga dengan mata terbelalak sempurna melihat kemampuan bertarung Rey dan Chen yang sangat luar biasa.


Itu nyata dan bukan akting seperti yang sering Ia lihat di dalam drama kolosal China. Dan Helena segera menutup matanya ketika melihat serta mendengar dua pedang yang saling bergesekan. Suaranya yang begitu nyaring dan mengerikan membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Di dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya Ia melihat live action seperti itu.


"Uuuggghhh!"


Buru-buru Helena menutup matanya ketika melihat Rey dan Chen menebas setiap musuh yang menghampiri mereka. Melihat banyaknya mayat yang jatuh bergelimpangan dengan kepalla nyaris putus dan luka pada perutnya. Darah menggenang membuat rumput yang awalnya berwajah hijau seketika menjadi lautan merah.


Melihat hal itu membuat perut Helena menjadi sedikit mual. "KYYYYAAAA!! MAYATT!!" dan gadis itu berteriak histeris saat seonggok daging yang sudah tak bernyawa jatuh tepat dibawah kakinya setelah dibantai dengan sadis oleh Rey.


Gila, ini benar-benar gila dan ini adalah pengalaman terburuk didalam hidupnya. Melihat seseorang terbunuh di depan matanya adalah pertama kalinya juga untuk Helena .


Chen mengangguk dan segera menghampiri Helena, dia akan melindunginya seperti perintah Rey. Laki-laki itu berdiri tepat di depan Helena dan menjadi tameng untuknya.


"Dewi, tetaplah di belakangku. Jangan takut, aku pasti akan melindungi mu," seru Chen meyakinkan.


Chen mencoba menghadang setiap anak panah yang mengarah padanya dan Helena. Dia tidak akan membiarkan satu anak panah pun menyentuh apalagi sampai melukai kulit gadis itu. Dan dalam hatinya, Helena tak henti-hentinya berdoa dan memohon agar Tuhan melindungi dirinya. Helena tidak ingin mati konyol dan kehilangan nyawanya dengan sia-sia di zaman yang tak Ia kenali sama sekali ini.


'Ya Tuhan lindungilah aku. Jangan biarkan aku mati disini, aku belum siap. Aku baru saja menikah dan belum puas berhubungan baddan. Lindungi aku Tuhan, aku mohon!'


Disaat Helena menakupkan kedua tangannya, memanjatkan doa pada Tuhan. Tanpa Ia sadari jika ada seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya dan siap menghujamkan pedangnya. Kedua mata Rey terbelalak sempurna melihat nyawa Helena berada didalam bahaya, dan apa yang Ia lihat saat ini persis seperti yang dulu menimpa diri Nuwa.


Rey menggeleng kuat. Dia tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada Helena juga. Rey menendang lawannya hingga terpental. Dengan keahlian meringankan tubuhnya, Rey segera terbang menuju Helena. Dia menyambar tubuh perempuan itu sebelum pedang tersebut menembus kulit tubuhnya.


Helena tak sedikit pun melepaskan tatapannya dari sosok tampan yang saat ini membopong tubuhnya. Kedua tangan perempuan itu memeluk leher Rey, kontak diantara mereka pun tak dapat terhindarkan. Lalu Helena menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


Rey menurunkan Helena dari pelukannya kemudian memberikan sebilah pedang padanya. "Jangan jauh-jauh dariku!" Rey menghalau setiap serangan yang datang, dari 20 orang kini menyisakan beberapa lagi. Lebih dari setengah dari mereka telah berhasil mereka bantai dengan sadis.


Rey mundur kebelakang karna terjangan musuhnya. Orang itu terus mendesaknya hingga tubuhnya terhimpit pada pohon Tang, secepat kilat laki-laki itu menghindar alhasil ujung pedangnya menancap pada pohon Tang. Rey berbalik dan menusuk orang itu dari belakang. Tubuh itu pun roboh seketika, percikan darahnya mengotori rambut, wajah serta pakaian yang Rey kenakan. Iblis tampan itu menyeringai tipis.


Satu sayatan berhasil melukai lengan kiri Rey. Sontak saja laki-laki itu berbalik badan. Seseorang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan, tidak ada rasa sakit yang terpancar dari wajahnya. Rey bersikap biasa saja meskipun darah mengalir mengotori lengan pakaiannya yang berwarna putih


"Hahaha akhirnya aku bisa melukaimu juga, Xiao Yan. Aku pikir Iblis sepertimu tidak memiliki darah berwarna merah, ternyata aku salah. Dan sekarang, terimalah kematianmu!" laki-laki itu memegang gagang pedangnya menggunakan kedua tangannya.


Dengan berteriak, laki-laki itu berlari menghampiri Rey. Dengan kecepatan Rey berpindah kebelakang pria itu. Seringai tipis terpatri dibibir tipis berwarna merah itu. Rey mengangkat pedangnya dan...


Kepalla itu terpisah dari tubuhnya. Darah menyembur dari pangkal leherr yang baru saja ditebas oleh Rey. Tubuh itu roboh seketika. Anak buahnya yang tersisa mundur beberapa langkah sebelum akhirnya lari tunggang-langgang. Sedangkan Helena hanya bisa terpaku melihat peristiwa mengerikan itu, tubuhnya gemetar hebat melihat bagaimana kesadisan mereka berdua.


Hampir saja tubuh gadis itu jatuh menghantam tanah jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya. "Kau tidak apa-apa??" Rey menatap Helena dengan cemas. Dia bertanya memastikan.


Helena mengangguk kaku. "Ya!" jawabnya singkat.


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam mata Rey. "Apakah itu pembantaian?"


Rey menggeleng. "Bukan, tapi sebuah keadilan. Apa yang tidak bisa kita lakukan di jaman modern dengan bebas, justru bisa kita lakukan di jaman ini. Disini siapa pun berhak melakukannya untuk melindungi dirinya. Pembantaian, peperangan, perang besar antar klan dan kubu sudah sering terjadi." Ujar Rey.


Helena tiba-tiba menangis. Perempuan itu menggeleng. "Aku tidak mau disini lagi. Aku mau pulang. Ayo kita pulang saja, tempat ini memang indah tapi sangat mengerikan!" Helena menggenggam tangan Rey dan menatap laki-laki itu memohon.


Melihat air matanya yang terus mengalir tanpa henti membuat dada Rey berdenyut sakit, Rey menyeka air mata di wajah cantik istrinya. Tatapan Rey melembut. "Baiklah, ayo kita pulang."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2