
Suara tangis bayi menyusup diantara suara derasnya hujan, seorang bayi berjenis kelamin perempuan baru saja dilahirkan. Bayi mungil itu sangat cantik dan memiliki kulit seputih kapas, bibir mungil dan pipi yang merona. Hidung kecil yang mancung, sepasang mata indah berwarna Hazel.
Seorang pria setengah baya mengangkat bayi tersebut dan memeluknya dengan erat, cairan bening mengalir dari sudut matanya, pria itu menangis. "Cucuku, bagaimana kau akan menjalani hari-harimu tanpa Ibumu. Nak, kita harus kuat." Ucap pria itu yang merupakan Kakek dari bayi tersebut.
Bayi itu harus kehilangan ibunya sesaat setelah dia dilahirkan, nyawa ibunya tidak tertolong karena mengalami pendarahan hebat.
Dan pria setengah baya itu harus membesarkan cucunya seorang diri, karena hanya dia satu-satunya keluarga yang bayi perempuan itu miliki. Karena ayahnya meninggalkannya sejak bayi itu masih di dalam kandungan ibunya. Dia menikah lagi dengan orang lain.
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian paruh baya itu. Dua pria menghampirinya, keduanya kemudian membungkuk di depan paruh baya tersebut.
"Tuan Besar, kami telah menyiapkan pemakaman untuk, Nona Sandra." ucap salah satu dari kedua pria itu.
"Kerja bagus, malam ini juga aku ingin kalian memakamkan putriku!!" ucap paruh baya itu.
"Baik, Tuan Besar."
Kemudian pria itu membawa bayi dalam gendongannya meninggalkan rumah sakit, dia akan membawa cucunya pulang ke rumah. Tempat dimana seharusnya dia berada.
Dan paruh baya itu akan memberikan cinta serta kasih sayang yang melimpah untuk cucunya. Dia tak akan membiarkan cucunya yang malang ini hidup dengan kekurangan kasih sayang.
.
.
Kedatangan sang Nona Muda disambut dengan sukacita. Mengingat jika bayi perempuan itu adalah cucu pertama dan satu-satunya yang dimiliki oleh Tuan Valentino.
Tuan Valentino menyiapkan kamar yang sangat besar, cantik dan elegan untuk cucu perempuannya tersebut. Dan hampir semua benda yang ada di dalam kamar itu berwarna pink, karena setahunya anak perempuan identik dengan warna manik tersebut.
"Tuan Besar, bayi ini akan Anda beri nama siapa?" tanya seorang pria berkacamata yang berdiri di belakang Tuan Valentino.
__ADS_1
Paruh baya itu menoleh ke belakang, sambil mengukir senyum tipis di bibirnya. "Helena, yang berarti cahaya. Karena dia adalah cahaya dalam hidup, satu-satunya harta paling berharga yang aku miliki sekarang." jawab Tuan Valentino menjelaskan.
Bayi mungil dan cantik itu diberi nama Helena, yang berarti cahaya. Nama yang Tuan Valentino ambil dari bahasa Skandinavia. Pria berkacamata itu tersenyum.
"Nama yang sangat cantik, Tuan Besar."
"Ya, dan dia akan menjadi pelita dalam kegelapan hidupku. Aku telah kehilangan segalanya, termasuk putriku. Namun Tuhan maha adil, karena dia memberikan cucu yang sangat cantik untukku. Helena, aku menyukai nama itu!!"
.
.
-25 tahun kemudian-
Wajah cantik itu tak menunjukkan ekspresi apapun, dingin. Mungkin karena tak ada satu pun penghuni bandara yang dia kenal.
Setibanya di depan bandara. Gadis cantik itu terlihat menyapukan pandangannya seperti mencari keberadaan seseorang, mungkin saja orang yang datang untuk menjemputnya?! Namun sayangnya batang hidungnya tetap tak terlihat, meskipun dia sudah berdiri lebih dari lima menit.
"CK, dasar menyebalkan!! Sebenarnya pergi kemana sih orang ini?! Bukankah aku sudah bilang untuk menjemputku lebih awal, tapi kenapa malah aku yang harus menunggu?!"
Menunggu, adalah salah satu hal yang paling dia benci. Dan sekarang dia malah harus menunggu, gadis itu menghela napas panjang dan membuangnya sedikit kasar. Dan dia pasti akan membuat perhitungan dengan orang itu karena sudah membuatnya menunggu.
Malas harus menunggu. Gadis itu pun memutuskan untuk meninggalkan bandara, dia berjalan ke arah depan untuk mencari taksi. Bahkan dia tidak peduli jika orang yang menjemputnya tiba-tiba muncul, dan Mencari keberadaannya.
Dari arah yang berlawanan, dua pria dengan balutan pakaian serba hitam berjalan menuju bandara. Salah satu dari kedua pria itu menggenggam sebuah ponsel menempel di telinga kanannya. Dan karena terlalu asik dengan dunianya masing-masing, pria itu dan si gadis cantik tanpa sengaja bertabrakan.
Dengan sigap pria itu menahan tubuh si gadis sebelum jatuh menghantam aspal. Sontak gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap pria penolongnya. 'Oh my god, dia manusia atau dewa?' batin gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Helena.
__ADS_1
Pria itu 'Rey' tak sedikit pun meloloskan pandangannya dari sosok jelita yang ada didepannya. Dia seakan tak percaya dengan apa yang disaksikan oleh sepasang mata hitamnya. Bukan hanya Rey saja yang terkejut, tetapi Frans juga.
Jika ada yang bertanya kenapa Frans tidak bisa menua, maka jawabannya adalah Mutiara kehidupan. Rey memberikan seperempat dari mutiara kehidupan miliknya pada asisten pribadinya tersebut.
Rey tidak ingin jika Frans sampai menua kemudian mati, dia tak ingin kehilangan lagi. Itulah yang membuat Rey memberikan seperempat dari mutiara kehidupan miliknya pada Frans. Sehingga dia tak bisa menua, dan wajahnya tetap seperti dua puluh lima tahun yang lalu.
Rey kembali menatap gadis itu. 'Inikah akhir dari penantian panjangku??' batin Rey bergejolak.
"Tuan, bisakah kau melepaskan aku? Kita menjadi pusat perhatian," ucap Helena merasa tak enak.
Alih-alih menuruti gadis itu. Rey malah terus menatapnya membuat mata berbeda warna milik mereka saling bersirobok dan mengunci. Helena merasakan sesuatu yang begitu familiar ketika mereka melakukan kontak mata. Dia merasa seperti pernah mengenal dan bertemu dengannya, padahal ini adalah pertama kalinya Ia bertemu dengan laki-laki itu.
Kemudian Rey melepaskan pegangannya pada punggung Helena. Gadis itu hampir saja hilang keseimbangan karena kakinya yang terasa sakit. Rupanya kaki Helena terkilir ketika bertabrakan dengan Rey beberapa saat lalu.
Dengan sigap Rey menahan lengan Helena, sebelum gadis itu benar-benar kehilangan keseimbangannya. Mata mereka kembali bersirobok dan saling mengunci, mata hitam Rey memandang Helena dengan dingin. Namun dibalik tatapan itu tersirat kepedihan, rasa sakit dan kerinduan yang begitu mendalam.
Jantung Helena tiba-tiba berpadu cepat karna tatapan Rey padanya. Ia merasa seakan darah dalam tubuhnya berhenti mengalir, dan jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Waktu seakan berhenti dan tak mampu berputar lagi. Dan hanya kehadiran Rey yang terasa nyata. Helena benar-benar tak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rey memastikan. Nadanya dingin dan datar.
Helena mengangguk. Meyakinkan pada Rey Jika dia baik-baik saja. "Ya, aku baik-baik saja. Dan lain kali sebaiknya kalau jalan hati-hati, jangan lupa gunakan kakimu, bukan hanya matamu!!" Ucap Helena dan pergi begitu saja. Meninggalkan Rey yang masih terpaku menatap kepergiannya.
Sudut bibir pria itu tertarik keatas. "Nuwa, akhirnya kau kembali untukku juga!!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1