
Saat kehidupan sudah di tentukan oleh takdir. Tak ada satupun mahluk yang hidup di dunia ini, baik itu manusia bumi maupun penghuni alam lain. Tak dapat mengelak dari runtutan takdir. Seperti layaknya hari ini. Waktu terus berlalu, di mulai dari sang matahari menampakan wajahnya. Hingga menggantung di tengah garis horizontal langit.
Sampai akhirnya senja tiba…..
Bias keindahan kuning ke-emasan di ufuk cakrawala. Senja sangat indah membuat setiap tatap mata terbius oleh parasnya, namun keindahannya tak abadi, perlahan tapi pasti keindahan itu akan hilang di telan waktu. Ya… saat sang mentari kembali ke pangkuan semesta. Melepaskan segala esensi cakrawala dalam jiwa. Hingga kegelapan abadi datang menyelimuti.
Dan di balik keindahannya itu, pasti terselip kisah yang menyayat hati.
Seorang gadis melangkah pelan, menghirup udara musim dingin yang beku. Dia berjalan sendirian. Hanya ditemani putihnya salju dan awan yang menggantung di atas sana. Langkahnya ringan dan tenang. Tubuhnya yang berbalut dress putih dan mantel hitam berenda, tampak mencolok di antara putihnya salju.
Rambut panjangnya dia biarkan tergerai bebas, dan jatuh di belakang punggungnya, yang langsung berkibar begitu angin musim dingin meniupnya. Sesekali dia mengusap lengannya yang tertutup kain mantelnya.
Gadis itu berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Beberapa kali dia berpapasan dengan pejalan kaki yang lain. Ada yang satu arah, ada pula yang berlawanan arah. Tak jarang pejalan lain berjalan mendahuluinya, sedangkan gadis itu berjalan dengan begitu santai.
Jalan yang dilalui Nuwa berubah. Jalan itu bukan lagi jalanan berpaping yang keras, melainkan tanah berumput yang membeku di bawah timbunan salju.
Hamparan putih salju menjadi pemandangan yang asing namun indah di mata Nuwa. Putih mendominasi, mengalahkan hijaunya dedaunan yang telah gugur di musim sebelumnya.
"Viona, tunggu!! Jangan cepat-cepat jalannya, Mama kesulitan mengejarmu."
Suara itu mengalihkan perhatiannya, Nuwa menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis kecil berlari dengan dikejar oleh wanita dewasa di belakangnya.
Awalnya Nuwa bersikap acuh, namun seluruh atensinya tertarik ketika sebuah motor melaju kencang kearah gadis kecil itu. Membuat sang Ibu berteriak histeris.
"VIONA, AWAS!!"
Tanpa mengulur banyak waktu, Nuwa segera menghentikan perputaran waktu. Dan waktu berhenti detik itu juga. Apapun yang ada di sekelilingnya seketika tak bergerak, termasuk orang-orangnya. Dan Nuwa tak mampu menahan keterkejutannya, melihat gadis kecil itu menjadi satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh kekuatannya.
Viona, nama gadis kecil itu. Dia menyapukan pandangannya, dan menatap orang-orang itu dengan bingung. Semua tiba-tiba terdiam layaknya sebuah patung yang tak bernyawa, termasuk ibunya.
Nuwa terkejut. Kemudian dia menghampiri suatu kecil itu. "Kakak, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba semua menjadi terdiam, dan hanya kita berdua yang bisa bergerak? Mamaku, apa yang terjadi padanya?" tanya gadis kecil itu meminta penjelasan.
Namun tak ada jawaban. Nuwa tak mengatakan apa-apa, untuk menjawab pertanyaan kades kecil itu. Dan hal itu membuat Viona semakin kebingungan dan juga ketakutan. Gadis kecil itu mulai menangis, dia menghampiri ibunya yang diam seperti patung.
"Mama, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau diam saja? Mama, bicaralah dan jawab aku!!" pinta Viona menangis.
__ADS_1
Meninggalkan Ibunya. Kembali Viona pada Nuwa. Dan detik itu pula Nuwa melihat sesuatu di leher gadis kecil itu. Pupil Nuwa membesar seketika. "Tanda ini?!" gumamnya berbisik.
Kemudian Nuwa meraih tangan gadis kecil itu dan meletakkan tangannya di atas tangan Viona. Dan di saat bersamaan, sebuah Cahaya menyilaukan juga muncul dari tanda di bahu kanan atas Nuwa. Mengetahui hal itu, membuat lengkungan indah terlukis di wajah cantik Sang Dewi. Dan Nuwa tak bisa menahan kebahagiaannya karena pada akhirnya bisa menemukan pemilik tanda itu.
"Akhirnya aku menemukanmu juga," ucap Nuwa sambil menyeka air matanya.
Dan tugasnya sekarang adalah melindungi gadis kecil ini. Nuwa sungguh tidak tau keistimewaan seperti apa yang dia miliki sampai-sampai dia harus dilindungi. "Kakak, aku ingin Mamaku. Aku belum siap kehilangannya," Viona kembali menangis.
"Kau tenang saja, aku pasti akan mengembalikan semuanya seperti semula. Termasuk Ibumu, kau tidak akan kehilangannya kok." Ucap Nuwa meyakinkan.
Tiba-tiba sebuah cahaya merah kehitaman mirip muncul dari belakang Nuwa. Dan seorang wanita keluar dari cahaya merah kehitaman tersebut. Bibir merahnya menyinggungkan seringai tipis, namun terlihat menyeramkan.
Wanita itu menghampiri Nuwa dan Viona yang tampak ketakutan. Kemudian gadis itu menarik Viona untuk bersembunyi dibalik punggungnya.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Karena berkat dirimu, aku tidak perlu susah-susah lagi mencarinya. Dengan menggunakan inti kekuatan dari pemilik keabadian, maka aku bisa membangkitkan kembali ragaku yang telah mati. Gadis kecil, kemarilah dan jadilah berguna untukku!!"
Wanita dalam balutan pakaian serba hitam itu mengulurkan tangannya pada Viona, dan meminta gadis kecil untuk mendekat padanya. Seringai menyeramkan yang terukir di bibir merahnya, membuat gadis kecil itu semakin ketakutan. Viona meremas pakaian yang Nuwa kenakan.
"Langkahi dulu mayatku, sebelum kau bisa menyentuhnya!!"
"Siapa kau sebenarnya, dan bagaimana mungkin pedang itu ada di tanganmu?!" tanya wanita itu.
"Tidak penting aku siapa!! Sebelum kau bisa menyentuhnya, sebaiknya langkahi dulu mayatku!!"
Kedua mata wanita itu sedikit membelalak saat menerima serangan tiba-tiba dari Nuwa. Ia pun mengeluarkan pedangnya, untuk menangkis pedang milik Sang Dewi.
Decitan suara dari dua mata pedang yang saling bersentuhan, memecah dalam heningnya suasana. Dengan gesit, kedua belah pihak menghindari serangan pedang yang diberikan oleh satu sama lain.
Keduanya menyeringai, pedang mereka kembali berayun, saling mencari titik lemah dan berusaha memenangkan pertarungan.
Wanita iblis itu melompat mundur, menjauhi sabetan pedang Nuwa. Nuwa mengayunkan pedangnya, pedang mereka pun beradu tertahan. Gerakan Nuwa membuat wanita itu sedikit kewalahan.
Wanita itu mencoba untu balas menyerang, mengayunkan pedang kearah Nuwa dan membuat sebuah luka gores di lengan kiri gadis itu. Bukannya merasa kesakitan, Nuwa malah terkekeh. Kembali ia mengayunkan pedangnya, menggores pipi wanita itu.
Keduanya lalu melompat mundur, kemudian bergerak dengan pedang terhunus. Merek sama-sama menggunakan kekuatan meringankan tubuh.
__ADS_1
Suara pedang beradu lagi. Wanita itu mengayunkan pedangnya, Nuwa menghindar dan menjadikan pedang miliknya sebagai tameng. Lagi dan lagi, wanita itu kembali mengayunkan pedangnya, menyerang Nuwa bertubi-tubi. Suara pedang beradu lagi berkali-kali. Namun Nuwa masih bisa mengatasinya.
Wanita itu kemudian berputar, lalu menjadikan pedangnya sebagai tameng untuk menahan serangan Sang Dewi. Membuat pedang mereka kembali beradu. Nuwa menyerang, mengayunkan pedangnya ke arah Wanita itu. Dia pun berusaha untuk menahan serangan Sang Dewi dan balas menyerangnya.
Nuwa tersenyum tipis, ternyata kemampuan wanita itu dalam bertarung tidaklah sehebat yang dia pikirkan. Keduanya berlari, saling menghindar dari ayunan pedang satu sama lain. Saling mengayunkan pedangnya, mencoba melukai.
"Sial!! Ternyata perempuan itu tidaklah selemah yang aku kira!!" ucapnya mengumpat.
Dan sementara itu, Viona dibuat terperangah dengan pertunjukan luar biasa yang ada di depan matanya. Sebuah pertunjukan yang hanya bisa dilihat dapatkan ketika melihat drama kolosal China, dimana para pemainnya saling beradu pedang dan memakai pakaian yang sangat indah 'Hanfu' pakaian China.
Namun hari ini, dengan mata kepalanya sendiri, Viona melihat semua itu di depan matanya. Dan yang ia lihat nyata, membuat gadis kecil itu penasaran dan bertanya-tanya.
"Aaahhh!!"
Tubuh wanita itu terhempas ke belakang. Saat sebuah cahaya merah kehitaman menghantam dada kirinya. Di saat bersamaan seorang laki-laki muncul di tengah pertarungan. Dan kedatangannya membuat Nuwa terkejut bukan main.
"Rey," gadis itu berteriak keras, menyerukan nama laki-laki itu.
Kemudian Rey berjalan menghampiri Nuwa. Memastikan jika tak ada luka yang didapatkan olehnya. "Apa kau terluka?" tanya Rey memastikan.
Nuwa menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja!!" jawabnya meyakinkan. Karena memang dia baik-baik saja, Nuwa mengatakan yang sebenarnya.
Wanita itu pun merasa tak terima karena Rey tiba-tiba muncul dan ikut campur. "YAKK!! BRENGSEKK, BERANI-BERANINYA KAU IKUT CAMPUR!!"
Degg...
Pupil Rey membesar, ketika mendengar suara yang familiar itu. Suara yang dulu selalu menghiasi hari-harinya. Namun ada perbedaan pada suara tersebut, dulu begitu lembut, namun ini tidak. Dengan kaku Rey menoleh pada asal suara, seketika tubuhnya membeku melihat sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya.
"Mama!!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1