
Rey tak mampu memalingkan pandangannya dari Nuwa. Dia sedang bersenandung lembut, memetik bunga-bunga sambil tersenyum manis. Rambut panjangnya dibiarkan terurai sampai mencapai pinggang.
Matanya yang indah menatap rumpun-rumpun bunga didepannya, memilih yang mana diantara bunga-bunga itu yang paling indah untuk dijadikan penghias kamarnya. Dia terlihat sangat anggun dan menawan. Kata. "cantik" bahkan tak cukup menggambarkannya.
Dengan rambut panjangnya yang terjuntai hingga menyentuh pinggulnya. Mata berwarna ungu cerah yang begitu menawan. Kulit putih dan sehalus porselen, belum lagi parasnya yang begitu elok. Dan dengan segala keindahan yang dimiliki gadis itu, Rey pun tak mampu menahan dirinya.
"Sampai kapan kau akan terus menatapnya?! Sepertinya menatap Viona menjadi hobi barumu," ucap Nenek Nero yang entah dari mana munculnya, tiba-tiba sudah ada di samping Rey.
Lelaki itu tak memberikan tanggapan apapun, dan hanya melihat sekilas ke arah neneknya. Rey tidak ingin dihujani berbagai pertanyaan oleh Neneknya. "Dia sangat cantik bukan,"
"Hn, lumayan."
"Lumayan?! Lumayan apanya, jelas-jelas Dia sangat cantik, dan kau malah bilang hanya lumayan?! Dasar kau ini, itulah keburukanmu. Kau tidak pernah mau berkata jujur, hati dan bibirmu selalu bertolak belakang!!" ujar Nenek Nero mengomeli cucunya habis-habisan.
Nenek Nero mengenal cucunya ini dengan sangat baik. Dia tahu jika Rey diam-diam telah jatuh hati pada Sang Dewi, tetapi dia tidak mau mengakui.
Dan apa yang Rey katakan selalu bertolak belakang dengan hatinya.
"Jangan pernah membohongi diri sendiri, Rey. Jangan sampai kau menyesal jika ada orang lain yang mendahuluimu. Dan coba tanyakan pada hati kecilmu, seperti apa yang saat ini kau rasakan padanya. Dan nenek yakin, sudah ada cinta yang tumbuh di hatimu untuknya!!"
"Kenapa nenek begitu percaya diri jika aku memiliki rasa padanya?!" rey menatap neneknya dengan datar.
Nenek Nero tersenyum. "Karena aku, Nenekmu. Orang yang paling mengerti dan memahami dirimu!! Kau boleh menyangkalnya, akan tetapi kau tidak bisa membohongi hati dan perasaanmu. Jika sebenarnya kau sudah jatuh cinta padanya. Bukan!! Lebih tepatnya Mencintainya, karena bagaimanapun juga, kalian berdua diciptakan untuk saling memiliki. Itulah takdir cinta kalian berdua,"
Kali ini Rey memilih diam dan tidak menanggapi ucapan neneknya. Lalu pandangannya bergulir pada Nuwa. "Ya, aku tau, Nek. Karena dia adalah cinta sejatiku. Dan kali ini tak akan kubiarkan siapa pun menghalangi cinta kami, bahkan itu Raja Dewa sekalipun!!" ujar Rey membatin.
Rey mengepalkan tangannya. Dikehidupan lalu, ia dan Nuwa terpisah karena kekejaman orang lain. Akan tetapi Rey tak akan membiarkan hal yang sama terulang kembali. Rey akan segan menghabisi orang-orang yang berani menghalangi cintanya dan Nuwa.
.
.
__ADS_1
"Habisi perempuan di foto ini. Ini bayaran kalian, setengahnya lagi aku berikan jika kalian sudah berhasil menyelesaikan tugas yang aku berikan!!"
Selena memberikan segepok uang pada beberapa pria yang merupakan anggota dunia bawah, mafia. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih, dan Selena menyewa mereka untuk menghabisi Nuwa.
Keberadaan gadis itu di kediaman Nero menjadi momok paling mengerikan dalam hidupnya. Apalagi posisinya Kini lebih tinggi darinya, Nuwa dan Rey setelah menikah dan statusnya sebagai Nyonya Muda.
"Anda, tenang saja , Nona. Urusan bunuh-membunuh bukanlah perkara sulit bagi kami. Kami akan menyelesaikan kurun waktu kurang dari 24 jam," ucap salah satu dari ketiga pria itu.
Salah satu dari mereka bertiga menatap foto itu dengan seksama. "Dia sangat cantik, tapi sayang sekali karena sebentar lagi harus menjadi mayatt." ucapnya menyayangkan.
"Bukankah kita bisa menggunakannya lebih dulu, sebelum menghabisinya?! Barang sebagus ini sangat disayangkan jika tidak digunakan terlebih dulu. Kita bisa memanfaatkannya," ucap pria lain sambil mengambil foto itu dari tangan temannya.
"Terserah apa yang mau kalian lakukan padanya, aku tidak peduli!! Aku hanya ingin sebuah hasil yang memuaskan," ucap Selena menengahi obrolan mereka bertiga.
Selena tidak mau tahu apapun yang akan mereka bertiga lakukan pada Nuwa. Yang dia inginkan adalah hasilnya. Karena tak boleh ada Nyonya lain di kediaman Nero selain dirinya.
.
.
Gadis itu sedang berteduh dibawah pohon sakura. Awalnya dia menyukai dan menikmati moment ketika bulir-bulir bening tanpa warna itu berjatuhan dari langit. Akan tetapi rasa sukanya itu seketika berubah menjadi tidak suka ketika hujan semakin deras.
Nuwa bingung bagaimana dia harus pulang jika sudah begini?! Menggunakan kekuatannya? Rasanya itu tidak mungkin, karena hal itu akan sangat merepotkan. Dia bisa mendarat di tempat yang kurang tepat seperti awal pertama datang ke bumi.
"Ehh," Nuwa kebingungan saat tiba-tiba tak ada tetesan air yang menyentuh kulitnya. Sontak ia menoleh kesamping kanannya. Matanya membulat. "K-k-kau?"
Nuwa menatap laki-laki di sampingnya, kaget karena muncul tiba-tiba dengan payungnya. Hujan turun semakin deras, namun kini sebuah payung berwarna putih transparan melindunginya dari tetesan hujan yang jatuh dari sela dedaunan, di bawah pohon tempat dia berteduh.
"Hn. Sebaiknya ikut pulang denganku, kecuali kau memang mau bermalam di sini," laki-laki itu menatap gadis di sampingnya sekilas, lalu kembali mengedarkan pandangannya ke arah kendaraan yang berlalu lalang.
Entah mengapa, laki-laki ini tidak tega membiarkan gadis ini sendiri di tengah langit yang menangis. "Ayo!" berbekal suara hati, laki-laki itu menggenggam tangan Nuwa dan menariknya, bermaksud untuk mengajaknya pulang.
__ADS_1
Nuwa memang tidak punya pilihan lain selain menurut. Hari semakin sore, dan langit sepertinya masih terbenam dalam tangisnya.
Keduanya berjalan beriringan, sesekali Nuwa menatap laki-laki yang berjalan disampingnya.
Laki-laki tampan berkulit putih itu mengarahkan payungnya ke arah Nuwa. Memastikan tak ada tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya satu inci pun. Tampak, sebagian Long Vest selutut yang dipakainya basah oleh guyuran hujan.
Nuwa masih menunduk dan terdiam. Bukannya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, tetapi suaranya tercekat di kerongkongan. Jantungnya serasa berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
Ada perasaan senang bercampur malu dan tidak percaya atas apa yang dia alami saat ini. Meski tinggal di satu atap yang sama dengan status sebagai suami-istri, akan tetapi mereka jarang sekali terlibat obrolan yang serius. Jika pandangan mereka tak sengaja bertemu, Nuwa-lah orang yang pertama kali memalingkan muka. Dan Rey, hanya terdiam dengan wajah stoic-nya.
Perlahan namun pasti, hujan berangsur reda. Kini, gerimis merayapi kota Seoul yang mereka diami. Dua insan yang berjalan di trotoar ini masih bergeming. Sesekali, Nuwa melirik laki-laki di sampingnya diam-diam, dan berakhir dengan semburat merah di pipinya.
Mereka terus melangkahkan kaki beriringan di tengah gerimis. Tangan Nuwa masih berada dalam genggaman tangan laki-laki di sampingnya. Hangat. Ketika mereka melalui sebuah jembatan bergaya Eropa yang melintang di sebuah sungai, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Begitu dengan Nuwa, dia menatapnya heran.
"Aku suka gerimis," akhirnya, laki-laki itu membuka suara setelah lama terdiam satu sama lain.
Seulas senyum terlukis dari bibirnya. Matanya memandang lurus ke depan. Tangan kanannya terulur ke samping, merasakan tetes demi tetes gerimis yang berjatuhan. Payung yang sedari tadi dia pertahankan untuk melindungi mereka berdua dari tetesan hujan, jatuh dan dia biarkan tergeletak di samping kakinya.
"Konon, gerimis itu adalah tanda seorang Iblis yang menangis karena kehilangan cintanya," ujar Rey kemudian.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Nuwa menatap Rey penasaran.
Rey mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau. Aku hanya pernah mendengarnya, jadi Jangan berpikir macam-macam!!" Dia menatap Nuwa dengan pandangan datar.
Gadis itu mendecih sebal. Kenapa Rey benar-benar menyebalkan, sesekali dia bersikap baik, tetapi berkali-kali dia bersikap menyebalkan dan Nuwa terkadang dibuat bingung olehnya. Rey seperti memiliki dua kepribadian, yang Nuwa sendiri tidak tau mana pribadi dia yang sebenarnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1