
Selena berjalan tanpa arah, dia tidak tahu harus pergi ke mana sekarang. Jangankan tempat tinggal, tujuan pun ia tidak punya. Tidak mungkin ia pergi dan meminta bantuan pada teman-temannya, bisa-bisa mereka malah menjauhinya jika sampai tahu setelah terusir dari kediaman Nero.
Perempuan itu menghentikan langkahnya, lalu duduk di trotoar jalan. Berbagai umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dan semua itu ia tunjukkan pada orang-orang yang telah membuatnya seperti ini, kini Selena hidup terlunta-lunta.
Selena sungguh tak habis pikir dengan kedua orang tuanya, bagaimana bisa mereka mengorbankan dirinya demi kepentingan pribadinya. Mereka tidak ingin terusir juga jika sampai ikut campur. Benar-benar orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Perempuan itu mengangkat kepalanya, mendongak menatap langit malam. Langit terlihat gelap, tanpa Bulan tanpa Bintang. Benar-benar gelap dan tampak mencekam. Ditambah awan hitam yang menggulung di atas sana, menandakan jika hujan akan segera turun.
"Sial, sial, sial!! Ini semua karena perempuan itu, jika bukan karena dia, aku tidak akan mengalami nasib seburuk ini. Seharusnya yang terusir keluar dari sana bukan aku, tetapi dia!!"
Tiba-tiba seorang wanita menghentikan langkahnya di depan Selena. Seorang wanita dalam balutan pakaian serba hitam, dan sepasang mata berwarna merah. Selena menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, tubuhnya seketika menegang ketika melihat warna matanya yang semerah darah.
Dengan gugup dia bertanya. "Si..Siapa kau?" tanya Selena terbata-bata.
Perempuan itu menarik sudut bibirnya dan menyeringai lebar. Lagi-lagi Selena dibuat ketakutan oleh Seringai menyeramkan wanita tersebut. "Tidak penting siapa aku. Yang jelas hanya aku yang bisa membantumu!!" ucapnya datar.
Selena pun memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, dan membalas tatapan wanita itu. Kemudian dia berdiri.
"Ka..Kau bisa membantuku? Sungguh?" ucapnya memastikan.
"Ya,"
Mendengar jawaban wanita itu membuat Selena seolah mendapatkan oasis di tengah padang pasir yang tandus.
Sudut bibir Selena tertarik ke atas, membentuk seringai tipis.
"Jika kau benar-benar bisa membantuku, ke kediaman Nero dan memberikan pelajaran pada orang-orang yang sudah berani membuatku seperti ini!!"
"Itu adalah perkara yang sangat mudah. Tapi sebelum aku mengabulkan keinginanmu, kau harus membuat perjanjian denganku terlebih dulu. Aku membutuhkan setetes darahmu!!" ucap wanita itu.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, selena pun memberikan setetes darahnya pada wanita itu. Dengan cara melukai jarinya sendiri. "Apa hanya ini syarat yang kau butuhkan?" ucap Selena.
"Ya," wanita itu menganggukkan kepala. Membenarkan apa yang Selena ucapkan.
Mereka baru saja membuat perjanjian darah. Yang artinya, selena telah bersekutu dengan iblis. Tetapi dia tidak peduli, bahkan dengan risiko besar yang akan dia tanggung nantinya. Yang terpenting adalah, semua keinginannya bisa tercapai.
.
.
Waktu telah menunjuk pukul 23.00 malam. Tetapi Sang Dewi masih terjaga, dan enggan untuk pergi tidur. Saat ini sedang berdiri di balkon kamarnya, memandang langit malam yang gelap tak Berbintang.
Helaan napas panjang berkali-kali keluar dari bibirnya. Bagaimana lagi caranya Nuwa agar bisa segera menemukan pemilik tanda itu, waktunya semakin hari semakin menipis, dan Nuwa tak ingin sampai kehabisan waktu.
"Apa yang kau lakukan di sana?" perhatiannya teralihkan oleh teguran seseorang. Nuwa menoleh dan mendapati Rey berjalan menghampirinya.
"Lihat ini!!"
Rey mengangkat tangannya ke udara lalu menggerakkannya. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba langit mendung hitam menghilang dan bintang-bintang mulai bermunculan. Membuat Nuwa terkejut dibuatnya.
Sontak ia menoleh dan menatap lelaki di sampingnya.
Rey membalas tatapan gadis itu. Manik kirinya terkunci pada sepasang manik indah milik Nuwa. "Jangan menatapku seperti itu. Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa melakukannya. Karena aku terlalu mendapatkan kembali ingatan masa laluku yang dihapuskan secara sengaja. Ya, aku telah mengingat masa lalu." Ujar Rey panjang lebar.
Nuwa terdiam mendengar apa yang lelaki itu katakan. Itu artinya, Rey juga mengingat hubungan mereka di masa lalu. Meskipun Nuwa belum bisa mengingatnya, tetapi gambaran yang ia lihat begitu jelas.
"Tatap aku," Rey mengangkat dagu Nuwa dan memaksa Gadis itu untuk menatap padanya. Mereka berdua melakukan kontak mata, dua pasang bola mata berbeda warna itu saling menatap dan bersirobok. "Kau tetaplah secantik dulu," ucap Rey setengah berbisik.
Kemudian Nuwa menepis tangan Rey dari wajahnya, gadis itu beranjak dari hadapannya. "Tiba-tiba aku lelah, aku tidur dulu." Ucapnya dan berlalu.
__ADS_1
Bukan maksud Nuwa ingin menghindari Rey, tapi dia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Nuwa masih belum siap jika harus menghilang, dia masih ingin hidup lebih lama lagi. Nuwa tidak ingin mati lebih cepat.
Rey menghela napas. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap langit malam. Rey menutup matanya, seketika kenangannya bersama Nuwa dimasa lalu melintas di kepalanya.
Ketika Gadis itu tersenyum ketika Gadis itu menangis tiga gadis itu tertawa, ataupun ketika dia sedang marah. Rey sangat mencintainya, tetapi takdir tak mengijinkan mereka untuk bersama. Karena mereka berdua berasal dari dunia yang berbeda, cahaya dan kegelapan. Dua dunia yang saling berseberangan.
Cinta yang berjalan seperti musim dingin dan panas. Yang sampai akhir bumi, tidak mungkin dapat dipersatukan. Begitulah hubungan mereka yang sebenarnya.
Dan Rey sendiri tidak yakin. Apakah mereka berdua masih bisa bersatu seperti dahulu atau tidak, dan Rey tak akan memaksakan egonya lalu membuat Nuwa menghilang untuk kedua kalinya. Rey tak ingin kehilangan lagi seperti dulu.
Rey meninggalkan balkon dan kembali ke kamarnya. Mata kirinya membulat sempurna saat melihat Nuwa memuntahkan darah dari mulutnya. "Viona!!" dengan segera ia menghampirinya.
Lelaki itu menahan tubuh Nuwa sebelum jatuh menghantam lantai. "Viona, apa yang terjadi?" tanya Rey dengan panik. "Kenapa kau bisa sampai muntah darah?!" dia menatap Gadis itu dengan cemas.
Nuwa menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak tahu, sepertinya ini karena luka dalamku yang belum pulih sepenuhnya." jawab Nuwa sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Luka dalam?" Rey menatap gadis itu penasaran.
Nuwa menganggukkan kepala. "Ya. Satu bulan sebelum datang ke bumi, aku terlibat perkelahian sengit dengan salah satu wanita dari klan iblis. Kami berdua sama-sama terluka parah, dan pada saat itu aku nyaris saja kehilangan nyawa." Jelas Nuwa.
"Biar aku lihat lukanya!!" ucap Rey lalu membuka pakaian yang Nuwa pakai. Membuat gadis itu memekik keras.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan?!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1