Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Jangan Lakukan!!!


__ADS_3

"MAMA!!"


Selena berteriak historis ketika tiba di ruang rawat ibunya, dan mendapati wanita itu sudah tak bernyawa.


Renata mengakhirii hidupnya sendiri dengan cara ganttung dirii.


Renata tidak bisa menerima keadaannya saat ini. Wajahnya rusak parah, dan tidak bisa diperbaiki lagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya. Dan itulah yang menjadi alasan kenapa Renata sampai nekat, selain itu juga karena kepergian Rocky.


Selena pun bergegas keluar dari ruangan ibunya, untuk mencari bantuan. Beberapa perawat menghampirinya, dan Alangkah terkejutnya mereka setelah melihat tubuh Renata yang tergantung di kusen jendela.


Beberapa perawat pria, berusaha menurunkan Renata. Setelah memeriksa detak jantungnya, ternyata wanita itu sudah meninggal. "Maaf, Nona Selena. Ibu anda sudah tidak ada." ucap satu-satunya dokter yang ada di ruangan itu.


Selena mundur beberapa langkah ke belakang sambil menggelengkan kepala, air matanya tumpah membasahi wajah cantiknya.


"Tidak!! Itu tidak mungkin, Mama tidak mungkin melakukan kebodohan dan meninggalkanku. Mama tidak mungkin mati, dia tidak mungkin meninggalkanku. Mama, MAMA!!" jerit Selena sebelum ia jatuh pingsan.


Selena terlalu syok saat mengetahui jika nyawa ibunya tak bisa tertolong. Yang artinya, kini ia hanya sendirian.


Entah bagaimana nasib Selena selanjutnya, dia akan menerimanya atau justru memutuskan untuk menyusul mereka berdua.


.


.


Rey dan Nuwa tiba dikediaman Nero tepat pukul 23.00 malam. Wajah dingin Rey semakin dingin dan tidak berekspresi apapun, datar. Membuat Nuwa yang berjalan disampingnya merasa kurang nyaman.


Kemudian Nuwa melepaskan genggaman tangan Rey, membuat perhatian laki-laki itu teralihkan padanya. "Kenapa?" Rey bertanya dengan suara berat dan nada datar.


"Aku rasa kau butuh waktu untuk sendiri. Jadi aku akan meninggalkanmu sendirian," ucapnya.


Rey menarik Nuwa ke dalam pelukannya ketika perempuan itu hendak beranjak dari hadapannya. Dengan lirik Rey berbisik ditelinga kanannya.


"Justru aku membutuhkan dirimu, jadi tetaplah bersamaku." Ucap Rey memohon. Nuwa tak mengatakan apa-apa. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya.


"Baiklah," balas Nuwa lirih.


Dari lantai dua, Nenek Nero memperhatikan mereka. Tanpa mereka berdua menjelaskan apa yang telah terjadi, tentu saja Nenek sudah tahu.


Bukan karena dia mengetahui segalanya, tetapi dia mendapatkan laporan dari seekor burung kecil yang ia tugaskan untuk mengawasi cucunya tersebut.


Bukan karena Nenek Nero memiliki maksud tidak baik pada Rey, dia hanya ingin memastikan jika cucunya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Awalnya Nenek Nero sangat terkejut dan hampir tidak bisa menerima Rey sebagai cucunya, sesaat setelah dia dilahirkan, saat mengetahui jika cucunya itu adalah reinkarnasi dari pangeran kegelapan.


Namun di sisi lain dia menyadari satu hal, jika ia telah dipilih oleh takdir untuk menjaga dan melindungi laki-laki itu.


Dan berkat didikan Nenek Nero, Rey tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Meskipun dia adalah pribadi yang dingin dan tertutup.


"Nenek, sedang apa kau di sana? Apa kau sedang menunggu kepulangan kami?" dan seruan itu menyadarkan Nenek Nero dari Lamunan panjangnya.


Wanita tua itu tersenyum seraya menganggukan kepala. "Ya, Nenek menunggu kalian berdua. Nenek sangat cemas dan khawatir, di luar salju sedang turun dengan lebatnya tetapi kalian belum pulang juga. Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Nenek Nero memastikan. Dia pura-pura tidak tau apa-apa.


"Tadi~"


"Tidak ada!!" Rey menyela ucapan Nuwa, sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. "Sebaiknya Nenek kembali ke kamar saja, ini sudah larut malam. Kami juga sudah lelah dan ingin istirahat." ucap Rey melanjutkan.


Nenek Nero mengangguk. "Baiklah. Selamat malam," kemudian Nenek Nero berbalik dan pergi ke kamarnya. Begitu juga dengan Rey dan Nuwa. Mereka berdua pun memutuskan untuk segera beristirahat.


.


.


Disini mereka sekarang, Nuwa pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Meskipun ia dan Rey sudah menjadi suami istri yang sah, tetapi Nuwa merasa tidak nyaman kita harus tellanjang di depan suaminya.


Nuwa memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Gadis itu menggaruk kepalanya sendiri, dia sama sekali tidak mengerti dengan pekerjaan Rey yang selalu berhubungan dengan dokumen dan laptop.


"Sebenarnya Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nuwa penasaran.


Rey menggeleng. "Tidak ada, hanya memeriksa beberapa email yang masuk saja. Kemarilah," jawabnya.


Rey mengulurkan tangannya lalu menuntun Nuwa untuk duduk di pangkuannya. Itu gugup sendiri menyadari jaraknya dan Rey yang begitu dekat. Laki-laki itu tersenyum tipis, membuat Rona merah muncul di kedua pipi Nuwa. Karena sangat jarang dia melihat Rey tersenyum seperti itu.


Jari-jari Rey memainkan rambut panjang Nuwa, mata kirinya mengunci sepasang mutiara indah miliknya. Nuwa gugup sendiri ditatap sedalam itu oleh Rey dari jarak yang sangat dekat. Lalu pandangan Nuwa bergulir pada mata kanan Rey yang sejak beberapa bulan terakhir menutup mata kanannya. Nuwa penasaran sesuatu dibalik benda hitam itu.


"Boleh aku melepas ini?" tanya Gadis itu memastikan.


Rey mengangguk. "Lepaskan saja," ucapnya.


Dengan ragu, Nuwa melepaskan benda itu dari mata kanan Rey dan mendapati warna matanya yang berbeda dengan sebelah kiri. Mata kanan Rey berwarna merah darah, seperti warna mata kaum Iblis. Dan entah kenapa warna itu tidak bisa berubah dan kembali ke warna hitam.


"Apa ini permanen?" tanya Nuwa memastikan.


Rey menggeleng seraya menghela napas panjang. "Aku sendiri tidak tahu, terus terang saja aku merasa kurang nyaman jika harus seperti ini secara terus-menerus. Tapi aku tidak memiliki pilihan. Orang-orang akan menganggapku monster, jika memiliki dua warna mata yang berbeda." Jelasnya.

__ADS_1


"Bukankah kau bisa memakai lensa warna hitam, untuk mata kananmu?"


"Jika bisa aku sudah melakukannya sejak lama, sayangnya tidak bisa. Lensa mata tak berpengaruh sama sekali pada mata kananku, mata ini tidak bisa disembunyikan dengan warna yang lain." Jawab Rey.


Nuwa memperhatikan Rey dengan seksama. Dia membayangkan jika kedua mata Rey berwarna merah, dan rambutnya warna keperakan. Pasti akan sangat keren, atau setidaknya rambutnya saja yang warna keperakan. Membayangkannya saja sudah membuat Nuwa senyum-senyum sendiri.


Buru-buru dia menggelengkan kepala. Dengan pelan dia menoyor kepalanya sendiri, dalam hatinya dia bergumam. "Dasar bodoh!! Sebenarnya apa yang kau pikirkan, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau tidak boleh sampai jatuh cinta padanya, atau kau akan menghilang!!" jerit Nuwa membatin.


"Kenapa?" tanya Rey.


Nuwa menggeleng. Kemudian dia turun dari pangkuan Rey. "Tidak apa-apa. Ya sudah, aku tidur dulu ya. Aku mengantuk, hoam.." Dia meninggalkan Rey begitu saja dan segera melompat ke tempat tidur.


Rey menoleh dan menatap punggung gadis itu, dia mengerti apa yang dipikirkan oleh Nuwa serta suara hatinya.


Dia begitu takut menghilang dari dunia ini. Tetapi bukan hanya Nuwa yang takut, tetapi Rey juga. Dia benar-benar takut kehilangan Nuwa lagi.


Kemudian Rey menutup laptopnya, lalu berjalan menghampiri Nuwa. Rey berbaring disamping gadis itu. Dia mendekati gadis itu lalu memeluknya dari belakang, membuat tubuh Nuwa menegang. Sensasi tak biasa Nuwa rasakan ketika Rey mengecupi leher serta bahu terbukanya.


"Rey, apa yang kau lakukan. Hentikan!!" mohon Nuwa diiringi des*han pelan.


Bukannya berhenti. Rey malah semakin gencar dengan aksinya. Dia terus mengecupi leher, bahu dan punggung terbuka Nuwa. Bahkan beberapa tanda merah kepemilikan Rey tinggalkan di leher dan bahunya.


Bahkan Rey tak mendengarkan permohonan Nuwa dan teriakan tertahannya. Rey mulai lepas kendali.


"Aahhh... Rey, aku mohon!! Uhh, berhenti. A..Aku mohon berhenti." Mohon gadis itu.


"REY!!" teriak Nuwa dengan suara meninggi. Dan seketika itu pula, Rey menghentikan aksi gilanya.


Terlihat laki-laki itu beranjak dari sisi Nuwa. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Rey merutuki kebodohannya, tidak seharusnya dia melakukan itu. Dan hampir saja dia lepas kendali.


"Tidurlah, aku mau cari angin dulu."


Nuwa menatap kepergian laki-laki itu dengan tatapan tak terbaca. Gadis itu menghela napas. Nuwa kemudian membetulkan gaun tidurnya yang sedikit berantakan. Gadis itu menarik selimutnya sampai sebatas dada, dan sebisa mungkin Nuwa mencoba untuk tidur. Meskipun agak sulit.


Gadis itu mencengkram selimut yang membungkus tubuhnya. Setetes kristal bening mengalir dari pelupuk matanya. Hatinya terasa sangat sakit ketika dia menolak Rey tadi.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2