
Pertarungan sengit antara pasukan Lianera, Rey serta Nuwa, masih terus berlanjut. Serangan demi serangan saling mereka layangkan, derasnya air hujan yang tiba-tiba saja mengguyur di penjuru hutan pun tidak mampu menghalau dan menghentikan jalannya pertempuran.
Tak ingin menciptakan kerusakan yang sangat fatal. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke tengah hutan belantara agar lebih bisa bertarung dengan leluasa.
Kilatan petir yang terus menyambar, di iringi suara gemuruh yang terdengar begitu mengerikan pun tak mereka hiraukan. Mereka terus bertarung hingga titik darah penghabisan.
Suasana kian mencekam dan terlihat begitu menegangkan dengan adanya bunyi dua pedang yang saling bersentuhan. Suaranya begitu nyaring dan mampu memekatkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Puluhan pasukan dari dua kubu yang masih tersisa saling melayangkan serangannya, saling menghunuskan pedang dan berusaha menghabisi lawan.
Hamparan hijaunya hutan yang menjadi lokasi pertempuran kini berubah menjadi merah, karna darah dari setiap kubu yang terbunuh di sana. Semua dari pasukan Lianera, hanya Rey satu-satunya ras iblis yang ada di sana.
Satu persatu dari dua kubu yang bertarung kehilangan nyawanya, mereka yang berjatuhan ketanah seolah menjadi saksi bagaimana keras dan mengerikannya sebuah pertempuran. Meskipun demikian, tidak ada kata mengalah apalagi menyerah.
Di antara banyaknya orang yang sedang bertarung, terlihat dua orang pria yang juga terlibat dalam pertarungan itu dan saling menghunuskan pedangnya. Mereka adalah Rey dan Raja langit.
Keahlian yang mereka miliki sangat mengaggumkan, meskipun sekujur tubuh mereka telah penuh dengan luka. Namun pergerakan mereka masih sama-sama terlihat begitu lincah.
Rey menyeringai sinis. "Apa hanya itu kemampuan seorang Raja Langit, yang terhormat dan paling dihormati?!"
"Diam kau, Iblis. Kau jangan meremehkan kekuatanku, aku akan menghabisimu dengan segera!!"
"Kau hanya mengatakan omong kosong dari tadi, jika kau memang mampu menghabisiku, maka lakukan dengan segera!!" pinta Rey menantang.
"Kau yang memintanya, dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu!!"
Pedang mereka kembali bersentuhan dengan sangat ganas, menciptakan percikan api yang keluar dari pertemuan dua pedang tersebut.
Mereka tidak hanya saling menghunuskan pedang, namun juga saling menendang dan memukul.
Salah seorang dari pria itu melompat sedikit lebih tinggi, dengan gerakan cepat. Ia berhasil menjatuhkan lawannya setelah menggunakan tendangannya, tubuh pria itu terhempas ketanah dan menghantam pohon besar membuat Ia muntah darah.
__ADS_1
Goresan luka yang masih terus mengeluarkan darah membuat sebagian surai putihnya berubah menjadi merah. Dar*h terus mengalir dari pelipis kirinya yang turun cepat membasahi sebagian wajahnya.
"Kau sudah kalah!!" Pria itu mendongakkan wajahnya merasakan tajamnya ujung pedang menempel pada lehernya. Bukan Rey, melainkan Nuwa. Dia yang memberikan serangan tersebut.
Seorang wanita yang tidak dapat di jelaskan kecantikannya hanya bisa menatap nanar keadaan di medan pertarungan. Manik biru terangnya terus menelisik ke segala penjuru arah, semua terkulai tak berdaya. Sungguh, dia bukannya sengaja melibatkan diri dalam pertarungan besar seperti ini. Hanya saja dia tak ingin adiknya sampai terluka. Dan wanita itu adalah Diao Chan.
Nuwa memberikan pukulan telak pada Raja Langit hingga dia terhempas, kemudian Nuwa menghampiri Rey yang juga terluka. "Rey, kau terluka." Ucapnya sambil menatap lelaki itu dengan cemas.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku memintamu untuk tidak ikut campur, aku yang akan menghabisinya untukmu!!" Ucap Rey dengan dingin. "Bagaimana jika kau sampai terluka?!" lanjutnya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu bertarung sendirian melawannya, aku ingin bertarung bersamamu." Balas Nuwa.
"Nuwa, awas." teriakan Diao Chan mengejutkan mereka berdua. Rey pun segera menarik lengan Nuwa saat melihat Raja langit kembali melayangkan serangannya.
Rey bergerak lebih cepat dari Raja Langit, sehingga ujung padang miliknya tidak sampai melukai Nuwa. Rey mengangkat kembali pedang miliknya, dan meletakkan tepat di depan wajah tampannya. Mata merahnya kemudian menyipit, menandakan jika Ia siap untuk menyerang. Kedua tangannya menggenggam erat gagang pedang hingga akhirnya..
"Berhati-hatilah, Rey." Seru Nuwa mengingatkan.
"Jangan cemas, aku bisa mengatasi ini." Balas Rey meyakinkan.
Rasa cemas tiba-tiba menghinggapi perasaan Nuwa. Entah kenapa dia merasakan perasaan yang kurang nyaman. Dia seperti memiliki sebuah firasat yang sangat buruk.
"Aaahhh," Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba tubuh Nuwa jatuh lemas, setelah ada cahaya yang menyatu dengan tubuhnya. Namun anehnya dalam hitungan detik kondisinya kembali seperti sedia kala, bahkan Ia terlihat baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Diao Chan dengan cemas.
Nuwa menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Aku baik-baik saja, Kak. Kau tidak perlu cemas." Ucapnya meyakinkan.
Nuwa meletakkan kedua tangannya di depan dadanya, perlahan Ia memejamkan matanya, semua orang memperhatikannya termasuk Rey. Tak ada ucapan dari mereka satu pun, mereka hanya terus menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
Dan sampai sosoknya berubah dalam wujud yang tidak pernah Diao Chan bayangkan sebelumnya. Nuwa kini dalam wujud Dewi Agung dengan sebuah trisula emas di tangannya. Dan perubahan itu mengejutkan semua orang, termasuk Rey.
Nuwa menghentakkan trisula itu ketanah, langit yang awalnya gelap berubah menjadi terang. Hujan tidak lagi mengguyur, entah bagaimana gadis itu bisa melakukannya.
"Hentikan peperangan ini. Kau Raja Dewa tidak pantas melakukan tindakan tercela seperti ini. Sebaiknya kau segara mundur dan tinggalkan pertempuran ini, jika kalian memang masih ingin hidup." Seru Nuwa lantang.
Rey memperhatikan sang istri dengan seksama. Surai hitamnya berubah keemasan, iris ungu cerahnya berubah menjadi hijau terang. Kecantikannya sungguh tidak bisa di gambarkan.
"Nuwa," Gumam Rey hampir tak terdengar.
Raja Langit menarik sudut bibirnya menciptakan smrik angkuh andalannya. Pria itu maju dan berjalan menghampiri Nuwa yang sudah berubah wujud menjadi Dewi Agung. "Bagaimana kalau aku mengatakan dengan tegas, aku menolak." Ucap Sang Raja begitu angkuh.
"Jika begitu, maka kau harus menerima kemarahanku."
Nuwa memutar trisulanya dan menciptakan angin kencang yang mampu menumbangkan pepohonan, daun-daun kering terangkat ke udara. Membuat beberapa dari pasukan Raja Langit, maupun pasukan yang dibawah oleh Diao Chan terhempas mengikuti arah angin.
Semakin kencang putaran trisula di tangan Niwa, semakin kencang pula angin yang berhembus. Beberapa pasukan yang tersisa merasa terancam dengan angin ciptaan Nuwa pun segera berlindung dan memeluk pohon dengan sangat erat sambil memejamkan kedua matanya.
"Sebenarnya angin apa ini, aku tidak pernah melihat ada angin seperti ini. Bahkan badai pun tidak sebesar ini."
"Aku sendiri tidak tau."
Sementara Diao Chan hanya mampu terdiam tanpa bisa berkata apa-apa, apa yang Ia lihat saat ini benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah perubahan Nuwa menjadi Sang Dewi Agung.
.
.
Bersambung.
__ADS_1