
"Akhirnya, aku pulang juga."
Lega terlihat di wajah Helena setelah dia kembali ke zaman modern. Zaman di mana ia seharusnya berada, berada dimasa lalu rasanya begitu menguji mental dan batinnya. Di zaman itu memang banyak sekali hal-hal menarik yang bisa untuk dinikmati. Tapi juga harus menguji mental dan kesabaran.
"Kau baik-baik saja?" Rey menatap Helena dengan cemas. Perempuan itu menggeleng, meyakinkan pada suaminya jika dia tidak baik-baik saja. Rey menatap Helena penuh sesal. "Maafkan aku, Sayang. Karena diriku kau menjadi trauma,"
Helena menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rey. Ini bukan salahmu, lagipula kita sama-sama tidak tau jika akan terjadi hal semacam itu." Ucap Helena.
Dia tidak bisa menyalahkan suaminya atas apa yang terjadi tadi. Karena para penjahat itu muncul secara tiba-tiba dan tanpa diduga-duga. Rey juga tidak tau jika akan ada penjahat yang menghadang mereka.
"Ya sudah, pergilah istirahat. Kau pasti lelah," ucap Rey dan di balas anggukan oleh Helena.
Rey mengecup kening Helena dan meninggalkannya begitu saja. Ada satu hal yang harus dia urus, yakni Chen. Ini pertama kalinya dia berada di jaman modern dan Rey tidak ingin jika dia sampai membuat keributan.
Dan yang Rey takutkan benar-benar terjadi. saat ini Cen sedang merecoki orang-orang yang sedang sibuk bekerja. Dia melemparkan banyak pertanyaan pada mereka, bertanya ini dan itu. Rey mendesah berat, kemudian Rey mengayunkan kedua kakinya dan menghampiri Chen.
"Chen, hentikan!! Kau sudah mengganggu pekerjaan mereka," seru Rey dan mengalihkan perhatian Chen dari para pelayan-pelayan tersebut. "Jangan hiraukan dia, kalian kembali saja bekerja."
__ADS_1
Kemudian Chen menghampiri Tuan Mudanya tersebut. "Tuan Muda, Kenapa kau malah melarangku bertanya pada mereka? Disini aku masih sangat asing dan belum mengerti ini dan itu. Jadi wajar dong jika aku bertanya, karena orang yang malu bertanya itu sesat di jalan." ujar Chen membela diri.
Berbeda dengan Frans yang begitu menghormati Rey sebagai atasannya. Hal berbeda justru ditunjukkan oleh Chen. Chen bersikap sedikit lebih bebas, seperti bukan batasan dan bawahan.
"Daripada semua orang lebih baik kembali saja ke zamanmu berasal!!"
Chen menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! Aku lebih suka disini, tempat ini sangat nyaman dan membuatku betah. Tuan Muda, jadi jangan mengusirku pergi dari sini!!" ucapnya menegaskan.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu tetap tinggal tapi dengan satu syarat. Jangan membuat masalah lagi atau kau akan menanggung akibatnya!!" ucap Rey dan pergi begitu saja.
Rey pergi ke ruang kerjanya. Ada beberapa email dan dokumen yang harus dia periksa dan di tandatangani.
.
.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di kepala Helena. Membuat kepalanya terasa pusing seperti dihantam oleh bongkahan batu besar.
__ADS_1
"Gambaran apa itu tadi? Siapa perempuan yang mirip denganku itu? Mungkinkah perempuan itu yang bernama, Nuwa?" gumam Helena.
Dalam gambaran itu. Helena melihat perempuan yang wajahnya bak pinang di belah dua dengan dirinya dikelilingi banyak orang-orang yang sebagian asing dan sebagian lagi familiar. Dan Helena tak mengenal semuanya.
Dan disaat sedang berkutat dengan pikirannya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan terlihat sosok Rey memasuki kamar dan laki-laki itu berjalan menghampirinya.
"Kenapa tidak tidur, bukankah aku memintamu untuk istirahat?" ucap Rey setibanya dia di depan Helena.
Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa tidur. Rey, aku melihat sekelebat bayangan setelah menemukan bulu ini. Apa mungkin Nuwa adalah..."
"Tidak perlu dibahas lagi."Rey menyela cepat. Karena jika dia membahasnya, pasti Helena akan berusaha untuk mengingat masa lalu yang telah dia lupakan, dan Rey tidak ingin Helena tersisa karena hal itu. "Sebaiknya kita tidur, ini sudah larut malam."
Helena menghela napas. Dengan enggan dia menganggukkan kepalanya. "Baiklah,"
.
.
__ADS_1
Bersambung.